Edukasi

Apa Itu Tobrut? Waspadai Istilah Gaul yang Mengandung Seksisme Terselubung

×

Apa Itu Tobrut? Waspadai Istilah Gaul yang Mengandung Seksisme Terselubung

Sebarkan artikel ini
tobrut
Apa itu tobrut, ini penjelasannya

Topikseru.com – Istilah “tobrut” semakin ramai digunakan di berbagai platform digital, terutama di kalangan remaja dan pengguna media sosial aktif.

Kata ini terdengar seperti bagian dari lelucon ringan, namun menyimpan konotasi vulgar dan merendahkan.

Kali ini , kita akan membedah arti tobrut, sejarah bahasanya, dampaknya terhadap norma sosial, serta mengapa penting untuk menghindari penggunaan istilah ini dalam percakapan sehari-hari.

Apa Arti Tobrut Secara Harfiah dan Gaul?

Tobrut merupakan singkatan dari “Toket Brutal”, yaitu sebuah istilah dalam bahasa gaul yang tergolong vulgar dan tidak pantas jika digunakan dalam komunikasi sehari-hari, terutama di ruang publik atau profesional.

Secara harfiah, istilah ini mengacu pada bentuk fisik payudara perempuan yang dianggap besar, mencolok, atau “menonjol secara ekstrem”.

Pemilihan kata “brutal” dalam frasa ini juga tidak sembarangan, karena menyiratkan kesan berlebihan, agresif, atau bahkan ‘liar’ dalam penilaian terhadap tubuh seseorang.

Di banyak percakapan informal, istilah ini sering digunakan oleh sebagian kalangan—terutama remaja laki-laki atau komunitas online tertentu—dengan tujuan melucu, mengejek, atau menggoda secara seksual.

Bentuk penggunaan ini biasanya hadir dalam komentar media sosial, meme, atau candaan spontan yang terdengar “ringan”, namun sebenarnya sangat problematis.

Hal yang menjadi masalah besar adalah bahwa istilah seperti ini sering dipakai tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain, terutama perempuan yang menjadi subjek dari istilah tersebut.

Lebih lanjut, penggunaan istilah “tobrut” mencerminkan bentuk objektifikasi tubuh perempuan.

Objektifikasi adalah ketika seseorang—dalam hal ini perempuan—dilihat bukan sebagai individu yang utuh, melainkan hanya sebagai objek visual atau seksual yang dinilai dari bagian tubuh tertentu saja.

Dalam kasus tobrut, fokusnya adalah pada payudara, yang kemudian dijadikan tolok ukur daya tarik, nilai sosial, bahkan sumber hiburan semata.

Akibatnya, istilah seperti ini bukan hanya memperkuat stereotip seksis yang sudah ada, tetapi juga membentuk pola pikir masyarakat bahwa tubuh perempuan layak dijadikan bahan lelucon, ejekan, atau bahkan komentar publik.

Ini tentu berbahaya, karena bisa memengaruhi cara laki-laki memperlakukan perempuan, cara perempuan melihat dirinya sendiri, dan pada akhirnya menormalisasi pelecehan verbal dalam ruang digital maupun nyata.

Dengan kata lain, meskipun istilah tobrut sering dianggap sebagai bagian dari bahasa gaul yang lucu atau ‘gaul banget’, kita tidak boleh mengabaikan fakta bahwa penggunaannya menyalahi norma etika, gender, dan komunikasi yang sehat.

Kita harus mulai menyadari bahwa candaan yang bersifat seksual dan merendahkan seperti ini bukan hanya tidak pantas, tapi juga memupuk budaya seksisme dan ketidaksetaraan gender di masyarakat.

Asal Usul dan Etimologi Kata Tobrut

1. Proses Pembentukan Kata

Bahasa gaul di Indonesia sering membentuk kata-kata baru melalui proses modifikasi fonetik. Dalam kasus “tobrut”:

  • Toket: Merupakan bentuk slang dari “tetek”, yaitu kata tidak formal untuk menyebut payudara. Kata ini muncul dari fenomena bahasa prokem, yang mengubah atau menambahkan fonem untuk menciptakan kesan gaul atau lucu.

  • Brutal: Kata ini berasal dari bahasa Latin “brutus” yang berarti bodoh atau kasar. Dalam bahasa Indonesia modern, “brutal” berarti kasar, keras, atau berlebihan.

Kombinasi keduanya menciptakan istilah “toket brutal”, yang kemudian dipendekkan menjadi “tobrut”.

Mengapa Tobrut Dianggap Sebagai Bentuk Pelecehan Verbal?

1. Objektifikasi Tubuh Perempuan

Penggunaan kata ini secara langsung menunjuk pada bagian tubuh perempuan dan menilai nilai seseorang hanya berdasarkan bentuk fisiknya. Hal ini adalah bentuk objektifikasi, yaitu ketika seseorang dipandang bukan sebagai manusia utuh, tetapi semata-mata dari aspek tubuhnya.

2. Merendahkan Martabat Individu

Kata-kata vulgar seperti tobrut memperkuat budaya seksisme, di mana perempuan sering kali menjadi objek seksual dalam perbincangan sehari-hari. Hal ini tidak hanya menciptakan lingkungan yang tidak aman, tapi juga memperkuat stereotip negatif terhadap perempuan.

3. Tidak Sesuai dengan Prinsip Body Positivity

Di era modern, kampanye seperti body positivity dan kesetaraan gender terus digalakkan. Penggunaan kata seperti “tobrut” justru bertentangan dengan nilai-nilai ini karena menciptakan standar kecantikan yang berbahaya dan diskriminatif.

Fenomena Viral: Bagaimana Tobrut Menyebar di Media Sosial

Istilah tobrut menjadi viral karena peran besar media sosial seperti TikTok, Twitter, dan Instagram. Banyak pengguna menggunakan istilah ini dalam:

  • Caption lucu dan meme

  • Komentar spontan pada konten perempuan

  • Candaan dalam video reaction atau live stream

Sayangnya, banyak dari pengguna ini tidak menyadari dampak psikologis dari penggunaan istilah ini terhadap orang lain.

Dampak Psikologis dan Sosial Penggunaan Istilah Vulgar

1. Menurunkan Kepercayaan Diri

Banyak perempuan yang menjadi target istilah ini merasa tidak nyaman, malu, atau bahkan terganggu secara psikologis. Ketika tubuh mereka dibahas dan dijadikan bahan candaan, rasa percaya diri dapat menurun drastis.

2. Normalisasi Pelecehan Verbal

Penggunaan kata-kata seperti tobrut dalam konteks candaan berisiko menormalisasi bentuk pelecehan verbal. Ini menciptakan ruang yang menganggap bahwa “meledek tubuh” adalah hal biasa.

3. Menyuburkan Budaya Patriarki

Bahasa adalah alat sosial yang kuat. Ketika istilah seksis seperti “tobrut” menjadi tren, hal ini semakin mengakar budaya patriarki dan membatasi ruang aman bagi perempuan di ranah publik dan digital.

Etika Berbahasa: Kapan Sebaiknya Menghindari Istilah Tobrut?

Penggunaan kata ini sebaiknya dihindari sepenuhnya, terlebih dalam situasi berikut:

  • Percakapan publik atau formal: Seperti di tempat kerja, ruang kelas, atau pertemuan resmi.

  • Berinteraksi dengan orang yang belum dikenal dekat: Bisa dianggap kasar dan tidak sopan.

  • Ruang digital yang menjunjung etika: Komunitas online seperti forum pendidikan, komunitas feminis, atau ruang diskusi profesional.

Sebaliknya, mari kita membangun budaya berbahasa yang positif, sopan, dan penuh rasa hormat.

Kata-Kata Gaul Lain yang Perlu Diwaspadai

Selain tobrut, beberapa kata gaul lain juga kerap digunakan dengan sembarangan dan berpotensi melecehkan, seperti:

  • “Sange” – Mengandung makna seksual yang eksplisit.

  • “Benjol” – Biasanya digunakan untuk merujuk pada organ tubuh tertentu.

  • “Crot” – Digunakan dalam konteks seksual eksplisit.

  • “Tetek gede” – Frasa vulgar lain yang mirip dengan tobrut.

Penggunaan istilah-istilah ini harus dikritisi agar tidak semakin memperkuat budaya vulgarisasi tubuh di kalangan masyarakat muda.

Bahaya Menormalisasi Bahasa Seksual dalam Budaya Gaul

Menganggap istilah seperti tobrut sebagai sekadar lelucon atau candaan tanpa konsekuensi justru memperparah lingkungan sosial kita. Budaya bahasa mencerminkan pola pikir masyarakat. Bila istilah merendahkan terus digunakan, maka pelecehan akan terus dianggap normal.

Sebaliknya, mari kita mulai mendorong penggunaan bahasa yang membangun:

  • Menghargai orang lain tanpa melihat fisik

  • Meningkatkan literasi digital dan etika berkomunikasi

  • Menumbuhkan empati dalam interaksi sehari-hari

Bijak dalam Berbahasa adalah Kunci Kehidupan Sosial yang Sehat

Dalam menghadapi era digital yang penuh dengan ekspresi bebas, kita tetap harus bertanggung jawab terhadap kata-kata yang kita pilih. Istilah seperti tobrut mungkin terasa lucu bagi sebagian orang, tetapi memiliki potensi besar untuk menyakiti, melecehkan, dan membentuk budaya seksisme.

Tobrut artinya bukan sekadar slang lucu, tapi cerminan dari bagaimana budaya memperlakukan perempuan. Oleh karena itu, mari bersama-sama memilih kata yang lebih manusiawi, sopan, dan penuh empati.

Jika Anda ingin ruang digital yang aman, produktif, dan saling menghormati, hindarilah penggunaan istilah vulgar seperti tobrut. (*)