Film

Film Animasi “Merah Putih One For All” Tuai Kontroversi Jelang Tayang 14 Agustus 2025

×

Film Animasi “Merah Putih One For All” Tuai Kontroversi Jelang Tayang 14 Agustus 2025

Sebarkan artikel ini
Merah Putih One For All
Merah Putih One For All (meta gambar: Youtube)

Ringkasan Berita

  • Bukannya menuai pujian menjelang perilisannya di bioskop pada 14 Agustus 2025, justru hujatan dan kritik pedas memban…
  • Kritik ini memuncak setelah trailer resmi film dirilis, yang memicu gelombang kekecewaan warganet terkait kualitas te…
  • Kritik semakin tajam ketika warganet mulai membandingkan Merah Putih One For All dengan film animasi “Jumbo” yang…

Topikseru.com – Film animasi terbaru “Merah Putih One For All” yang diproduksi oleh Historika Film tengah menjadi sorotan besar di dunia maya.

Bukannya menuai pujian menjelang perilisannya di bioskop pada 14 Agustus 2025, justru hujatan dan kritik pedas membanjiri media sosial seperti Facebook, Instagram, hingga X (Twitter).

Kritik ini memuncak setelah trailer resmi film dirilis, yang memicu gelombang kekecewaan warganet terkait kualitas teknis dan penyajian visualnya.

Banyak penonton yang mengaku kecewa karena animasi yang disuguhkan terlihat kasar, pergerakan karakter kaku, ekspresi wajah minim detail, serta pencahayaan yang dianggap kurang realistis.

Beberapa komentar bahkan menyamakan kualitasnya dengan “proyek tugas sekolah” yang dikerjakan terburu-buru.

Dalam era industri animasi modern, detail visual menjadi faktor penting yang memengaruhi daya tarik penonton. Sayangnya, hal ini justru menjadi titik lemah film yang membawa tema nasionalisme tersebut.

Kritik semakin tajam ketika warganet mulai membandingkan Merah Putih One For All dengan film animasi “Jumbo” yang rilis beberapa bulan sebelumnya.

Jumbo sukses memikat hati penonton dengan visual detail, narasi kuat, dan audio memukau, sehingga menetapkan standar baru bagi film animasi buatan Indonesia.

Sayangnya, publik menilai Merah Putih: One For All belum mampu mencapai kualitas tersebut, bahkan dengan modal cerita yang dianggap kuat sekalipun.

Kekhawatiran Akan Alur Cerita Merah Putih One For All  Terlalu Sederhana

Meski ide cerita Merah Putih: One For All memiliki potensi besar, sebagian penonton khawatir film ini akan kehilangan momentum di tengah durasi tayang.

Penyajian konflik yang dianggap terlalu sederhana dikhawatirkan membuat film terasa datar tanpa momen emosional yang memukau di klimaks cerita.

Salah satu komentar menyebut, “Kalau mau saingi Jumbo, harus berani tingkatkan kualitas teknis dan storytelling. Jangan cuma jualan semangat nasionalisme.”

Reaksi Pedas Warganet di Media Sosial

Komentar warganet tersebar luas di berbagai platform, mulai dari kritik membangun hingga sindiran keras. Berikut beberapa kutipan yang viral:

  • @ridho_pow: “Bapak harusnya sadar kalau ada orang yang mengkritik berarti ada celah yang perlu diperbaiki. Kalau bapak terus seperti itu, bagaimana bapak bisa berkembang?”

  • @ridwanfatahridwan: “Minimal sadar diri, biasanya orang tua emang begitu, gamau dikritik dan selalu merasa paling benar sendiri.”

  • @uwenselah: “6,7M dibiayai negara cuma buat film animasi burik gini doang? Kayak nggak rela banget gue bayar pajak.”

Tanggapan Produser yang Memicu Amarah Publik

Menanggapi banjir kritik, produser Toto Soegriwo akhirnya buka suara melalui akun Instagram pribadinya.

Baca Juga  6 Fakta Menarik Film Animasi Merah Putih One For All, dari Anggaran Rp6,7 Miliar hingga Banjir Kritik Warganet

Ia menulis: “Senyumin aja. Komentator lebih pandai dari pemain. Banyak yang mengambil manfaat juga kan? Postingan kalian jadi viral kan?”

Alih-alih meredam amarah, pernyataan ini justru dianggap meremehkan kritik publik. Banyak warganet yang awalnya ingin memberi masukan konstruktif merasa tidak dihargai, bahkan menilai sang produser anti kritik.

Sinopsis Film “Merah Putih One For All” yang Sarat Nilai Nasionalisme

Film ini mengisahkan delapan anak dari berbagai penjuru Nusantara yang disatukan dalam Tim Merah Putih. Mereka memiliki misi besar: menjaga bendera pusaka menjelang peringatan Hari Kemerdekaan.

Konflik dimulai saat bendera tersebut hilang secara misterius tiga hari sebelum upacara. Perjalanan mereka untuk menemukan kembali bendera pusaka menjadi inti cerita yang penuh tantangan:

  • Menembus hutan lebat yang dipenuhi hewan buas dan jalur licin.

  • Menyusuri arus sungai deras yang bisa mengancam nyawa.

  • Bertarung melawan badai malam dalam gelap gulita.

Perbedaan bahasa, budaya, dan sifat di antara anggota tim sempat memicu pertengkaran, tetapi perjalanan ini mengajarkan mereka arti persatuan dan kerja sama.

Jejak Historika Film dan Ekspektasi Publik

Historika Film bukan pendatang baru di dunia animasi Indonesia. Beberapa karya yang telah mereka hasilkan sebelumnya meliputi:

  1. Basemen: Jangan Turun ke Bawah – Film animasi horor dengan atmosfer mencekam.

  2. Lantai 4 – Drama animasi yang memadukan misteri dengan narasi intim.

  3. Ramadhan Pertama Tanpa Ayah – Kisah keluarga yang menyentuh hati.

Dengan rekam jejak ini, publik menaruh ekspektasi tinggi pada Merah Putih One For All. Namun, trailer yang dirilis justru menimbulkan keraguan apakah film ini mampu memenuhi harapan tersebut.

Analisis Penyebab Kontroversi

Berdasarkan reaksi publik, terdapat beberapa faktor utama yang memicu kontroversi:

  • Kualitas Teknis yang Kurang Maksimal
    Standar visual dan animasi dinilai belum setara dengan produksi animasi layar lebar lainnya.

  • Storytelling yang Belum Tergarap Sempurna
    Alur cerita dinilai minim lapisan konflik dan kurang mengundang emosi penonton.

  • Respons Pihak Produksi yang Tidak Mengedepankan Empati
    Alih-alih merespons kritik dengan terbuka, pernyataan produser justru memperkeruh suasana.

Terlepas dari kontroversi, Merah Putih One For All membawa pesan persatuan yang penting bagi generasi muda. Namun, agar film animasi Indonesia dapat bersaing secara global, diperlukan peningkatan kualitas teknis, pendalaman cerita, serta keterbukaan terhadap kritik.

Publik berharap film ini tetap mampu memberikan pengalaman menonton yang menyenangkan, meski berbagai kritik telah mewarnai perjalanannya sebelum rilis resmi. (*)