Topikseru.com – Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menyerukan kepada sejumlah negara untuk membangun kemandirian global tanpa terlalu bergantung pada Amerika Serikat.
Seruan itu disampaikan Macron dalam forum diskusi bersama mahasiswa di Universitas Yonsei, Seoul, Korea Selatan, Jumat (4/4/2026).
Macron menyebut sejumlah negara yang dinilai memiliki visi serupa, antara lain negara-negara Eropa, Korea Selatan, Jepang, Brasil, Australia, hingga Kanada.
“Dengan agenda seperti itu, kita mulai memiliki semacam jalan ketiga yang independen dari AS,” ujar Macron.
Kritik Ketergantungan terhadap Washington
Macron menilai ketergantungan berlebihan terhadap Washington berpotensi merugikan negara-negara mitra, terutama jika kebijakan luar negeri AS berubah-ubah.
Dia mengingatkan bahwa inkonsistensi kebijakan dapat berdampak luas terhadap stabilitas global maupun kerja sama internasional.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya dinamika geopolitik, termasuk konflik di Timur Tengah yang melibatkan AS.
Eropa Mulai Jaga Jarak dari AS
Laporan dari Bloomberg sebelumnya mengindikasikan bahwa para pemimpin Eropa mulai mempertimbangkan untuk menjaga jarak dari AS, terutama terkait operasi militer Washington terhadap Iran.
Langkah tersebut dinilai sebagai upaya memperkuat posisi strategis Eropa di tengah ketegangan global yang semakin kompleks.
Isu NATO dan Sikap Trump Perkeruh Situasi
Ketegangan juga dipicu oleh pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang mengaku mempertimbangkan untuk menarik negaranya dari NATO.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam wawancara dengan The Telegraph pada 1 April 2026, menyusul penolakan aliansi itu untuk mendukung operasi militer AS terhadap Iran.
Laporan Politico bahkan menyebut bahwa NATO mulai dipandang “lumpuh” dan terpecah, dengan sejumlah pemimpin Eropa diam-diam membahas langkah antisipasi terhadap kemungkinan keluarnya AS dari aliansi tersebut.
Seruan Macron dinilai mencerminkan munculnya arah baru dalam geopolitik global, di mana sejumlah negara mulai mencari keseimbangan baru di luar dominasi kekuatan tradisional.
Gagasan “jalan ketiga” ini berpotensi membentuk blok kerja sama baru yang lebih independen, sekaligus mengubah peta hubungan internasional ke depan.











