Topikseru.com, Jakarta – Pihak tidak takut malah Iran memperingatkan bahwa pihaknya bisa menargetkan “pos-pos Amerika” di Uni Emirat Arab (UEA) setelah sebuah hub energi penting di UEA mengalami gangguan akibat serangan drone dan kebakaran pada Sabtu (14/3/2026).
Presiden AS Donald Trump menyebut “banyak negara” akan mengirim kapal perang ke kawasan tersebut.
Seiring konflik memasuki minggu ketiga, Iran menunjukkan sikap menantang setelah pasukan AS menyerang situs militer di pusat minyak utama Iran, dengan memperingatkan bahwa sebagian wilayah UEA adalah target sah dan meminta warga sipil untuk mengungsi.
Konflik ini telah menewaskan lebih dari 2.000 orang, sebagian besar di Iran, serta menimbulkan gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah, mendorong harga minyak melonjak karena lalu lintas laut di kawasan yang menyuplai seperlima kebutuhan minyak dunia terhenti.
Beberapa operasi pemuatan minyak di emirat Fujairah, salah satu pusat pengisian bahan bakar dan terminal ekspor minyak mentah, dihentikan sementara. Liputan TV menunjukkan kolom asap hitam tebal membubung ke udara.
Juru bicara militer Iran meminta warga di UEA mengungsi dari pelabuhan, dermaga, dan “pos-pos Amerika” karena pasukan AS diduga menargetkan pulau-pulau Iran dari lokasi tersebut.
Trump menyatakan, “banyak negara akan mengirim kapal perang untuk memastikan lalu lintas di Selat Hormuz tetap aman dan terbuka,” selat yang menjadi jalur bagi 20% pasokan energi dunia.
Ia berharap China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan negara lain bersedia mengirim kapal ke wilayah tersebut.
Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, yang menggantikan ayahnya yang tewas, menegaskan bahwa jalur strategis ini harus tetap tertutup sebagai alat tekanan.
Trump menambahkan, “Sementara itu, AS akan terus mengebom garis pantai dan menembak perahu serta kapal Iran yang berada di perairan.”
Trump sebelumnya mengancam menyerang infrastruktur minyak di Pulau Kharg, pusat ekspor 90% minyak Iran, jika Iran tidak menghentikan serangan terhadap kapal di Selat Hormuz.
Meski AS menyatakan telah “menghancurkan total” target militer di pulau tersebut, Iran meremehkan tingkat kerusakan dan mengancam akan menggunakan senjata yang lebih kuat serta menegaskan sebagian wilayah UEA adalah target sah.
Juru bicara Garda Revolusi Iran menyatakan, “Iran menganggap sah membela kedaulatan nasionalnya dengan menargetkan asal peluncuran rudal musuh Amerika di pelabuhan, dermaga, dan pos militer AS di beberapa kota UEA.”
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menambahkan, Iran akan menanggapi setiap serangan terhadap fasilitas energinya dan memperingatkan akan menargetkan perusahaan AS atau perusahaan dengan kepemilikan AS di kawasan.
Kementerian Pertahanan UEA menyebut 9 rudal balistik dan 33 drone diluncurkan Iran ke UEA pada Sabtu, dengan peringatan bagi warga untuk meninggalkan kawasan Pelabuhan Jebel Ali di Dubai, Pelabuhan Khalifa di Abu Dhabi, dan Pelabuhan Fujairah. Iran juga menargetkan cabang bank AS di Teluk.
Fujairah, yang berada di luar Selat Hormuz, menyalurkan sekitar 1 juta barel minyak Murban per hari, setara 1% permintaan minyak dunia.
“Garda Revolusi Iran ingin menyampaikan pesan bahwa tidak ada tempat aman dalam konflik yang berkembang cepat ini,” ujar Helima Croft, analis RBC Capital.
Ia menambahkan, fakta serangan ini terjadi beberapa jam setelah serangan AS di Pulau Kharg menunjukkan bahwa Tehran tidak akan membiarkan Washington mengontrol eskalasi konflik.
Pasukan AS menyatakan telah menyerang lebih dari 90 target militer Iran di Pulau Kharg, termasuk fasilitas penyimpanan ranjau dan bunker rudal.
Di sisi lain, sumber regional mengatakan negara-negara Teluk sudah menaruh rasa frustrasi karena terlibat dalam perang yang bukan mereka mulai, namun kini harus menanggung dampak ekonomi dan militer.
Anwar Gargash, penasihat diplomatik Presiden UEA menilai, strategi Iran “mencerminkan ketidakmampuannya menghadapi serangan AS dan Israel dengan menargetkan negara-negara Teluk Arab, sekaligus memperlihatkan kebangkrutan moral dan isolasi politik.”











