Ringkasan Berita
- Hal ini karena adanya strategi investor untuk meminjam dana dari mata uang berbunga rendah seperti yen Jepang untuk d…
- Berdasarkan data yang RTI, IHSG ditutup turun 0,68% atau 19,149 poin ke level 8.618,195.
- Tercatat 411 saham turun, 252 saham naik, dan 138 saham stagnan.
Topikseru.com – Pada perdagangan Kamis (18/12/2025) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan mengikuti jejak bursa regional.
Berdasarkan data yang RTI, IHSG ditutup turun 0,68% atau 19,149 poin ke level 8.618,195. Tercatat 411 saham turun, 252 saham naik, dan 138 saham stagnan.
Menanggapi hal tersebut, Head of Research and Education Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan mengatakan pelemahan IHSG antara lain disebabkan oleh rupiah yang cenderung melemah selama beberapa hari terakhir, meskipun BI Rate dipertahankan tetap di level 4,75% pada Rapat Dewan Gubernur BI di Rabu (17/12).
Dia mengungkapkan rupiah berlanjut melemah di pasar spot pada level Rp 16.723 per dolar Amerika Serikat (AS), di tengah penguatan indeks dolar AS dan mata uang di Asia yang ditutup variatif.
Selain itu, meningkatnya ketidakpastian global serta minimnya sentimen positif baru yang kuat juga mendorong pelemahan indeks.
Sementara itu, Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai salah satu penyebab pelemahan IHSG dipicu oleh tekanan pada nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, serta aksi ambil untung pada saham-saham sektor energi dan infrastruktur.
Proyeksi IHSG
Valdy melihat secara teknikal terjadi pelebaran histogram negatif MACD dan Stochastic RSI kembali mengalami death cross mendekati area oversold. IHSG ditutup di bawah level MA5, namun masih bertahan di atas level MA20.
“Sehingga diperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan dan menguji level support di 8.550–8.600,” kata Valdy.
Dari sisi sentimen, investor akan menantikan hasil pertemuan Bank of Japan, yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 0,75%, yang merupakan level tertinggi dalam 30 tahun terakhir.
Jika perkiraan ini benar terjadi, ada potensi meningkatkan volatilitas saham dan mata uang di pasar global karena kemungkinan terjadinya pembalikan aliran dana investor di pasar global ke Jepang dalam jangka pendek.
Hal ini karena adanya strategi investor untuk meminjam dana dari mata uang berbunga rendah seperti yen Jepang untuk diinvestasikan ke mata uang yang menawarkan suku bunga lebih tinggi, atau dikenal dengan sebutan carry trade.
Kenaikan suku bunga Jepang berpotensi membuat investor yang melakukan carry trade tersebut menutup posisi pinjamannya sehingga akan meningkatkan volatilitas pasar global karena arus dana kembali ke Jepang.
“Namun diperkirakan dampak tersebut hanya jangka pendek,” tambah Valdy.
Untuk perdagangan Jumat (19/12/2025), Herditya memperkirakan IHSG masih berpotensi melanjutkan koreksi dengan level support di 8.588 dan resistance di 8.668.
“Pergerakan IHSG akan dipengaruhi oleh rilis data inflasi AS nanti malam dan juga akan adanya aksi profit taking jelang libur,” kata Herditya.
Dari sisi rekomendasi saham, Herditya menyarankan investor mencermati sejumlah saham, mulai dari PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan target harga Rp 5.200–Rp 5.325, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dengan target harga Rp 1.290–Rp 1.345, dan PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) pada rentang harga Rp 585–Rp 605.
Sementara itu, Valdy menjagokan sejumlah saham seperti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ), PT Mayora Indah Tbk (MYOR), dan PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL) untuk perdagangan Jumat (19/12).













