Bursa

Dolar AS Melemah, Rupiah Menguat: Sinyal The Fed Pangkas Suku Bunga?

×

Dolar AS Melemah, Rupiah Menguat: Sinyal The Fed Pangkas Suku Bunga?

Sebarkan artikel ini
RAPBN 2026
Ilustrasi - Pemerintah siapkan anggaran untuk dana desa dan Koperasi Merah Putih dalam RAPBN 2026

Ringkasan Berita

  • Pada pembukaan perdagangan Kamis pagi (7/8), rupiah tercatat menguat 44 poin atau 0,27 persen ke level Rp 16.318 per …
  • "Pernyataannya meningkatkan kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh The Fed dalam waktu dekat," ujar Josua di Jakarta…
  • Pernyataan Cook memperkuat spekulasi bahwa anggota FOMC (Federal Open Market Committee) mulai bersiap menyusun skenar…

Topikseru.com – Nilai tukar rupiah terus menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah berkembangnya sentimen global terkait kemungkinan pemangkasan suku bunga acuan oleh The Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.

Baca Juga  PMI Jasa AS Solid, Rupiah Kembali Tergelincir ke Level Rp16.320 per Dolar

Pada pembukaan perdagangan Kamis pagi (7/8), rupiah tercatat menguat 44 poin atau 0,27 persen ke level Rp 16.318 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp 16.362 per dolar AS.

Sinyal Pemangkasan Suku Bunga oleh The Fed

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa faktor utama di balik penguatan ini adalah pernyataan salah satu pejabat The Fed, Lisa Cook, yang menyebut bahwa laporan pekerjaan AS menunjukkan tanda-tanda yang mengkhawatirkan.

“Pernyataannya meningkatkan kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh The Fed dalam waktu dekat,” ujar Josua di Jakarta, Kamis.

Pernyataan Cook memperkuat spekulasi bahwa anggota FOMC (Federal Open Market Committee) mulai bersiap menyusun skenario penurunan suku bunga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi AS yang mulai melambat.

Sentimen ini memicu pelemahan dolar AS secara global, sekaligus meningkatkan daya tarik mata uang negara berkembang seperti rupiah.

Baca Juga  Nilai Tukar Rupiah Melemah Dihantam Ketegangan Timur Tengah: Harga Minyak dan Risiko Inflasi Jadi Ancaman

Faktor Politik Ikut Berperan

Di luar data ekonomi, dinamika politik AS juga ikut mewarnai pasar. Josua mengungkapkan bahwa saat ini pelaku pasar mengamati proses pencalonan pengganti Adrianna Kugler, anggota dewan gubernur Fed.

“Presiden AS Donald Trump mengatakan akan menunjuk calon pengganti Kugler akhir minggu ini, sekaligus telah mempersempit daftar calon pengganti Jerome Powell menjadi empat finalis,” jelas Josua.

Ketidakpastian arah kebijakan moneter AS ke depan membuat pelaku pasar global bersikap lebih hati-hati dan mulai beralih ke aset dalam negeri.

Permintaan Rupiah Meningkat di Tengah Ketidakpastian Kawasan

Selain pengaruh dari eksternal, Josua menyebut bahwa penguatan kurs rupiah juga didorong oleh meningkatnya permintaan terhadap rupiah di pasar domestik, terutama di tengah ketidakpastian kawasan Asia seperti gejolak pasar di China dan Jepang.

“Rupiah diperkirakan akan bergerak di kisaran Rp16.275 hingga Rp16.400 per dolar AS dalam jangka pendek,” ujarnya.

Peluang dan Risiko Ke Depan

Meski menunjukkan tren positif, penguatan rupiah dinilai masih rentan terhadap tekanan eksternal, terutama jika rilis data ekonomi AS mendatang menunjukkan pemulihan atau jika The Fed memilih untuk tetap menahan suku bunga.

Namun untuk sementara, pasar finansial Indonesia memetik angin segar dari kombinasi pelemahan dolar AS, harapan pelonggaran moneter global, serta pengelolaan fiskal dan moneter dalam negeri yang relatif stabil.