Ringkasan Berita
- Seorang warga Desa Sei Sembilang harus dipikul sejauh lima kilometer menuju rumah duka karena ambulans tak bisa melew…
- Jenazah pria bernama Syamajid (29) itu sebelumnya menjalani perawatan intensif di RSUP H.
- Adam Malik, Medan, sebelum akhirnya meninggal dunia.
Topikseru.com – Sebuah pemandangan yang miris sekaligus menyedihkan terjadi di Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Seorang warga Desa Sei Sembilang harus dipikul sejauh lima kilometer menuju rumah duka karena ambulans tak bisa melewati jalan berlumpur dan rusak parah.
Jenazah pria bernama Syamajid (29) itu sebelumnya menjalani perawatan intensif di RSUP H. Adam Malik, Medan, sebelum akhirnya meninggal dunia. Namun, perjalanan terakhirnya pulang ke kampung halaman justru menjadi kisah pilu yang viral di media sosial.
Warga bergotong royong memikul jenazah di tengah jalan yang lebih mirip kubangan lumpur daripada akses menuju pemukiman. Tak ada aspal, tak ada pengerasan, hanya lumpur dan lubang besar di sepanjang jalan.
“Indonesia sudah 80 tahun merdeka, tapi kami masih harus pikul jenazah karena ambulans enggak bisa lewat,” kata Azri, warga setempat dengan nada getir, Minggu (26/10/2025).
Menurut Azri, kondisi jalan di desanya sudah rusak puluhan tahun dan belum pernah tersentuh pembangunan berarti.
“Ini satu-satunya akses warga untuk beraktivitas. Mau ke pasar, ke sekolah, bahkan berobat pun susah. Bukan baru sekali jenazah harus dipikul, ini sudah sering terjadi,” tambahnya.
Masyarakat Sudah Lapor, Pemerintah Belum Dengar
Warga mengaku sudah berulang kali menyampaikan keluhan kepada pemerintah daerah, namun hasilnya nihil. Setiap kali musim hujan datang, jalan kembali berubah jadi lumpur dalam.
“Orang tua saya meninggal tahun lalu, juga dipikul. Kami cuma ingin pemerintah lihat kami manusia, bukan statistik,” ucap Azri dengan nada kesal.
Pemda Saling Lempar Wewenang
Menanggapi hal ini, Bupati Asahan Taufik Zainal Abidin Siregar mengatakan pihaknya belum bisa memperbaiki jalan tersebut karena harus berkoordinasi lebih dulu dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.
“Kami akan usulkan supaya diperbaiki jalannya. Karena itu wilayah pertanian, jadi akses memang penting,” katanya santai.
Namun jawaban itu tak banyak memberi harapan bagi warga. Mereka merasa terjebak dalam lingkaran koordinasi tanpa tindakan nyata.
Anggaran Triliunan, Tapi Jalan Masih Seperti Sawah
Padahal, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara melalui Dinas PUPR tengah menjalankan Program PHTC 2025, sebuah proyek pembangunan infrastruktur senilai Rp 1,28 triliun, yang digadang-gadang sebagai bagian dari visi “Kolaborasi Sumut Berkah” ala Gubernur Bobby Nasution.
Program ini juga disebut sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, yang menekankan pemerataan pembangunan hingga pelosok desa. Namun di lapangan, realitasnya jauh dari slogan.
Desa Sei Sembilang masih menunggu giliran merdeka dari lumpur.
Jalan ke Surga, Tapi Harus Lewat Lumpur Dulu
Kisah Syamajid bukan sekadar tentang akses jalan, melainkan tentang martabat manusia di ujung republik.
Di tempat lain, proyek infrastruktur besar dengan nilai triliunan rupiah sedang dikebut, sementara di Asahan, untuk mengantarkan jenazah pun, warga harus memikul sendiri.
Sebuah ironi di negeri yang katanya sudah “berdaulat dan maju.”













