Ekonomi dan Bisnis

Dolar AS Menguat Dipicu Potensi Meredanya Konflik Antara AS, Israel dan Iran

×

Dolar AS Menguat Dipicu Potensi Meredanya Konflik Antara AS, Israel dan Iran

Sebarkan artikel ini
Dolar AS
Dolar Amerika Serikat (AS) menguat seiring investor mencari kejelasan terkait potensi meredanya konflik antara AS, Israel, dan Iran, serta mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS.

Topikseru.com, Jakarta – Pada awal perdagangan Asia, Kamis (26/3/2026) Dolar Amerika Serikat (AS) menguat seiring investor mencari kejelasan terkait potensi meredanya konflik antara AS, Israel, dan Iran, serta mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS.

Berdasarkan data yang dilansir dari Reuters, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama, naik 0,5% menjadi 99,641, mencatat kenaikan harian terbesar dalam sepekan terakhir.

Terhadap yen Jepang, dolar AS relatif stabil di level 159,41 yen, mendekati posisi tertinggi sejak 2024.

Sementara itu, dolar Australia melemah 0,1% ke US$0,6943, dan dolar Selandia Baru bergerak datar di US$0,5806.

Ketidakpastian geopolitik masih menjadi faktor utama penggerak pasar. Menteri Luar Negeri Iran menyatakan, negaranya tengah meninjau proposal dari AS untuk mengakhiri konflik di kawasan Teluk, namun belum memiliki niat untuk melakukan negosiasi.

Analis dari Westpac menilai pergerakan pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan berita terkait geopolitik, khususnya apakah situasi akan benar-benar mereda atau justru memasuki fase konflik baru.

Di sisi lain, pelaku pasar mulai meragukan proyeksi inflasi sebelumnya setelah lonjakan harga energi akibat penutupan Selat Hormuz.

Baca Juga  Pengamat Mata Uang dan Komoditas: Rupiah Dapat Dipengaruhi Oleh Sentimen Kabar Pemerintah

Hal ini mendorong ekspektasi bahwa Federal Reserve kemungkinan akan menahan suku bunga sepanjang tahun ini.

Berdasarkan alat FedWatch milik CME Group, probabilitas bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Desember mencapai 70,6%, meningkat dari 60,2% sehari sebelumnya.

Terhadap yuan China, dolar AS relatif stabil di level 6,9026 yuan offshore.

Presiden AS Donald Trump dijadwalkan bertemu Presiden China Xi Jinping pada 14–15 Mei mendatang, dalam kunjungan pertamanya ke China dalam delapan tahun terakhir setelah sempat tertunda akibat konflik Iran.

Sementara itu, euro bergerak datar di US$1,1560 setelah melemah dalam dua hari terakhir.

Presiden European Central Bank, Christine Lagarde, membuka peluang kenaikan suku bunga jika konflik Timur Tengah mendorong inflasi di kawasan euro.

Poundsterling juga stabil di US$1,3365, setelah data menunjukkan inflasi konsumen Inggris bertahan di level 3,0% pada Februari, masih di atas target bank sentral.

Di pasar kripto, Bitcoin naik 0,4% ke US$71.247,25, sementara Ethereum menguat tipis 0,2% ke US$2.170,88.