Bursa

IHSG Ditutup Melemah ke 6.989, Investor Waspadai Konflik AS-Iran dan Tekanan Defisit APBN

×

IHSG Ditutup Melemah ke 6.989, Investor Waspadai Konflik AS-Iran dan Tekanan Defisit APBN

Sebarkan artikel ini
IHSG melemah
Ilustrasi - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

Topikseru.com, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia ditutup di zona merah pada perdagangan Senin (6/4/2026), seiring meningkatnya kehati-hatian investor terhadap eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah serta tekanan dari dalam negeri.

IHSG melemah 37,35 poin atau 0,53 persen ke level 6.989,43. Sementara indeks saham unggulan LQ45 juga turun 6,82 poin atau 0,95 persen ke posisi 707,76.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mengatakan pergerakan bursa saham Asia cenderung campuran (mixed) karena pelaku pasar mencermati perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Baca Juga  Eskalasi Konflik Iran Dorong IHSG Tertekan pada Maret 2026

“Investor mulai bersikap hati-hati terhadap perkembangan di Timur Tengah,” ujarnya dalam riset harian.

Tekanan Global: Konflik dan Negosiasi Gencatan Senjata

Pasar global masih dibayangi ketegangan geopolitik. Meski demikian, terdapat secercah harapan setelah muncul laporan bahwa AS, Iran, dan sejumlah mediator regional tengah membahas kemungkinan gencatan senjata selama 45 hari.

Namun, ketidakpastian tetap tinggi setelah Presiden AS Donald Trump disebut menetapkan tenggat baru bagi Iran, disertai ancaman terhadap infrastruktur vital jika Selat Hormuz tidak kembali dibuka.

Situasi ini membuat investor cenderung menahan posisi dan mengurangi risiko di pasar saham.

Tekanan Domestik: Defisit APBN dan Lonjakan Belanja

Dari dalam negeri, sentimen negatif datang dari data fiskal. Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia pada kuartal I-2026 tercatat mencapai Rp240,1 triliun atau sekitar 0,93 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Belanja negara melonjak 31,3 persen secara tahunan menjadi Rp815 triliun, sementara pendapatan negara hanya tumbuh 10,5 persen menjadi Rp574,9 triliun.

Kenaikan belanja terutama berasal dari belanja pemerintah pusat yang naik signifikan 47,7 persen menjadi Rp 610,3 triliun. Sementara itu, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dan sektor kepabeanan mengalami penurunan.

Aksi Korporasi dan Sentimen Tambahan

Pelaku pasar juga mencermati langkah strategis sovereign wealth fund Danantara yang menandatangani kesepakatan akuisisi unit manajemen investasi milik bank-bank BUMN seperti Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, dan Bank Negara Indonesia, serta PT Permodalan Nasional Madani dengan nilai mencapai Rp2,7 triliun.

Meski berpotensi positif dalam jangka panjang, aksi ini masih menunggu persetujuan sehingga belum mampu mengangkat sentimen pasar secara signifikan.

Pergerakan Sektoral dan Saham

Berdasarkan indeks sektoral IDX-IC, hanya empat sektor yang mencatat penguatan, dipimpin sektor barang konsumen non-primer yang naik 2,25 persen.

Sebaliknya, tujuh sektor mengalami pelemahan, dengan sektor barang konsumen primer turun paling dalam sebesar 0,98 persen, diikuti transportasi & logistik serta teknologi.

Adapun saham-saham yang mencatatkan penguatan terbesar antara lain VOKS, ESIP, FORE, IFSH, dan POLA. Sementara saham yang tertekan paling dalam meliputi DEFI, ALKA, DATA, RLCO, dan SOTS.

Baca Juga  IHSG Melemah 49,529 Poin Bersandar di Level 8.568,669 Siang Ini

Aktivitas Perdagangan dan Bursa Asia

Sepanjang perdagangan, frekuensi transaksi mencapai 1,66 juta kali dengan total volume 29,21 miliar lembar saham senilai Rp 15,24 triliun. Sebanyak 255 saham menguat, 412 melemah, dan 151 stagnan.

Di kawasan Asia, pergerakan bursa juga bervariasi:

  • Indeks Nikkei naik 0,49 persen
  • Indeks Shanghai turun 1,00 persen
  • Indeks Hang Seng melemah 0,70 persen
  • Indeks Straits Times menguat 0,43 persen

Dengan kombinasi tekanan global dan domestik, pergerakan IHSG dalam jangka pendek diperkirakan masih akan fluktuatif. Investor disarankan mencermati perkembangan geopolitik serta kebijakan fiskal pemerintah sebagai faktor utama yang memengaruhi arah pasar.

Jika ketegangan global mereda dan stabilitas fiskal terjaga, IHSG berpotensi kembali menguat. Namun untuk saat ini, sentimen kehati-hatian masih mendominasi pasar.