Edukasi

Psikolog Sampaikan Tip Bagi Orang Tua Lindungi Anak dari Pelecehan Seksual

×

Psikolog Sampaikan Tip Bagi Orang Tua Lindungi Anak dari Pelecehan Seksual

Sebarkan artikel ini
Anak yatim
Ilustrasi - Seorang bocah anak yatim berusia 13 tahun menjadi korban kekerasan seksual.Foto Ilustrasi: Antara

Ringkasan Berita

  • Selain memastikan tumbuh kembangnya, orang tua juga harus menjaganya dari hal-hal berbahaya, termasuk pelecehan seksual.
  • Novi Poespita mengatakan anak memiliki kecenderungan belajar dari orang desa di sekitarnya.
  • Jumlah kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia masih tinggi.

TOPIKSERU.COMAnak adalah anugerah dari Tuhan kepada orang tua untuk menjaga dan merawatnya. Selain memastikan tumbuh kembangnya, orang tua juga harus menjaganya dari hal-hal berbahaya, termasuk pelecehan seksual.

Jumlah kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia masih tinggi. Berbagai jenis kekerasan kerap mengintai anak, mulai dari fisik, psikis hingga pelecehan seksual.

Oleh sebab itu, sangat penting membekali anak dengan edukasi agar terhindar dan mencegah anak menjadi pelaku pelecehan seksual.

Psikolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Novi Poespita Candra dan Psikolog lulusan Universitas Indonesia (UI) Rahmatika Septiana Chairunnisa membagikan kiat bagi orangtua dalam mengedukasi anak.

Novi Poespita mengatakan anak memiliki kecenderungan belajar dari orang desa di sekitarnya.

“Oleh sebab itu, orangtua terutama ayah, patut memberikan contoh nyata bagaimana menghormati orang lain, baik sesama jenis maupun lawan jenis,” kata Novi, Jumat (6/9).

Selain memberikan contoh yang baik, Novi mengatakan orangtua juga harus berdialog dengan anak agar terbiasa berpikir kritis dan bertanggung jawab atas sikapnya.

Dia juga menyarankan agar orang tua memberikan pemahaman kepada anak terkait pentingnya menjaga tubuh mereka agar terhindar dari pelecehan seksual.

“Pembelajaran terbaik dengan anak-anak adalah dengan cara berdialog, sangat bagus mengajarkan anak-anak berliterasi dan punya banyak referensi terkait pentingnya menjaga tubuh agar terhindar dari pelecehan,” ujar Novi.

“Mereka, baik laki-laki juga perempuan, perlu orangtua ajarkan mengenali dan menghargai tubuhnya sendiri, apalagi tubuh orang lain serta mengajarkan dampak jangka panjang jika tidak menghargai orang lain,” imbuhnya.

Menanamkan Nilai-nilai

Rahmatika Septiana Chairunnisa menyarankan agar orang tua perlu membangun hubungan yang positif dengan anak.

Orang tua, selain mendengarkan, memahami dan memenuhi kebutuhan anak, juga perlu memberikan aturan dan batasan kepada anak yang harus mereka patuhi.

Baca Juga  El Barack Dinilai Terlalu Pintar, Pertanyaannya Bikin Jedar Terbahak-bahak

“Pentingnya penanaman nilai-nilai yang berlaku di keluarga, budaya, dan agama sejak dini pada anak. Orang tua perlu mencontohkan penerapan nilai-nilai tersebut dalam kesehariannya,” kata psikolog dari Sekolah Bianglala Bandung ini.

Rahmatika menjelaskan ada sejumlah hal yang perlu orang tua lakukan dalam mengedukasi anak – anak agar tidak menjadi korban atau pelaku pelecehan seksual.

Salah satunya dengan memberi tahu mereka akan pentingnya menjaga tubuh masing-masing.

“Ajarkan anak mengenai nama dan fungsi dari setiap bagian tubuhnya sehingga mereka dapat memahami kenapa dia harus menjaga tubuhnya. Serta beritahu bagian mana saja yang boleh dan tidak boleh dilihat juga disentuh orang lain,” ujar Rahmatika.

Selain itu, beritahu anak jika ada beberapa situasi yang membuat orang lain boleh menyentuh tubuh mereka.

Misalnya, ketika dokter atau orang tua akan memeriksa atau membantu membersihkan alat kelamin anak setelah buang air karena usianya yang masih kecil.

“(Namun), ajarkan anak cara untuk menolak atau memberikan izin ketika ada orang lain yang akan melihat atau menyentuh bagian tubuhnya,” ujar Rahmatika.

Dia menekankan agar orang tua mengajarkan anak kecil untuk tidak membalas pelukan orang lain.

Orang tua jangan memaksa anak agar dicium oleh orang lain, meski pun anggota keluarga, jika anak tidak nyaman atau tidak suka.

Edukasi Seksual

Lebih lanjut, Rahmatika mengatakan bahwa sebisa mungkin orang tua tidak menganggap pembahasan mengenai seksualitas sebagai hal yang tabu atau menyeramkan.

“Ketika anak mulai penasaran dengan topik seksualitas, orang tua dapat merespons anak dengan tenang. Berikan penjelasan secara bertahap dengan bahasa yang mudah mereka mengerti,” kata Rahmatika.

Selain itu, lanjutnya, orang tua juga dapat mencari tahu topik pembahasan tentang seksualitas bersama anak.

Misalnya, pergi ke psikolog atau dokter bersama-sama, mencari informasi melalui video edukasi, dan lainnya.

“Yang terpenting, tekankan pada anak bahwa mereka sangatlah berharga, sehingga menumbuhkan rasa percaya diri dan tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal kurang sehat di lingkungan sekitar,” pungkasnya.(antara/topikseru.com)