Ringkasan Berita
- Kasus ini kembali memantik sorotan tajam terhadap program andalan Presiden Prabowo Subianto yang digadang sebagai sal…
- Berdasarkan data pihak sekolah, 46 siswa mengalami gejala keracunan berupa muntah, mual, sesak napas, hingga sakit ke…
- "Jumlah yang dirawat ada 46 siswa, ditambah seorang relawan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Topikseru.com – Puluhan siswa SMP Negeri 1 Lagobuti, Kabupaten Toba, Sumatera Utara, dilarikan ke rumah sakit usai diduga keracunan makanan bergizi gratis (MBG) yang dibagikan di sekolah, Rabu (15/10/2025). Kasus ini kembali memantik sorotan tajam terhadap program andalan Presiden Prabowo Subianto yang digadang sebagai salah satu misi besar Asta Cita.
Berdasarkan data pihak sekolah, 46 siswa mengalami gejala keracunan berupa muntah, mual, sesak napas, hingga sakit kepala. Dari jumlah tersebut, 16 siswa dirawat di RSU HKBP Balige, sementara 30 lainnya dirujuk ke RS Porsea.
Dinas Kesehatan Akui 47 Orang Jadi Korban
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Toba, Mangapul Pardede, membenarkan adanya kasus keracunan massal tersebut.
“Jumlah yang dirawat ada 46 siswa, ditambah seorang relawan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Jadi total keseluruhan 47 orang,” jelas Mangapul, Kamis (16/10/2025).
Dia menyebutkan ratusan siswa SMP Negeri 1 Lagobuti menerima paket menu MBG hari itu. Gejala yang muncul umumnya mual, muntah, sesak napas, dan sakit kepala.
Sampel makanan telah diambil oleh Loka POM Toba Samosir untuk dilakukan uji laboratorium.
“Kami belum bisa memastikan jenis makanan apa yang menyebabkan keracunan. Masih dalam penyelidikan,” tambahnya.
Siswa Sebut Makanan Tidak Segar
Salah seorang siswi, Daniella, mengaku mulai merasa sakit setelah menyantap paket MBG.
“Menu makanannya ikan, sayur, dan buah semangka. Tapi semangkanya sudah basi,” ujarnya.
Program Makan Bergizi Gratis Jadi Sorotan
Kasus ini menambah daftar panjang kejadian keracunan siswa akibat makanan bergizi gratis di berbagai daerah. Program yang seharusnya menjadi langkah strategis mewujudkan Indonesia Emas 2045 justru dinilai “terpeleset” dalam pelaksanaan.
Di mata publik, penyelenggara program MBG dianggap lebih sibuk mengejar target politik ketimbang memastikan kualitas makanan yang menyangkut keselamatan anak-anak.
Jika persoalan ini tidak segera dibenahi, program makan bergizi gratis (MBG) yang menjadi salah satu delapan misi Asta Cita Presiden Prabowo bisa kehilangan legitimasi.













