Topikseru.com, Teheran – Pasca Eskalasi konflik di Timur Tengah semakin memanas setelah militer Iran berhasil merontokkan jet tempur Amerika Serikat (AS) pada Jumat (03/04).
Tenyata, insiden ini memicu perlombaan pencarian awak kapal di tengah ancaman Presiden Donald Trump yang bersiap memperluas serangan terhadap infrastruktur sipil Iran dengan berbagai alasan.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan tengah menyisir lokasi jatuhnya pesawat di wilayah Barat Daya Iran.
Bahkan, gubernur regional setempat menjanjikan penghargaan bagi siapa pun yang berhasil menangkap atau melikuidasi sang pilot.
Seorang pejabat militer AS telah mengonfirmasi jatuhnya jet tempur tersebut, meski Pentagon dan Komando Pusat AS (CENTCOM) masih belum memberikan pernyataan resmi melalui saluran komunikasi formal mereka.
Kantor berita Iran melaporkan sejumlah helikopter AS terbang rendah dalam misi pencarian, yang kemudian disambut tembakan dari warga sipil di darat.
Meskipun militer Iran mengklaim pesawat yang jatuh adalah F-35 berkursi tunggal, rincian teknis mengenai jenis pesawat tersebut masih dalam tahap verifikasi lebih lanjut.
Klaim Kendali
Insiden ini menjadi tamparan keras bagi klaim Presiden Trump dan Menteri Pertahanan atau Menteri Perang AS, Pete Hegseth yang sebelumnya sesumbar telah memegang kendali penuh atas ruang udara Iran.
Faktanya, lima minggu setelah kampanye serangan udara AS dan Israel, yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, perang justru menunjukkan tanda-tanda intensifikasi.
Hingga saat ini, ribuan jiwa telah melayang dan ekonomi global berada dalam ancaman kerusakan permanen.
Pada Kamis lalu, Trump mengunggah cuplikan serangan AS yang menghancurkan jembatan B1, penghubung baru antara Teheran dan Karaj.
“Militer kita adalah yang terhebat dan terkuat (sejauh ini!) di dunia, dan kita bahkan belum mulai menghancurkan apa yang tersisa di Iran, berikutnya jembatan, lalu Pembangkit Listrik!” tulis Trump dalam unggahan di media sosial pribadinya.
Balasan Iran ke Sekutu AS
Meskipun terus digempur, Iran membuktikan masih mampu memukul balik Israel dan menyerang negara-negara Teluk sekutu AS.
Pada Jumat, Iran menghantam instalasi listrik dan pengolahan air di Kuwait. Serangan ini mengincar titik lemah negara-negara Teluk yang sangat bergantung pada pabrik desalinasi untuk kebutuhan air minum.
Di dalam negeri, Trump menghadapi tekanan politik yang masif. Dengan pemilu sela (Midterm Elections) pada November mendatang, Partai Republik terancam kehilangan kendali atas Kongres jika gagal menyelesaikan perang ini dengan cepat.
Jajak pendapat terbaru menunjukkan mayoritas warga Amerika kini menentang keberlangsungan perang tersebut.
Guncangan Ekonomi
Dampak ekonomi dari konflik ini telah menyentuh level global. Kendali Iran atas Selat Hormuz membuat Teheran mampu mencekik pasokan energi dunia.
Trump sempat meluapkan kekesalannya kepada sekutu AS yang enggan membantu membuka kembali jalur pelayaran yang dilalui seperlima pasokan minyak dan gas cair dunia tersebut.
“Dengan sedikit waktu lagi, kita bisa dengan mudah membuka selat Hormuz, Mengambil minyaknya, & Meraih Keuntungan besar,” tulis Trump di Truth Social.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah benchmark AS melesat 11% pada perdagangan Kamis.
Penutupan jalur navigasi ini juga mengganggu pengiriman pupuk, yang mengancam krisis kemanusiaan di negara-negara berkembang Asia dan Afrika.
Data Maret menunjukkan kenaikan tajam harga pangan global akibat tersendatnya logistik ini.













