Daerah

Hari Tani Nasional 2025: Petani Karo Sampaikan Kritik Lewat Rengget di Medan

×

Hari Tani Nasional 2025: Petani Karo Sampaikan Kritik Lewat Rengget di Medan

Sebarkan artikel ini
Petani Karo
Kelompok Tani Lau Lepar Tengah (KTLLT) tengah melakukan aksi seni Rengget Karo di depan Kantor Gubernur Sumut, Rabu (24/9/2025). Foto: Topikseru.com/Agus Sinaga

Topikseru.com – Peani Karo melalui Kelompok Tani Lau Lepar Tengah (KTLLT) yang tergabung dalam Aliansi Pejuang Reforma Agraria (APARA) memilih menyalurkan kritik mereka kepada pemerintah melalui seni tradisi Rengget Karo, di depan Gedung Gubernur Sumut, Medan, Rabu (25/9/2025).

Rengget Karo sendiri adalah seni tradisi masyarakat Karo berupa hiasan nada pada musik atau suara yang kerap digunakan untuk mengungkapkan ratapan dan harapan dalam acara adat maupun sosial.

Petani Karo Lawan Dugaan Perampasan Tanah

Petani Karo

KTLLT berasal dari Desa Rambung Baru dan Desa Bingkawan, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deliserdang. Mereka tengah menghadapi konflik agraria dengan PT Nirvana Memorial Nusantara (MNM) yang dituding merampas tanah mereka.

Melalui aksi budaya ini, para petani menuntut agar Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mengusut tuntas dugaan mafia tanah serta membatalkan izin Hak Guna Bangunan (HGB) milik perusahaan tersebut.

Baca Juga  Hari Tani Nasional 2025: Wagub Sumut Lari Lewat Pintu Belakang Digeruduk Massa APARA

Di sela-sela tarian dan nyanyian berbahasa Karo, seorang pria menyampaikan orasi lantang.

“Kami kuliahkan anak-anak kami agar mendapatkan kehidupan yang layak. Tetapi kami orangtuanya mengalami intimidasi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk merampas hak-hak kami,” kata Bengkel Sinuhaji, petani asal Rambung Baru.

Budaya Jadi Medium Perlawanan

Dalam penampilan itu, sejumlah perempuan mengenakan busana adat Karo sambil menari dengan iringan ratapan Rengget.

Seni tradisi tersebut menjadi simbol harapan agar pemerintah lebih serius menyelesaikan konflik tanah yang membuat masyarakat dua desa resah.

“Mereka menuding ada pihak yang memulai permasalahan ini, sehingga masyarakat jadi korban,” ujar salah seorang orator.