Keuangan

Rupiah Melemah Jelang Pidato Powell, Pasar Waspadai Sikap Hawkish The Fed

×

Rupiah Melemah Jelang Pidato Powell, Pasar Waspadai Sikap Hawkish The Fed

Sebarkan artikel ini
Rupiah
Ilustrasi - Nilai tukar rupiah melemah hari ini, Selasa (19/8/2025)

Ringkasan Berita

  • Pada pembukaan perdagangan Selasa (19/8/2025), rupiah dibuka melemah 32,50 poin atau 0,20 persen menjadi Rp 16.230 pe…
  • Sentimen pasar kian tegang menjelang pidato Ketua The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell pada pertemuan Jackson …
  • Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah salah satunya dipengaruhi oleh anti…

Topikseru.comNilai tukar rupiah kembali tergelincir terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah kegelisahan pelaku pasar global. Sentimen pasar kian tegang menjelang pidato Ketua The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell pada pertemuan Jackson Hole pekan ini.

Pada pembukaan perdagangan Selasa (19/8/2025), rupiah dibuka melemah 32,50 poin atau 0,20 persen menjadi Rp 16.230 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp 16.198.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia akhir pekan lalu tercatat di Rp 16.162 per dolar AS.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah salah satunya dipengaruhi oleh antisipasi pasar atas kemungkinan nada hawkish Powell.

“Rupiah diperkirakan akan terus melemah terhadap dolar AS yang rebound karena pidato hawkish Powell, baik dalam risalah FOMC maupun di forum Jackson Hole,” ujarnya saat dihubungi, Selasa.

Bayangan Hawkish The Fed

Pidato Powell pada Simposium Jackson Hole (21–23 Agustus) akan menjadi sorotan utama. Pasar menunggu sinyal arah kebijakan suku bunga AS, di tengah probabilitas 83 persen bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga pada September, menurut FedWatch CME.

Baca Juga  Menkeu Purbaya: Rupiah Menguat Bukan karena Thomas Djiwandono, Tapi Efektivitas Kebijakan BI

Namun, sikap hawkish yang masih ditunjukkan The Fed membuat pelaku pasar memilih bertahan.

Faktor Geopolitik: Trump – Putin Gagal Capai Perdamaian

Sentimen global kian diperburuk oleh geopolitik. Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu pada 15 Agustus, namun gagal mencapai kesepakatan gencatan senjata di Ukraina.

Trump bahkan kembali melontarkan ancaman sanksi berat, termasuk tarif tinggi terhadap pembeli utama minyak Rusia seperti India dan China.

Kondisi ini menambah ketidakpastian pasokan energi dunia, terutama di Eropa dan sebagian Asia, yang masih bergantung pada minyak mentah Rusia.

Tekanan dari Asia: Ekonomi China Melambat

Di Asia, ekonomi China juga menunjukkan sinyal perlambatan. Data Biro Statistik Nasional (NBS) mencatat, produksi industri Juli hanya tumbuh 5,7 persen (yoy), terendah sejak November 2025, di bawah ekspektasi 6,8 persen. Aktivitas pabrik, investasi, hingga penjualan ritel, semua melemah.

Dari Dalam Negeri: ULN Indonesia Turun Tipis

Bank Indonesia (BI) melaporkan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Juni 2025 mencapai 433,3 miliar dolar AS atau Rp 6.976,1 triliun, menurun dibanding Mei sebesar Rp 7.100,28 triliun. Pertumbuhan ULN juga melambat menjadi 6,1 persen (yoy), dari sebelumnya 6,4 persen.

Gabungan faktor global dan domestik membuat rupiah sulit bangkit. Dari ancaman kebijakan moneter The Fed, konflik geopolitik, hingga perlambatan ekonomi Asia, semua menekan stabilitas mata uang Garuda.

“Selama dolar AS masih kuat dan risiko global meningkat, rupiah akan tetap di bawah tekanan,” ujar Lukman.