Ekonomi dan Bisnis

Harga Minyak Mentah Brent Naik 1,3% Bersandar di Level US$ 94,25 per Barel

×

Harga Minyak Mentah Brent Naik 1,3% Bersandar di Level US$ 94,25 per Barel

Sebarkan artikel ini
Harga Minyak Mentah
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent ditutup naik US$ 1,16 atau 1,3% ke level US$ 94,25 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$ 0,76 atau 0,8% menjadi US$ 91,30 per barel.

Topikseru.com, Jakarta – Pada perdagangan Senin (8/6/2026) Harga Minyak Mentah ditutup menguat meskipun sempat memangkas kenaikan tajam.

Setelah Iran dan Israel menyatakan telah menghentikan serangan satu sama lain menyusul seruan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk meredakan konflik.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent ditutup naik US$ 1,16 atau 1,3% ke level US$ 94,25 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$ 0,76 atau 0,8% menjadi US$ 91,30 per barel.

Sebelumnya, kedua kontrak minyak tersebut sempat melonjak lebih dari 5% pada awal perdagangan setelah meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan energi global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Sejak konflik terbaru pecah lebih dari 100 hari lalu, harga Brent telah melonjak sekitar 31%, sedangkan WTI naik sekitar 37%.

Pada April lalu, Brent bahkan sempat menyentuh level di atas US$ 126 per barel.

Sentimen pasar sempat memanas setelah Israel melancarkan serangan terhadap fasilitas petrokimia di Iran barat daya yang diklaim digunakan untuk memproduksi rudal balistik.

Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan telah menyerang fasilitas serupa di Kota Haifa, Israel.

Aksi saling serang tersebut terjadi setelah Israel kembali menggempur wilayah Lebanon yang menjadi basis kelompok Hizbullah yang didukung Iran.

Teheran berulang kali menegaskan bahwa kesepakatan apa pun untuk mengakhiri konflik harus mencakup penghentian operasi militer Israel di Lebanon.

“Kontrak minyak mentah bergerak lebih tinggi dalam perdagangan yang masih sangat sensitif setelah Iran dan Israel saling meluncurkan serangan rudal selama akhir pekan,” kata Senior Vice President Trading BOK Financial, Dennis Kissler.

Presiden AS Donald Trump pada Senin meminta Iran dan Israel segera menghentikan aksi militer mereka.

Pernyataan tersebut membantu meredakan sebagian kekhawatiran pasar, meskipun risiko gangguan pasokan energi masih tetap tinggi.

Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan, investor masih mencermati potensi gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi jalur sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Duta Besar Iran untuk Rusia bahkan menyatakan bahwa Selat Hormuz tetap dibuka, tetapi dengan sejumlah persyaratan yang akan ditetapkan oleh Iran dan Oman, termasuk kemungkinan penerapan biaya transit.

Sementara itu, Komandan Pasukan Quds Iran, Esmail Qaani, menyebut akan dibentuk sabuk keamanan baru yang membentang dari Selat Hormuz hingga Selat Bab el-Mandeb di dekat Yaman, serta mencakup kawasan Teluk dan Laut Merah.

Analis SEB Research Erik Meyersson menilai, pasar saat ini berharap tercapai kesepakatan terbatas yang mampu mencegah gangguan lebih lanjut terhadap jalur energi global tanpa harus menyelesaikan seluruh akar konflik yang ada.

Di sisi lain, kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran mengumumkan larangan bagi kapal-kapal yang berafiliasi dengan Israel untuk melintasi Laut Merah.

Langkah tersebut menambah kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi energi dan perdagangan global.

Di tengah kekhawatiran pasokan, kelompok OPEC+ pada Minggu (7/6/2026) menyepakati kenaikan target produksi minyak untuk keempat kalinya dalam empat bulan terakhir.

Namun, sejumlah analis menilai keputusan tersebut tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap pasokan riil karena banyak negara anggota masih kesulitan memenuhi kuota produksinya.

Kondisi tersebut dipengaruhi oleh terganggunya jalur distribusi akibat konflik Timur Tengah, serta penurunan kapasitas produksi Rusia akibat serangan drone Ukraina terhadap infrastruktur energi negara tersebut.

epala Analisis Geopolitik Rystad Energy Jorge Leon menilai, dampak fisik dari keputusan OPEC+ terhadap pasar minyak saat ini sangat terbatas.

“Dalam kondisi pasar saat ini, dampak riil dari keputusan tersebut hampir mendekati nol,” ujarnya.

Sementara itu, Arab Saudi kembali memangkas harga jual resmi (official selling price/OSP) minyak mentah untuk pasar Asia pada Juli 2026, menandai penurunan harga untuk bulan kedua berturut-turut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *