Daerah

Banjir Bandang Terjang Desa Pekubuan Langkat, Warga Mengungsi di Aula Tanpa Dinding: “Kami Tidur Tanpa Alas”

×

Banjir Bandang Terjang Desa Pekubuan Langkat, Warga Mengungsi di Aula Tanpa Dinding: “Kami Tidur Tanpa Alas”

Sebarkan artikel ini
banjir bandang Langkat
Kondisi posko pengungsian warga Desa Pekubuan, Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Jumat (12/12/2025). Foto: Warga

Ringkasan Berita

  • Julia (60), salah satu pengungsi, menggambarkan detik-detik saat air bah menghantam desanya.
  • Bantuan Pemerintah Minim, Warga Mengandalkan Donasi Masyarakat Yatno (64), warga lain yang mengungsi, mengaku bantuan…
  • Banjir datang tiba-tiba pada dini hari dan memaksa warga menyelamatkan diri tanpa sempat membawa barang apa pun.

Topikseru.com – Warga Desa Pekubuan, Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, masih bertahan di posko pengungsian setelah banjir bandang menerjang permukiman mereka pada Jumat (12/12/2025). Banjir datang tiba-tiba pada dini hari dan memaksa warga menyelamatkan diri tanpa sempat membawa barang apa pun.

Julia (60), salah satu pengungsi, menggambarkan detik-detik saat air bah menghantam desanya.
“Air datang cepat sekali, jam 2 pagi kami numpang rumah tetangga. Paginya rumah tetangga juga kena banjir. Tak sempat selamatkan apa pun, cuma baju di badan,” ujarnya kepada topikseru.com.

Posko Pengungsian Minim Fasilitas: Tanpa Alas, Tanpa Selimut, Tanpa Dinding

Ratusan warga saat ini menempati aula sebuah madrasah yang tidak memiliki dinding. Kondisi posko disebut sangat memprihatinkan, terutama pada malam hari ketika hujan turun dan suhu udara menurun drastis.

“Sebelumnya tak ada listrik, air bersih, dan jaringan telekomunikasi. Baru hari ketiga ada yang meminjami genset,” kata Julia.

Dia berharap bantuan logistik dasar segera datang, terutama alas tidur dan selimut bagi balita, lansia, dan keluarga yang telah kehilangan tempat tinggal.

Baca Juga  Akses Rusak Parah, Korban Banjir Bandang Aceh Utara Tempuh Jalur Ekstrem hingga 3 Jam demi Mencapai Lokasi Bantuan

“Berharap sekali dapat tikar dan selimut. Di aula ini banyak balita, apalagi tempatnya terbuka tanpa dinding,” tambahnya.

Bantuan Pemerintah Minim, Warga Mengandalkan Donasi Masyarakat

Yatno (64), warga lain yang mengungsi, mengaku bantuan dari pemerintah masih sangat terbatas. Hingga kini, kebutuhan dasar warga banyak dipenuhi oleh lembaga filantropi, politisi lokal, dan masyarakat sipil.

“Bantuan dari pemerintah minim sampai ke sini. Warga mengandalkan belas kasih masyarakat yang peduli,” ujar Yatno.

Dia juga mengungkapkan berbagai keluhan kesehatan di posko, mulai dari demam, diare, hingga penyakit bawaan yang dialami para lansia. Menurutnya, ini merupakan banjir terburuk yang pernah dialami selama ia tinggal di Desa Pekubuan.

BMKG Ingatkan Potensi Siklon: Warga Diminta Tetap Mengungsi

Warga bertahan di posko karena adanya peringatan dari BMKG terkait bibit siklon tropis 91S dan 93S yang berlangsung pada 8 – 15 Desember 2025. Potensi hujan ekstrem dan banjir susulan membuat warga enggan kembali ke rumah.

“Kami bertahan karena ada imbauan banjir susulan. Di posko terbuka ini kami sangat butuh alas tidur dan selimut agar warga tidak kedinginan, terutama saat hujan,” tutup Yatno.

Hingga kini, warga Desa Pekubuan masih menunggu bantuan lebih besar, khususnya dari pemerintah daerah, untuk memenuhi kebutuhan dasar dan memulihkan keadaan pascabencana.