Ringkasan Berita
- Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Dito Ariotedjo memberikan nilai 8,5 untuk pelaksanaan PON 2024.
- Fitrah Al Najib menceritakan sebelumnya dia berniat menjadi volunter di Provinsi Aceh, tetapi karena keterbatasan inf…
- Kesuksesan gelaran olahraga nasional tak terlepas dari sumbangsih para volunter yang tersebar di setiap cabang olahra…
TOPIKSERU.COM, MEDAN – Pekan Olahraga Nasional (PON) Aceh – Sumut 2024 pada 9 September hingga 20 September 2024 berjalan lancar dan dinilai sukses. Kesuksesan gelaran olahraga nasional tak terlepas dari sumbangsih para volunter yang tersebar di setiap cabang olahraga (cabor).
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Dito Ariotedjo memberikan nilai 8,5 untuk pelaksanaan PON 2024.
Namun, penilaian tersebut kontroversial, mengingat selama pelaksanaan PON 2024 sejumlah kejadian meliputi perhelatan olahraga tingkat nasional itu. Mulai dari makanan, fasilitas dan yang terbaru pembayaran honor volunter.
Bahkan, meski PON 2024 telah berlalu hampir sebulan, tetapi pembayaran honor volunter belum juga tuntas.
Seperti yang dialami oleh Fitrah Al Najib, seorang volunter asal Provinsi Aceh yang bertugas pada cabang olahraga (cabor) Criket.
Dia mengatakan bahwa hingga saat ini belum menerima honor dari PB PON atas jasanya menjadi volunter di Sumatera Utara.
Fitrah Al Najib menceritakan sebelumnya dia berniat menjadi volunter di Provinsi Aceh, tetapi karena keterbatasan informasi akhirnya ditempatkan di Provinsi Sumatera Utara (Sumut).
Namun, setelah menyelesaikan tugas di PON pada cabor Criket, Najib yang berharap menerima honor dan kembali pulang ke Aceh, tak kunjung menerimanya.
“Saya sudah hampir satu bulan di sini (Medan) untuk nunggu honor. Sudah keterlaluan ini bang, rencana uang itu ingin saya berikan untuk keluarga, untuk anak istri,” kata Fitrah.
Fitrah mengaku awalnya dia bersama teman-temannya yang juga asal Aceh mendapat penugasan di Sumut, tetapi lantaran ketidakjelasan pengelolaan volunter oleh PB PON, sebagian teman-temannya memilih mundur.
Hingga pada akhirnya hanya Fitrah yang bertahan dan menjalankan tugas sebagai volunter.
Terpaksa Meminjam Uang
Fitrah mengatakan hampir sebulan berada di Kota Medan untuk menunggu honor atas pekerjaan yang telah diselesaikannya di PON 2024.
Dia mengatakan tetap bertahan di Kota Medan karena honor tersebut sangat penting bagi Fitrah. Sebab, saat berangkat ke Kota Medan, dia harus meminjam uang dari teman-temannya.
“Saya waktu itu selain mencari pengalaman juga cari penghasilan yang halal, makanya saya tetap bertahan. Saya malu untuk pulang karena saya ada pinjam uang ke beberapa teman. Kalau saya pulang dan tak bayar, saya malu bang,” ujar Fitrah.
Fitrah menceritakan lantaran honor yang sangat diharapkannya tak kunjung diberikan, dia harus memutar otak untuk membiayai hidup sehari-hari.
Dia mengatakan harus berjualan keliling sebagai penghasilan dan membiayai kebutuhan hidup selama berada di Kota Medan.
“Saya jualan barang-barang seperti jam tangan dan sepatu untuk makan sehari-hari. Ini bukan hanya saya saja mengalami (honor belum dibayar), banyak kawan–kawan juga yang menunggu honor ini, karena bagi kami itu sangat dibutuhkan,” pungkasnya.













