Topikseru.com, Jakarta – Pemerintah China menyatakan kesiapan menjadi pembeli utama (offtaker) komoditas durian Indonesia. Langkah ini dinilai membuka peluang besar bagi peningkatan ekspor sekaligus menjawab tantangan pemasaran hasil produksi di kawasan transmigrasi.
Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara mengungkapkan, komitmen tersebut diperoleh setelah pertemuan dengan Duta Besar China untuk Indonesia Wang Lutong di Jakarta, Senin.
“Selama ini persoalan utama di transmigrasi adalah ketika produksi meningkat, siapa yang menjadi offtaker. Pemerintah Tiongkok siap mengambil peran itu, salah satunya untuk komoditas durian,” ujar Iftitah.
Dimulai dari Durian Beku, Menuju Pasar Durian Segar
Kerja sama ekspor ini akan dimulai dari pengiriman durian dalam bentuk beku sebelum dikembangkan ke durian segar yang memiliki permintaan lebih tinggi di pasar China.
Menurut Iftitah, masyarakat China menunjukkan minat besar terhadap durian segar asal Indonesia. Hal ini menjadi peluang strategis untuk meningkatkan nilai tambah ekspor nasional.
“Ke depan, kita dorong ekspor durian segar karena itu yang paling diminati pasar Tiongkok,” katanya.
Potensi Besar dari Kawasan Transmigrasi
Indonesia memiliki potensi produksi durian yang sangat besar, termasuk dari kawasan transmigrasi seperti Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Wilayah tersebut disebut sebagai salah satu sentra durian terbesar, tidak hanya di Indonesia tetapi juga secara global.
Optimalisasi lahan dan tenaga kerja di kawasan transmigrasi menjadi kunci dalam memenuhi permintaan ekspor yang terus meningkat.
Pasar Kelapa China Capai Rp 110 Triliun per Tahun
Selain durian, kerja sama juga mencakup komoditas kelapa yang permintaannya di China sangat tinggi. Iftitah menyebut kebutuhan kelapa di negara tersebut mencapai sekitar Rp110 triliun per tahun atau setara 4 miliar butir.
Namun, produksi domestik China baru mampu memenuhi sekitar 1 miliar butir, sehingga terdapat kekurangan pasokan hingga 3 miliar butir.
“Ini peluang besar bagi Indonesia untuk masuk dan memenuhi gap tersebut, terutama dari kawasan transmigrasi yang memiliki sumber daya lahan dan tenaga kerja,” ujarnya.
Kerja sama dengan China ini diharapkan tidak hanya meningkatkan ekspor komoditas unggulan, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya di kawasan transmigrasi.
Dengan adanya kepastian pasar (offtaker), pemerintah optimistis produktivitas sektor pertanian akan meningkat secara berkelanjutan dan memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat.












