Internasional

Iran Tutup Selat Hormuz! Mojtaba Khamenei Bersumpah Balas Serangan AS-Israel

×

Iran Tutup Selat Hormuz! Mojtaba Khamenei Bersumpah Balas Serangan AS-Israel

Sebarkan artikel ini
Iran
Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, menegaskan negaranya akan membalas kematian para “martir”, menutup Selat Hormuz, serta menyerang pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di kawasan.

Topikseru.com, Jakarta – Penuh amarah dan dendam Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, menegaskan negaranya akan membalas kematian para “martir”, menutup Selat Hormuz, serta menyerang pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di kawasan.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam pidato yang dibacakan di televisi pemerintah pada Kamis (12/3/2026), yang menjadi komentar pertamanya sejak menggantikan ayahnya yang tewas.

Dalam pidato tersebut, Khamenei menyatakan bahwa Amerika Serikat harus menutup seluruh pangkalan militernya di kawasan Timur Tengah.

Ia juga menegaskan bahwa Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia akan tetap ditutup untuk menekan pihak musuh.

Ketegangan di kawasan semakin meningkat setelah dua kapal tanker terbakar di sebuah pelabuhan di Basra, Irak, pada Kamis. Insiden itu diduga terjadi akibat serangan kapal bermuatan bahan peledak milik Iran.

Serangan tersebut memperparah gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah dan menantang klaim Donald Trump yang sebelumnya menyatakan perang yang dimulai dua pekan lalu telah dimenangkan.

Rekaman gambar yang diverifikasi Reuters menunjukkan kapal-kapal dilalap bola api besar yang menerangi langit malam di pelabuhan Basra setelah serangan terjadi.

Otoritas Irak menyebut kapal-kapal tersebut diserang oleh perahu milik Iran, dan sedikitnya satu awak kapal dilaporkan tewas.

Beberapa jam sebelumnya, tiga kapal lain juga dilaporkan diserang di kawasan Teluk.

Pasukan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim bertanggung jawab atas setidaknya satu serangan terhadap kapal kargo Thailand yang kemudian terbakar setelah disebut mengabaikan perintah mereka.

Sebuah kapal kontainer lain juga melaporkan terkena proyektil tak dikenal di dekat Uni Emirat Arab.

Gangguan besar pasokan energi global

Perang yang dipicu oleh kampanye pemboman oleh AS dan Israel pada akhir Februari itu sejauh ini telah menewaskan sekitar 2.000 orang.

Baca Juga  Iran Sita Kapal Tanker Tujuan Singapura di Selat Hormuz, IRGC Klaim Ada Pelanggaran Kargo

International Energy Agency (IEA) menyebut konflik tersebut telah memicu gangguan pasokan energi global terbesar dalam sejarah.

Di tengah klaim AS dan Israel bahwa sebagian besar persenjataan jarak jauh Iran telah dihancurkan, laporan terbaru menyebut sejumlah drone masih terbang menuju beberapa negara kawasan, termasuk Kuwait, Irak, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Oman.

Sementara itu, milisi Hezbollah yang didukung Iran di Lebanon menembakkan rentetan roket terbesar mereka ke wilayah Israel sejak perang dimulai. Serangan tersebut memicu balasan militer Israel yang menargetkan ibu kota Lebanon, Beirut.

Lonjakan ketegangan di kawasan mendorong harga minyak kembali melonjak di atas US$100 per barel. Sebelumnya harga sempat turun setelah Trump menyatakan konflik tersebut akan segera berakhir.

Namun Iran menegaskan tidak akan membuka kembali Selat Hormuz, jalur perdagangan energi paling penting di dunia selama serangan AS dan Israel masih berlangsung.

Trump klaim kemenangan

Trump dalam beberapa hari terakhir berupaya menenangkan pasar energi dengan mengatakan lonjakan harga minyak hanya bersifat sementara.

Meski demikian, ia belum menjelaskan bagaimana konflik tersebut akan berakhir atau bagaimana jalur pelayaran di Selat Hormuz dapat kembali dibuka.

Pejabat Amerika Serikat dan Israel menyatakan tujuan operasi militer adalah menghancurkan program rudal dan nuklir Iran.

Namun Trump juga menuntut “penyerahan tanpa syarat” dari Iran serta ingin menentukan kepemimpinan negara tersebut.

“Anda tidak pernah ingin mengatakan terlalu cepat bahwa Anda menang. Tapi kami menang,” kata Trump dalam sebuah rapat umum di Hebron, Kentucky.

Trump menambahkan bahwa Amerika Serikat telah “hampir menghancurkan Iran”, tetapi menegaskan operasi militer belum akan dihentikan.

“Kami tidak ingin pergi terlalu cepat. Kami harus menyelesaikan pekerjaan ini,” ujarnya.