BursaEkonomi dan Bisnis

Pemerintah Siap Hadapi Krisis Pangan Akibat Bencana, Stok Beras di Aceh dan Sumatera Capai 154 Ribu Ton

×

Pemerintah Siap Hadapi Krisis Pangan Akibat Bencana, Stok Beras di Aceh dan Sumatera Capai 154 Ribu Ton

Sebarkan artikel ini
Beras
Berdasarkan data Per 11 Desember 2025, total stok beras di wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat—tiga provinsi yang baru-baru ini terdampak banjir bandang dan tanah longsor—mencapai 154.400 ton, atau lebih dari tiga kali lipat dari kebutuhan darurat saat ini.

Ringkasan Berita

  • Angka tersebut terdiri dari 97.200 ton di Aceh, 44.500 ton di Sumatra Utara, dan 12.600 ton di Sumatra Barat.
  • Optimisme ini didukung oleh data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Kerangka Sampel Area (KSA) Oktober …
  • “Insya Allah dalam 18 hari ke depan, atau sekitar tiga minggu dari hari ini, kita bisa mengumumkan bahwa Indonesia …

Topikseru.com – Pasca bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra, pemerintah Indonesia melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) menegaskan kesiapannya dengan stok cadangan beras pemerintah (CBP) yang melimpah dalam menghadapi potensi krisis pangan akibat.

Berdasarkan data Per 11 Desember 2025, total stok beras di wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat—tiga provinsi yang baru-baru ini terdampak banjir bandang dan tanah longsor—mencapai 154.400 ton, atau lebih dari tiga kali lipat dari kebutuhan darurat saat ini.

Angka tersebut terdiri dari 97.200 ton di Aceh, 44.500 ton di Sumatra Utara, dan 12.600 ton di Sumatra Barat.

Jumlah ini menjadi bagian dari stok nasional Bulog yang kini mencapai 3,7 juta ton, angka tertinggi sepanjang sejarah pengelolaan cadangan pangan nasional.

Kesiapan Logistik yang Lebih dari Cukup

Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa ketersediaan stok beras telah disiapkan jauh-jauh hari sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan terburuk.

“Yang terpenting adalah kita siapkan beras. Tiga kali lipat cadangan dari kebutuhan. Mana tahu tiba-tiba butuh,” ujar Amran dalam siaran pers yang diterima Sabtu (13/12).

Stok tersebut tidak hanya digunakan untuk keperluan darurat, tetapi juga untuk menopang program bantuan pangan reguler dan nonreguler.

Bantuan reguler mencakup penyaluran beras dan minyak goreng yang telah berjalan sejak sebelum bencana terjadi, sedangkan bantuan nonreguler difokuskan pada pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat yang terdampak langsung oleh bencana alam.

Swasembada Beras di Ambang Pintu

Dalam kesempatan yang sama, Amran mengungkapkan optimisme bahwa Indonesia berada di ambang pencapaian swasembada beras tanpa impor.

“Insya Allah dalam 18 hari ke depan, atau sekitar tiga minggu dari hari ini, kita bisa mengumumkan bahwa Indonesia swasembada beras,” tegasnya.

Optimisme ini didukung oleh data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Kerangka Sampel Area (KSA) Oktober 2025, yang memperkirakan produksi beras nasional sepanjang tahun 2025 mencapai 34,79 juta ton.

Angka ini jauh melampaui kebutuhan konsumsi nasional tahunan yang hanya sekitar 31,2 juta ton, sehingga menciptakan surplus sebesar 3,5 juta ton.

Baca Juga  Korban Meninggal Dunia Bencana Alam di Sumut Bertambah Jadi 366 Orang, Terbanyak di Tapanuli Tengah

Proyeksi Stok Nasional hingga Akhir 2025

Berdasarkan perhitungan Bapanas, stok beras nasional pada akhir 2025 diproyeksikan mencapai 12,5 juta ton.

Angka ini merupakan akumulasi dari stok carry over 2024 sebesar 8,4 juta ton, ditambah surplus produksi 2025 sebesar 3,5 juta ton, serta penambahan dari sumber lainnya.

Dengan stok sebesar itu, Indonesia memiliki ketahanan pangan beras yang cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga hampir lima bulan ke depan pada tahun 2026.

Lebih lanjut, Food and Agriculture Organization (FAO) dalam laporan Food Outlook edisi November 2025, memperkirakan produksi beras Indonesia periode 2025–2026 akan mencapai 36 juta ton.

Jika angka ini terealisasi, Indonesia akan menjadi produsen beras terbesar di kawasan Asia Tenggara, melampaui Vietnam (28,2 juta ton), Thailand (22,2 juta ton), Myanmar (16,7 juta ton), Filipina (12,5 juta ton), hingga Malaysia (1,5 juta ton).

Stok Gula Jelang Natal dan Tahun Baru Juga Aman

Selain beras, pemerintah juga memastikan ketersediaan komoditas pangan strategis lainnya, khususnya gula konsumsi, dalam menghadapi momen Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026.

Direktur Penganekaragaman Konsumsi Pangan Bapanas, Rinna Syawal, menegaskan bahwa pasokan gula nasional dalam posisi yang sangat aman.

“Berdasarkan proyeksi neraca pangan per 4 Desember 2025, kebutuhan nasional sepanjang tahun diperkirakan mencapai 2,8 juta ton, sementara pasokan tersedia mencapai 4,05 juta ton—terdiri dari stok awal 2025 sebesar 1,38 juta ton dan produksi dalam negeri 2,67 juta ton,” jelas Rinna.

Memasuki Desember 2025, ketersediaan gula konsumsi mencapai 1,67 juta ton, sementara kebutuhan bulanan rata-rata hanya sekitar 237 ribu ton. Artinya, akan tersisa surplus 1,43 juta ton yang akan menjadi stok awal yang kuat memasuki tahun 2026.

“Ini menunjukkan bahwa pasokan gula nasional berada pada level yang aman dan mampu menjaga stabilitas harga serta konsumsi masyarakat,” tambahnya.

Komitmen Menuju Swasembada Gula Kristal Putih

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto juga menargetkan pencapaian swasembada gula kristal putih (GKP) dalam waktu dekat.

Langkah ini sejalan dengan komitmen nasional untuk memperkuat kemandirian pangan, melindungi petani lokal, serta mengurangi ketergantungan pada impor komoditas strategis.

Dengan stok beras dan gula yang melimpah, Indonesia kini tidak hanya siap menghadapi tantangan pangan domestik, tetapi juga berpotensi menjadi poros ketahanan pangan regional.

Di tengah ancaman perubahan iklim, fluktuasi geopolitik global, dan ketidakpastian ekonomi, langkah antisipatif pemerintah ini menjadi bukti nyata bahwa kedaulatan pangan bukan sekadar retorika, melainkan realitas yang sedang dibangun.