Lingkungan

Orangutan ‘Pesek’ di TNGL Langkat Melahirkan Anak Ketujuh, Bukti Sukses Rehabilitasi Satwa

×

Orangutan ‘Pesek’ di TNGL Langkat Melahirkan Anak Ketujuh, Bukti Sukses Rehabilitasi Satwa

Sebarkan artikel ini
orangutan Pesek
Pesek Orangutan Rehabilitasi kembali melahirkan anak ketujuh

Topikseru.com, Langkat – Kabar menggembirakan datang dari kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Kabupaten Langkat. Seekor Orangutan Sumatera (Pongo abelii) bernama Pesek dilaporkan kembali melahirkan anak ketujuhnya di habitat liar.

Informasi tersebut disampaikan oleh pejabat Balai Besar TNGL, Palber Turnip, yang menyebut laporan kelahiran berasal dari petugas Resor Bukit Lawang.

“Berdasarkan pemantauan awal, kondisi induk dan bayi dalam keadaan sehat,” ujar Palber, Kamis (26/3/2026).

Baca Juga  Bangkai Orangutan Tapanuli Ditemukan di Tapteng, WALHI Nilai Ekosistem Batang Toru Darurat Ekologis

Lahir di Alam Liar, Kondisi Bayi Masih Dipantau

Anak ketujuh Pesek diketahui lahir pada 24 Maret 2026. Hingga kini, bayi orangutan tersebut belum memiliki nama dan jenis kelaminnya masih dalam proses identifikasi oleh petugas lapangan.

Pemantauan terus dilakukan untuk memastikan keselamatan serta perkembangan bayi bersama induknya di habitat alami.

Perjalanan Pesek dari Rehabilitasi ke Alam Bebas

Pesek bukanlah orangutan liar biasa. Ia merupakan satwa hasil rehabilitasi yang kini sukses hidup mandiri di alam.

Pesek pertama kali masuk pusat rehabilitasi pada 1993 setelah diserahkan warga dari wilayah Binjai saat usianya sekitar lima tahun. Kini, usianya diperkirakan mencapai 38 tahun.

Sepanjang hidupnya, Pesek telah melahirkan tujuh anak, yakni:

  • April (1997)
  • Hirim (2001, meninggal 2002)
  • Alam (2004)
  • Wati (2006)
  • Valentino (2013)
  • Pandemik (2020)
  • Anak ketujuh (2026, belum dinamai)
Baca Juga  7 Surga Terakhir Satwa Liar di Sumatera Utara: Benteng Sunyi yang Menahan Kepunahan

Indikator Keberhasilan Konservasi

Balai Besar TNGL bersama Orangutan Information Centre (OIC) akan terus memantau perkembangan Pesek dan bayinya.

Menurut Palber, kelahiran ini menjadi indikator penting keberhasilan program rehabilitasi dan konservasi orangutan di Sumatera.

“Kelahiran dari induk rehabilitan yang mampu berkembang biak di alam liar merupakan bukti nyata keberhasilan upaya konservasi sekaligus perlindungan habitat,” ujarnya.