Ekonomi dan Bisnis

Harga Minyak Mentah Kembali Menguat Dipicu Geopolitik Perang Iran vs AS

×

Harga Minyak Mentah Kembali Menguat Dipicu Geopolitik Perang Iran vs AS

Sebarkan artikel ini
Harga Minyak Mentah
harga minyak mentah kembali menguat dan mencatat kenaikan mingguan, seiring keraguan pelaku pasar terhadap peluang tercapainya gencatan senjata dalam konflik Iran yang telah berlangsung sekitar sebulan.

Topikseru.com, New York – Pada perdagangan Sabtu (28/3/2026) harga minyak mentah kembali menguat dan mencatat kenaikan mingguan, seiring keraguan pelaku pasar terhadap peluang tercapainya gencatan senjata dalam konflik Iran yang telah berlangsung sekitar sebulan.

Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran investor bahwa konflik akan berkepanjangan dan terus mengganggu pasokan energi global.

Harga minyak Brent melonjak 4,2% ke level US$ 112,57 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 5,5% menjadi US$99,64 per barel.

Sejak serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada 27 Februari, harga Brent telah melesat sekitar 53%, sedangkan WTI naik 45%. Secara mingguan, Brent menguat tipis sekitar 0,3% dan WTI naik lebih dari 1%.

Pelaku pasar cenderung berhati-hati menyikapi pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait negosiasi dengan Iran. Seorang pejabat Iran menyebut proposal AS yang disampaikan melalui Pakistan sebagai “tidak adil dan sepihak”.

Menanggapi hal tersebut, Analis StoneX, Alex Hodes, menilai fokus investor kini lebih tertuju pada durasi konflik ketimbang perkembangan berita jangka pendek.

Ia menegaskan, setiap potensi penutupan Selat Hormuz atau kerusakan infrastruktur energi akan mempertahankan premi risiko tinggi pada harga minyak.

Ketegangan meningkat setelah Trump memperpanjang tenggat bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Di saat yang sama, AS mengerahkan ribuan pasukan tambahan ke Timur Tengah dan mempertimbangkan opsi penggunaan pasukan darat untuk menguasai Pulau Kharg, salah satu pusat ekspor minyak utama Iran.

Baca Juga  Pasca Mati Syahid, Kabarnya Putra Khamenei, Mojtaba Khamenei Gantikan Pemimpin Tertinggi Iran

Konsultan perdagangan minyak Ritterbusch & Associates menilai pasar mulai kebal terhadap nada optimistis dari pernyataan Trump.

“Pasar minyak tampaknya tidak lagi terlalu merespons komentar damai, terutama dengan adanya rencana penambahan 10.000 pasukan ke wilayah tersebut,” tulisnya.

Konflik ini telah memangkas sekitar 11 juta barel per hari pasokan minyak global. Badan Energi Internasional (IEA) bahkan menyebut krisis ini lebih parah dibanding gabungan dua krisis minyak pada 1970-an.

Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan, pembatasan arus minyak melalui Selat Hormuz membuat lebih dari 10 juta barel per hari hilang dari pasar, sehingga memperketat pasokan global.

Sementara itu, analis Macquarie Group memperkirakan harga minyak bisa turun cepat jika konflik segera mereda, meski tetap berada di atas level sebelum perang.

Namun, jika konflik berlanjut hingga akhir Juni, harga minyak berpotensi melonjak hingga US$ 200 per barel.

Di sisi lain, risiko pasokan juga datang dari Rusia. Produsen minyak Rusia memperingatkan pembeli bahwa mereka dapat menetapkan force majeure atas pengiriman dari pelabuhan utama di Laut Baltik, menyusul serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia.