Ringkasan Berita
- "Kami melihat pengumuman itu pagi ini, yang kami pandang sebagai pernyataan politik dari Perdana Menteri (Israel) Ben…
- Dia menilai sikap Israel terhadap Sekjen PBB dengan menjadikan Guterres sebagai Persona Non Grata adalah serangan pol…
- Dia mengatakan istilah Persona Non Grata pernah dinyatakan oleh negara-negara lain terhadap staf PBB.
TOPIKSERU.COM, KANADA – Juru Bicara Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Stephen Dujarric menanggapi sikap Israel yang menjadikan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres sebagai persona non grata.
Dia menilai sikap Israel terhadap Sekjen PBB dengan menjadikan Guterres sebagai Persona Non Grata adalah serangan politik ketimbang hukum.
“Kami melihat pengumuman itu pagi ini, yang kami pandang sebagai pernyataan politik dari Perdana Menteri (Israel) Benjamin Netanyahu,” kata Stephen melansir Antara dari Anadolu, Kamis (3/10).
Apa itu Persona Non Grata?
Persona Non Grata adalah istilah dalam diplomasi, yang menyatakan seseorang tidak diterima atau disambut.
Istilah ini berlaku dalam hukum diplomatik, yang berarti negara penerima berhak menolak atau mengusir diplomat yang sudah atau akan menjalankan tugas di negara tersebut.
Juru Bicara PBB Stephen Dujarric menyambut baik dukungan anggota Dewan Keamanan PBB untuk Guterres dalam sidang terkait situasi di Timur Tengah.
Dia mengatakan istilah Persona Non Grata pernah dinyatakan oleh negara-negara lain terhadap staf PBB.
“Kami tidak mengakui konsep persona non grata berlaku untuk staf PBB,” ujarnya.
Dujarric menegaskan bahwa Guterres hanya bepergian ke suatu negara atas undangan dari negara yang bersangkutan.
Dujarric juga menyatakan bahwa selama 24 tahun kariernya, ia belum pernah menghadapi pernyataan semacam itu.
“Memang pernah ada situasi yang sangat tegang antara sekretaris jenderal dan berbagai negara anggota, tetapi saya tidak ingat pernah mendengar bahasa seperti ini,” kata Stephen Dujarric.
Israel Cekal PBB
Sebelumnya, Israel mengumumkan bahwa mereka menyatakan Guterres sebagai “persona non grata,” dan melarangnya masuk ke negara tersebut.
Hal itu setelah Antonio Guterres menyerukan deeskalasi segera di Timur Tengah.
Alasan Israel menurut Menteri Luar Negeri Israel, Israel Katz, karena Guterres tidak secara tegas mengutuk Iran atas serangan rudal terhadap Israel pada Selasa (1/10).
Padahal sebelumnya Guterres mengatakan “Saya mengutuk meluasnya konflik Timur Tengah dengan eskalasi demi eskalasi,” dan mendesak adanya gencatan senjata segera.












