Ringkasan Berita
- Jika Anda berselancar di TikTok atau Instagram akhir-akhir ini, mungkin pernah melihat selebrasi pemain bola yang men…
- Itu bukan tarian modern dari klub elite Eropa.
- Tren ini pertama kali muncul pada 28 Januari 2024 dari unggahan TikTok akun @h.chua_212 yang menampilkan video santai…
Topikseru.com – Tarian khas Riau ini mendadak mendunia, bukan karena diplomasi budaya, melainkan karena sebuah tren viral bernama Aura Farming yang melesat dari TikTok hingga menembus panggung selebrasi klub sepak bola raksasa Eropa.
Jika Anda berselancar di TikTok atau Instagram akhir-akhir ini, mungkin pernah melihat selebrasi pemain bola yang menggoyangkan tangan ke kanan dan kiri, dengan senyum merekah dan irama khas yang mengalun.
Itu bukan tarian modern dari klub elite Eropa. Itu adalah Pacu Jalur, warisan budaya dari Kuantan Singingi, Riau, yang kini naik kelas menjadi simbol tren digital bernama Aura Farming.
Apa Itu Aura Farming?
Mengutip laman Know Your Meme, istilah Aura Farming merupakan slang generasi digital yang menggambarkan upaya seseorang untuk meningkatkan karisma, daya tarik, dan penerimaan sosial di ruang digital.
Kata “aura” merujuk pada kehadiran yang memesona, sementara “farming” diambil dari istilah dalam dunia permainan – yakni mengulang suatu tindakan demi mendapat hasil besar.
Tren ini pertama kali muncul pada 28 Januari 2024 dari unggahan TikTok akun @h.chua_212 yang menampilkan video santai berjalan kaki sambil diberi judul “Aura Farming”.
Sejak itu, istilah ini menjalar ke berbagai format konten, dari gaya berpakaian, selebrasi, hingga ekspresi budaya.
Dari PSG hingga AC Milan, Tarian Pacu Jalur Jadi Ikon
Yang menarik, dalam gelombang viral ini, sejumlah klub sepak bola dunia ikut meramaikan tren. Akun resmi Paris Saint-Germain (@psg) mengunggah video dengan gaya Aura Farming menggunakan gerakan Pacu Jalur, lengkap dengan iringan lagu viral “Hallow”. Video itu ditonton hingga 3 juta kali.
Disusul oleh AC Milan, para pemainnya pun menampilkan tarian yang sama: tangan kanan menyilang di bawah tangan kiri, digerakkan dengan penuh semangat – gerakan yang persis dengan ritual Pacu Jalur yang diadopsi sebagai simbol kemenangan dan semangat kebersamaan.
Pacu Jalur: Tradisi Sungai yang Menyusuri Waktu

Bagi masyarakat Kuantan Singingi, Riau, Pacu Jalur bukan sekadar atraksi. Ini adalah identitas budaya yang sudah eksis sejak abad ke-17. Jalur – perahu panjang tradisional – dulu adalah sarana transportasi utama di sepanjang Sungai Kuantan.
Pacu Jalur pun lahir dari kehidupan sungai, menjadi pesta rakyat yang penuh semangat dan gotong royong.
Pada masa kolonial Belanda, Pacu Jalur dijadikan hajatan besar untuk memperingati hari kelahiran Ratu Belanda Wilhelmina. Kini, tradisi ini bertransformasi menjadi warisan budaya tak benda, dan lewat Aura Farming, ia tak hanya mengakar lokal tapi juga menari global.
Mengapa Tren Ini Viral?
Ada beberapa alasan di balik viral-nya tren ini:
• Gerakan sederhana, mudah ditiru, dan estetik di kamera.
• Musik yang digunakan – lagu Hallow – memiliki ritme memikat dan dramatis.
• Budaya selebrasi dan keinginan “terlihat keren” di media sosial mendorong banyak kreator untuk menirunya.
• Nuansa budaya lokal yang eksotik menjadi daya tarik baru di tengah konten seragam.
Apakah Anda sudah pernah memperagakan tren Aura Farming ini?







