Ekonomi dan Bisnis

Harga Emas Spot Turun 2,15% Bertengger di Level US$ 4.788,79 Per Ons Troi

×

Harga Emas Spot Turun 2,15% Bertengger di Level US$ 4.788,79 Per Ons Troi

Sebarkan artikel ini
Harga Emas
Pada perdagangan awal pekan ini. Senin (2/2/2026) harga emas melanjutkan terkoreksi denga berada di US$ 4.788,79 per ons troi, turun 2,15% dari akhir pekan lalu yang ada di US$ 4.894,23 per ons troi.

Ringkasan Berita

  • Senin (2/2/2026) harga emas melanjutkan terkoreksi denga berada di US$ 4.788,79 per ons troi, turun 2,15% dari akhir …
  • Harga emas melanjutkan koreksi di awal pekan, memperpanjang penurunan terbesarnya dalam lebih dari satu dekade karena…
  • Harga emas global dalam beberapa hari terakhir bergerak melemah setelah sebelumnya mencatat reli cukup kuat.

Topikseru.com, Jakarta – Pada perdagangan awal pekan ini. Senin (2/2/2026) harga emas melanjutkan terkoreksi denga berada di US$ 4.788,79 per ons troi, turun 2,15% dari akhir pekan lalu yang ada di US$ 4.894,23 per ons troi.

Harga emas melanjutkan koreksi di awal pekan, memperpanjang penurunan terbesarnya dalam lebih dari satu dekade karena aksi jual yang terus berlanjut.

Pemicu aksi jual emas adalah sentimen dar Presiden AS Donald Trump yang akan mencalonkan Kevin Warsh untuk memimpin The Fed, yang mendorong penguatan dolar dan melemahkan sentimen di kalangan investor yang bertaruh pada kesediaan Trump untuk membiarkan mata uang melemah.

Para pedagang menganggap Warsh sebagai pejuang inflasi terkuat di antara kandidat final, mengingatkan ekspektasi kebijakan moneter yang akan mendukung dolar dan melemahkan harga emas yang diukur dengan dolar AS.

“Penurunan belum berakhir,”kata Robert Gottlieb, mantan pedagang logam mulia JPMorgan Chase & Co.

“Kita harus melihat apakah harga akan menemukan titik support. Intinya perdagangan terlalu ramai,” katanya.

Harga emas global dalam beberapa hari terakhir bergerak melemah setelah sebelumnya mencatat reli cukup kuat.

Meski demikian, pelaku industri menilai koreksi tersebut lebih bersifat teknikal dan belum mengubah prospek jangka menengah hingga panjang komoditas logam mulia tersebut.

Berdasarkan laporan terbaru Goldman Sachs, pelemahan harga emas dipicu volatilitas jangka pendek dan aksi ambil untung pasar.

Sementara itu, faktor penopang utama seperti permintaan bank sentral, fungsi lindung nilai terhadap risiko kebijakan global, serta minat investor institusional dinilai masih solid dan cenderung bertahan.

General Manager Corporate Communication Merdeka Copper Gold Tom Malik mengatakan, fluktuasi harga emas merupakan dinamika yang lazim terjadi dalam siklus komoditas.

Namun secara fundamental, emas masih memiliki daya tarik sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Menurut Tom, kondisi tersebut turut memberi implikasi positif bagi emiten tambang emas, termasuk PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS).

Ia menilai valuasi saham perseroan saat ini masih mencerminkan asumsi harga emas yang relatif konservatif dibandingkan realisasi harga pasar global.

“Secara fundamental, perusahaan berada pada fase penguatan, khususnya dengan rencana masuknya sejumlah proyek ke tahap produksi. Ini menjadi faktor penting yang menopang prospek jangka panjang,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (2/2).

Salah satu proyek yang menjadi sorotan adalah Proyek Emas Pani yang diproyeksikan mulai berproduksi dalam waktu dekat dengan target produksi awal lebih dari 90.000 ounce emas per tahun.

Selain itu, struktur biaya operasional yang kompetitif dinilai memberikan ruang ketahanan perusahaan dalam berbagai skenario pergerakan harga emas.

Di sisi lain, sensitivitas kinerja terhadap harga emas (leverage to gold price) juga masih besar, sehingga setiap perbaikan sentimen pasar berpotensi tercermin langsung pada kinerja keuangan dan pergerakan saham.

Dengan demikian, pelaku industri melihat pelemahan harga emas saat ini lebih sebagai penyesuaian jangka pendek ketimbang perubahan tren.

Prospek jangka panjang komoditas emas dinilai masih ditopang faktor permintaan global dan perannya sebagai instrumen lindung nilai, sementara emiten tambang yang tengah memasuki fase produksi dinilai memiliki fondasi fundamental yang relatif kuat.