Topikseru.com, Medan – Sebuah pertemuan yang bermula dari aplikasi kencan berakhir tragis di Medan. Seorang perempuan berinisial RS (19) meregang nyawa setelah menjadi korban pembunuhan yang dilakukan oleh pria yang baru dikenalnya.
Kasus ini tidak hanya menyisakan duka, tetapi juga mengungkap rangkaian kejadian yang panjang—mulai dari pertemuan sederhana hingga upaya pelaku menghilangkan jejak kejahatan.
Awal Pertemuan: Dari Aplikasi ke Dunia Nyata
Pelaku utama, SA (19), diketahui berkenalan dengan korban melalui aplikasi kencan. Komunikasi yang terjalin berlanjut ke pertemuan langsung.
Pada Senin malam, 9 Maret 2026, SA menjemput korban di depan sebuah warung kopi dekat tempat kos RS. Keduanya kemudian menghabiskan waktu bersama, termasuk berbuka puasa di sebuah restoran.
Suasana yang awalnya tampak biasa berubah ketika keduanya memutuskan menuju sebuah hotel di kawasan Jalan Menteng VII.
Di Balik Pintu Hotel: Awal Tragedi
Di dalam kamar hotel, hubungan antara keduanya berubah drastis. Setelah sempat melakukan hubungan intim, pelaku kembali mengajukan permintaan yang ditolak oleh korban.
Penolakan itu memicu emosi pelaku.
Dalam kondisi marah, SA kemudian mencekik korban menggunakan selendang hingga tak bernyawa. Dalam kondisi kritis, korban juga mengalami kekerasan seksual.
Momen ini menjadi titik balik dari pertemuan yang semula terlihat biasa menjadi tragedi yang berujung maut.
Upaya Menghilangkan Jejak
Setelah memastikan korban meninggal, pelaku tidak langsung pergi tanpa jejak. Ia mengambil sejumlah barang milik korban, seperti ponsel, cincin, dan pakaian.
Keesokan harinya, SA kembali ke hotel dengan membawa goni plastik. Ia membungkus jasad korban menggunakan selimut dan seprai, lalu memasukkannya ke dalam goni.
Untuk menyamarkan jejak, kasur kamar hotel dibalik guna menutupi bercak darah.
Langkah ini menunjukkan adanya upaya sistematis untuk menghilangkan bukti kejahatan.
Libatkan Rekan untuk Buang Jasad
Dalam tahap berikutnya, pelaku melibatkan temannya, SHR (19), seorang pengemudi ojek online.
SHR diminta membantu mengangkut sebuah boks putih dengan iming-iming bayaran biaya kos selama sebulan. Tanpa mengetahui sepenuhnya isi boks, ia kemudian ikut membawa boks tersebut.
Jasad korban dimasukkan ke dalam boks, lalu dibawa menggunakan sepeda motor menuju pinggir sungai di Gang Seroja – sekitar 200 meter dari lokasi hotel.
Rencana Gagal, Jasad Ditinggalkan
Awalnya, kedua pelaku berencana membuang jasad ke lokasi yang lebih jauh. Namun, rencana itu gagal karena boks terlalu berat dan kondisi sekitar cukup ramai.
Akhirnya, boks berisi jasad korban ditinggalkan di bantaran sungai.
Ironisnya, setelah membuang jasad, kedua pelaku sempat makan bersama sebelum kembali ke tempat masing-masing.
Terungkap oleh Warga dan CCTV
Penemuan boks mencurigakan oleh warga menjadi awal terbongkarnya kasus ini. Laporan segera diteruskan ke pihak kepolisian.
Penyelidikan cepat dilakukan, termasuk analisis rekaman CCTV di sekitar lokasi kejadian.
Hasilnya, pelaku SA berhasil ditangkap saat berada di rumah pacarnya ketika hendak melarikan diri. Sementara SHR diamankan di tempat kosnya.
Penangkapan dilakukan oleh tim dari Polrestabes Medan bersama jajaran kepolisian lainnya.
Dijerat Pasal Berlapis
Dalam kasus ini, SA dijerat dengan pasal berlapis terkait pembunuhan dan kekerasan seksual.
Sementara SHR dijerat karena keterlibatannya dalam membantu menghilangkan jejak kejahatan.
Keduanya kini ditahan di rumah tahanan Polrestabes Medan untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa interaksi yang bermula dari ruang digital dapat berujung pada risiko nyata di dunia fisik.
Dari sebuah pertemuan singkat, tragedi ini berkembang menjadi kejahatan serius yang menyita perhatian publik.













