International

5 Fakta Greenland, Wilayah Otonom yang Bikin Donald Trump Berhasrat untuk Menguasainya!

×

5 Fakta Greenland, Wilayah Otonom yang Bikin Donald Trump Berhasrat untuk Menguasainya!

Sebarkan artikel ini
fakta Greenland
Ilustrasi Greenland. Foto: Shutter Stock

Topikseru.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump pernah menyampaikan keinginannya untuk membeli Greenland, wilayah otonom yang berada di bawah pemerintahan Denmark. Pernyataan itu sontak menuai reaksi keras dari pemerintah Denmark yang menegaskan bahwa Greenland tidak untuk dijual.

Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen bahkan menyebut wacana jual-beli wilayah tersebut sebagai sesuatu yang absurd dan tidak masuk akal.

Komentar tersebut membuat Trump tersinggung hingga memutuskan membatalkan rencana kunjungan kenegaraan ke Denmark pada September mendatang.

Sejak saat itu, nama Greenland kembali mencuat dan menjadi sorotan dunia. Lantas, apa sebenarnya yang membuat wilayah ini begitu diperebutkan?

Berikut Fakta Menarik Greenland yang Harus Kamu Ketahui

1. “Green Earth” yang Didominasi Es

Nama Greenland kerap menimbulkan persepsi keliru. Meski mengandung kata green, pulau seluas sekitar dua juta kilometer persegi ini justru 85 persen wilayahnya tertutup lapisan es.

Greenland merupakan pulau terbesar di dunia yang bukan termasuk kategori benua. Sekitar tiga perempat wilayahnya berbatasan langsung dengan Samudra Arktik, menjadikannya salah satu kawasan paling strategis di lintang utara.

Secara historis, Greenland merupakan koloni Denmark hingga 1953. Status otonomi diberikan pada 1979, yang memungkinkan wilayah ini mengatur urusan domestiknya sendiri, meski masih sangat bergantung pada subsidi ekonomi dari Kopenhagen.

Saat ini, jumlah penduduk Greenland sekitar 55.000 jiwa, dengan sekitar 17.000 orang tinggal di ibu kota Nuuk. Sekitar 90 persen penduduknya merupakan suku Inuit, kelompok pribumi yang secara historis berasal dari Asia Tengah.

2. Titik Strategis Kekuatan Global

Posisi geografis Greenland menjadikannya wilayah penting dalam peta pertahanan global, khususnya bagi Amerika Serikat.

Sejak Perang Dunia II, Greenland digunakan sebagai basis pemantauan kapal dan kapal selam Nazi yang melintasi rute Kutub Utara.

Pada 1943, Angkatan Udara AS membangun Pangkalan Udara Thule, yang kemudian memainkan peran vital selama Perang Dingin sebagai garis depan sistem peringatan dini terhadap potensi serangan Uni Soviet.

Baca Juga  Sinopsis Film Greenland: Gerard Butler Hadapi Kiamat Yang Sudah Dekat Tayang di Bioskop Trans TV Selasa 5 Agustus 2025 Malam Ini

Hingga kini, pangkalan tersebut menjadi bagian dari operasi NATO, termasuk pemantauan satelit dan deteksi peluncuran rudal.

Tak hanya Amerika Serikat, China juga menunjukkan ketertarikan terhadap Greenland. Beijing melihat wilayah ini sebagai kunci pembukaan rute pelayaran kutub yang lebih efisien bagi perdagangan global.

Pada 2018, China meluncurkan strategi “Jalan Sutra Kutub”, sekaligus memperluas kehadiran ilmiah dan investasi tambang di Greenland.

3. Ancaman Nyata Pemanasan Global

Greenland berada di garis terdepan dampak perubahan iklim global. Mencairnya lapisan es di wilayah ini berkontribusi langsung terhadap kenaikan permukaan laut dunia.

Menurut Organisasi Meteorologi Dunia, permukaan laut global meningkat sekitar 3,3 milimeter per tahun, sebagian dipengaruhi oleh mencairnya es Greenland.

Jika seluruh lapisan es Greenland mencair, para ilmuwan memperkirakan permukaan laut dunia bisa naik hingga tujuh meter, mengancam kawasan pesisir di berbagai belahan dunia.

4. Kaya Sumber Daya Alam

Di balik lapisan esnya, Greenland menyimpan kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Es di wilayah ini bahkan mengandung unsur perak.

Di bawah gletser yang mencair, terdapat batuan kaya mineral yang berpotensi dimanfaatkan sebagai pupuk alami untuk wilayah kering di Afrika dan Amerika Selatan.

Greenland juga memiliki cadangan minyak, gas alam, serta stok ikan dan udang yang melimpah. Selain itu, tanahnya kaya akan berbagai mineral strategis seperti emas, rubi, uranium, besi, aluminium, nikel, platinum, tungsten, titanium, dan tembaga.

5. Bukan Pertama Kali AS Ingin Membeli Greenland

Keinginan Donald Trump untuk membeli Greenland bukanlah hal baru dalam sejarah Amerika Serikat. Pada 1867, Departemen Luar Negeri AS telah menyatakan ketertarikannya terhadap pulau tersebut.

Bahkan pada 1946, Presiden AS Harry S. Truman secara resmi menawarkan USD 100 juta dalam bentuk emas kepada Denmark untuk membeli Greenland. Tawaran itu, seperti halnya proposal Trump, juga ditolak.