Edukasi

Naskah Khutbah Jumat, 30 Januari 2026: Saling Memaafkan, Bekal Batin Menyambut Ramadhan

×

Naskah Khutbah Jumat, 30 Januari 2026: Saling Memaafkan, Bekal Batin Menyambut Ramadhan

Sebarkan artikel ini
Naskah Khutbah Jumat
Naskah Khutbah Jumat, 30 Januari 2026: Saling Memaafkan, Bekal Batin Menyambut Ramadhan

Ringkasan Berita

  • Karena itu, Islam mengajak manusia untuk senantiasa membersihkan jiwa dan raganya dengan cara saling memaafkan, terle…
  • الْحَمْدُ لِلهِ وَاسِعِ الْفَضْلِ وَالْاِحْسَانِ، وَمُضَاعِفِ…
  • Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, allahumma shalli wa sallim …

Topikseru.com – Naskah Khutbah Jumat, 30 Januari 2026: Saling Memaafkan, Bekal Batin Menyambut Ramadhan di mana dalam dinamika kehidupan sehari-hari, manusia tidak bisa lepas dari salah dan khilaf, seperti kata-kata yang tidak disengaja hingga melukai orang lain, atau sikap yang mengecewakan yang membuat sesama tidak nyaman dan lainnya.

Karena itu, Islam mengajak manusia untuk senantiasa membersihkan jiwa dan raganya dengan cara saling memaafkan, terlebih ketika Ramadhan sebentar lagi akan datang.

الْحَمْدُ لِلهِ وَاسِعِ الْفَضْلِ وَالْاِحْسَانِ، وَمُضَاعِفِ الْحَسَنَاتِ لِذَوِي الْاِيْمَانِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ دَائِمُ الْمُلْكِ وَالسُّلْطَانِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَخِيْرَتُهُ مِنْ نَوْعِ الْاِنْسَانِ، نَبِيٌّ رَفَعَ اللهُ بِهِ الْحَقَّ حَتَّى اتَّضَحَ وَاسْتَبَانَ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالْاِحْسَانِ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ الْمَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Mari kita awali khutbah Jumat ini dengan kalimat syukur alhamdulillahi rabbil alamin, atas limpahan rahmat dan karunia yang telah Allah berikan kepada kita semua.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, allahumma shalli wa sallim ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala alih wa sahbih.

Selanjutnya, sebagai khatib dalam pelaksanaan shalat Jumat ini, perkenankan kami untuk menyampaikan wasiat takwa yang telah menjadi amanah bagi kami.

Marilah kita senantiasa berusaha meningkatkan kualitas takwa kepada Allah SWT dalam setiap fase kehidupan yang kita jalani. Takwa tidak hanya tentang kesungguhan dalam ibadah semata, tetapi juga komitmen untuk menjaga sikap dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab, esensi dari takwa sejatinya akan tampak ketika nilai-nilai ibadah juga tampak dalam perilaku dan hubungan sosial kita. Ia akan tercermin dari kejujuran dalam berkata, jujur dalam bergaul, serta hati-hati dalam memperlakukan sesama.

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah, Tidak terasa hari-hari berlalu begitu cepat. Dan sebentar lagi kita akan memasuki bulan suci Ramadhan, bulan yang penuh berkah dan ampunan, di mana pintu-pintu surga dibuka lebar-lebar, dan pintu-pintu neraka ditutup rapat-rapat.

Sebagai seorang muslim yang merindukan ampunan Allah, tentu kita sangat menantikan kedatangan bulan mulia ini. Namun sebelum kita memasuki bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, ada satu hal penting yang perlu kita lakukan, yaitu membersihkan hati dari segala penyakit yang tercela.

Karena hati yang bersih akan memudahkan kita untuk khusyuk dalam beribadah, ikhlas dalam beramal, dan tulus dalam berbuat kebaikan. Salah satu cara untuk membersihkan hati adalah dengan saling memaafkan kesalahan satu sama lain.

Berkaitan dengan hal ini, Allah memberikan kabar gembira bagi hamba-hamba-Nya yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain, berupa jaminan surga yang luasnya seperti langit dan bumi. Mereka bukan hanya dicintai oleh Allah, tetapi juga dijanjikan tempat yang mulia di surga-Nya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Artinya, “Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,” (QS. Ali ‘Imran: 133).

Ayat ini kemudian diperjelas oleh Allah SWT pada lanjutan ayat berikutnya, bahwa salah satu dari orang-orang bertakwa yang dijanjikan surga seluas langit dan bumi ini adalah mereka yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan sesama manusia. Allah berfirman:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Artinya, “(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan,” (QS. Ali ‘Imran: 134).

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Dalam ayat tersebut, Allah menggunakan kata “al-‘afina anin nas” yang berarti “orang-orang yang memaafkan kesalahan orang lain”.

Maksudnya adalah, mereka adalah orang-orang yang senantiasa memberikan maaf kepada siapa saja yang berbuat salah kepadanya, padahal mereka memiliki kemampuan untuk membalas perbuatan tersebut.

Baca Juga  Naskah Khutbah Jumat 1 Agustus 2025: Perhatian Islam Terhadap Kesehatan Badan

Dan memaafkan dalam konteks ini adalah tindakan yang lebih tinggi nilainya daripada sekadar menahan amarah. Seseorang bisa saja mampu menahan amarahnya, namun di dalam hatinya masih tersimpan rasa benci dan dendam.

Namun orang yang benar-benar memaafkan, ia tidak hanya menahan amarahnya, tetapi juga membersihkan hatinya dari segala bentuk kebencian dan dendam. Memaafkan adalah cerminan dari keluasan akal, kejernihan pikiran, dan kematangan kepribadian seseorang.

Ia adalah bukti bahwa orang tersebut mampu mengendalikan dirinya, mengalahkan egonya, dan mengutamakan kedamaian daripada pembalasan. Hal itu sebagaimana penjelasan Syekh Wahbah bin Musthafa az-Zuhaili dalam kitab Tafsir al-Munir fil Aqidah was Syariah wal Manhaj, jilid IV, halaman 88:

وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ أَيِ الَّذِينَ يَتَسَامَحُونَ وَيَعْفُونَ عَمَّنْ أَسَاءَ إِلَيْهِمْ مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَى رَدِّ الِاعْتِدَاءِ، وَتِلْكَ مَنْزِلَةُ ضَبْطِ النَّفْسِ الَّتِي تَدُلُّ عَلَى سِعَةِ الْعَقْلِ وَرَجَاحَةِ الْفِكْرِ وَقُوَّةِ الْإِرَادَةِ وَمَتَانَةِ الشَّخْصِيَّةِ، وَهِيَ أَرْقَى مِنْ كَظْمِ الْغَيْظِ، إِذْ رُبَّمَا كَظَمَ الْمَرْءُ غَيْظَهُ عَلَى الْحِقْدِ وَالضَّغِينَةِ

Artinya, “Dan orang-orang yang memaafkan kesalahan orang lain, yaitu mereka yang bersikap lapang dan memberi maaf kepada orang yang berbuat buruk kepada mereka, padahal mereka mampu membalas perlakuan tersebut. Itulah derajat pengendalian diri yang menunjukkan keluasan akal, kejernihan pikiran, kekuatan kehendak, dan keteguhan kepribadian. Derajat ini lebih tinggi daripada sekadar menahan amarah, karena bisa jadi seseorang menahan marahnya, tetapi masih menyimpan rasa dendam dan kebencian.”

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Oleh sebab itu, mari kita jadikan momentum menjelang Ramadhan ini sebagai kesempatan untuk saling bermaaf-maafan, dan membersihkan hati dari segala noda dan dosa, agar kita dapat memasuki bulan suci ini dengan hati yang bersih, jiwa yang lapang, dan pikiran yang jernih.

Dengan demikian, InsyaAllah, kita akan mampu meraih keberkahan dan ampunan dari Allah, serta menjadi hamba-hamba-Nya yang muttaqin, dan berhak mendapatkan surga-Nya yang luasnya seluas langit dan bumi.

Demikian khutbah Jumat tentang pentingnya saling memaafkan sebagai persiapan menyambut Ramadhan.

Semoga khutbah ini dapat membuka hati kita untuk saling memaafkan, membersihkan diri dari segala kebencian dan dendam, serta mempersiapkan diri menyambut bulan suci Ramadhan dengan hati yang bersih dan jiwa yang lapang.

Dan mudah-mudahan Allah SWT menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan memberikan kita kekuatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Semoga khutbah ini membawa keberkahan dan manfaat bagi kita semua. Amin ya rabbal alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيما اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur.