Ekonomi dan Bisnis

Nilai Tukar Rupiah Menguat 0,28% Berdiri di Level Rp18.137 per Dolar AS Siang Ini

×

Nilai Tukar Rupiah Menguat 0,28% Berdiri di Level Rp18.137 per Dolar AS Siang Ini

Sebarkan artikel ini

Analis Mata Uang: Nilai Tukar Rupiah Diperkirakan Bergerak Fluktuatif

Nilai Tukar Rupiah
Nilai tukar rupiah berada di level Rp 18.137 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat 0,28% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 18.188 per dolar AS.

Topikseru.com, Jakarta – Pada perdagangan Selasa (9/6/2026) siang. Pukul 12.02 WIB Nilai Tukar rupiah bertahan menguat di pasar spot.

Nilai Tukar Rupiah berada di level Rp 18.137 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat 0,28% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 18.188 per dolar AS.

Di Asia, mayoritas mata uang menguat terhadap dolar AS siang ini. Won Korea mencatat penguatan terbesar yakni 0,69%, disusul ringgit Malaysia yang menguat 0,28%.

Rupiah menguat 0,28%, peso Filipina menguat 0,16%, dolar Singapura menguat 0,13%.

Yuan China menguat 0,10%, rupee India menguat 0,08%, baht Thailand menguat 0,02% dan dolar Hong Kong menguat 0,02% terhadap dolar AS.

Sementara itu, yen Jepang dan dolar Taiwan melemah terhadap dolar AS siang ini dengan pelemahan masing-masing 0,03% dan 0,02%.

Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia ada di 99,90, turun dari sehari sebelumnya yang ada di 100,04.

Analis Mata Uang: Nilai Tukar Rupiah Diperkirakan Bergerak Fluktuatif

Analis mata uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu oleh kombinasi faktor eksternal, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).

Menurut Ibrahim, konflik di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah serangan yang melibatkan AS dan Iran, termasuk eskalasi di sekitar Selat Hormuz yang merupakan jalur penting perdagangan energi dunia.

Di saat yang sama, konflik antara Israel dengan Palestina dan Lebanon Selatan juga terus berlanjut.

Situasi tersebut meningkatkan ketidakpastian global dan mendorong investor memburu aset safe haven seperti dolar AS.

“Perkembangan geopolitik tersebut membuat dolar AS menguat dan Harga Minyak Mentah dunia ikut naik,” ujar Ibrahim.

Selain faktor geopolitik, sentimen negatif terhadap rupiah juga datang dari data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan.

Data nonfarm payrolls (NFP) AS pada Mei tercatat bertambah 172.000 tenaga kerja, jauh di atas proyeksi pasar yang memperkirakan kenaikan sekitar 88.000 tenaga kerja.

Data tersebut memperkuat keyakinan pasar bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama. Bahkan, pasar mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga tambahan pada tahun ini.

“Dengan kondisi pasar tenaga kerja yang masih kuat, kemungkinan kebijakan suku bunga rendah dalam waktu dekat menjadi semakin kecil,” kata Ibrahim.

Ia menambahkan, tingginya inflasi global juga membuat banyak bank sentral cenderung mempertahankan sikap moneter yang ketat, termasuk The Fed.

Di sisi lain, kenaikan harga minyak mentah dunia berpotensi meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk impor energi.

Kondisi ini dapat memberikan tekanan tambahan terhadap neraca transaksi berjalan Indonesia dan memperbesar risiko pelebaran defisit fiskal.

Menurut Ibrahim, sejumlah indikator domestik juga perlu dicermati, termasuk tren inflasi yang mulai meningkat serta surplus neraca perdagangan yang menunjukkan tanda-tanda penyempitan.

“Kemarin data inflasi Indonesia kembali meningkat. Pada Juni ini inflasi juga berpotensi naik. Neraca perdagangan masih surplus, tetapi surplusnya semakin menyempit,” jelasnya.

Untuk perdagangan hari ini, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih akan volatil dengan kecenderungan melemah.

“Rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dan berpotensi ditutup di kisaran Rp 18.030 hingga Rp 18.100 per dolar AS,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *