Topikseru.com, Washington – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran diperkirakan berlangsung hingga empat pekan atau bahkan kurang dari itu. Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam wawancara dengan Daily Mail, Ahad.
“Prosesnya selalu memakan waktu empat pekan. Kami memperkirakan akan memakan waktu sekitar empat pekan. Prosesnya selalu sekitar empat pekan, jadi sekuat apa pun negara ini, akan memakan waktu empat pekan — atau kurang,” kata Trump dalam wawancara terset.
Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah setelah serangkaian serangan lintas negara dalam beberapa hari terakhir.
Potensi Korban Militer AS
Trump juga mengakui kemungkinan bertambahnya korban jiwa di pihak militer AS selama operasi berlangsung di Iran. Ia tidak merinci jumlah personel yang terlibat maupun detail strategi militer yang dijalankan.
Pernyataan ini mempertegas bahwa Washington memperkirakan konflik tidak akan berakhir dalam waktu singkat, meski Gedung Putih mengisyaratkan target operasional telah ditetapkan secara terukur.
Iran Disebut Ingin Berunding
Dalam wawancara yang sama, Trump mengklaim Iran menginginkan dimulainya perundingan setelah operasi militer dilakukan. Namun, ia menyebut Teheran terlambat mengambil langkah diplomatik.
“Iran seharusnya berbicara pekan lalu, bukan pekan ini,” ujarnya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan dinamika diplomasi yang berjalan paralel dengan operasi militer di lapangan.
Serangan AS dan Israel ke Iran
Pada Sabtu, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangkaian serangan terhadap sejumlah target di dalam wilayah Iran, termasuk di ibu kota Teheran.
Laporan awal menyebutkan adanya kerusakan infrastruktur dan korban sipil, meski rincian resmi masih terbatas.
Langkah tersebut menandai eskalasi signifikan dalam ketegangan yang telah berlangsung antara kedua negara dalam beberapa waktu terakhir.
Respons Iran: Serangan Balasan ke Israel dan Basis AS
Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel dan sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Otoritas setempat di beberapa negara melaporkan peningkatan status siaga militer menyusul ancaman serangan lanjutan.
Situasi ini meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya konflik regional yang berpotensi memicu instabilitas geopolitik dan gangguan terhadap jalur energi global.
Eskalasi militer antara AS, Israel, dan Iran berisiko memperluas konflik di Timur Tengah. Kawasan tersebut selama ini menjadi pusat kepentingan strategis global, terutama terkait pasokan energi dan jalur perdagangan internasional.
Analis hubungan internasional menilai durasi operasi yang disebut Trump, empat pekan atau kurang, menunjukkan adanya kerangka waktu operasional yang relatif terbatas. Namun, perkembangan di lapangan dapat berubah cepat bergantung pada respons militer dan diplomatik dari masing-masing pihak.












