Ringkasan Berita
- Melansir Antara, berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI per 4 Juli atau pekan ke-26 tahun 2025 terdapat…
- Dia mengatakan di Yogyakarta terdapat 620 kasus, Jawa Timur 409, Jawa Barat 160, dan Banten 124 kasus.
- Hal itu juga dia sampaikan sebagai respons terkait kematian enam warga Kota Yogyakarta dari 19 yang menderita leptosp…
Topikseru.com – Di musim hujan dan banjir seperti sekarang, ancaman penyakit leptospirosis kembali mengintai. Penyakit yang kerap dijuluki penyakit banjir ini memang terdengar asing bagi sebagian orang, namun faktanya bisa mematikan jika tidak ditangani cepat.
Melansir Antara, berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI per 4 Juli atau pekan ke-26 tahun 2025 terdapat 859 kasus suspek leptospirosis di Jawa Tengah.
Jumlah suspek ini menjadikan provinsi itu sebagai wilayah dengan kasus suspek tertinggi di Indonesia.
Jumlah Suspek Leptospirosis Tertinggi Lainnya
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan RI, Aji Muhawarman, menyebutkan terdapat beberapa daerah dengan angka suspek penyakit leptospirosis tertinggi lainnya.
Dia mengatakan di Yogyakarta terdapat 620 kasus, Jawa Timur 409, Jawa Barat 160, dan Banten 124 kasus.
Aji mengatakan bahwa dalam dua tahun terakhir kasus suspek leptospirosis selalu mengalami kenaikan sesuai pola musim hujan di Indonesia, sehingga perlu diwaspadai adanya kenaikan kasus pada pekan-pekan mendatang.
Hal itu juga dia sampaikan sebagai respons terkait kematian enam warga Kota Yogyakarta dari 19 yang menderita leptospirosis, per data 8 Juli 2025 dari dinas terkait.
Lantas, apa itu leptospirosis, bagaimana gejala awalnya, dan apa langkah pencegahannya?
Leptospirosis, Bakteri Tikus di Genangan Air
Leptospirosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan bakteri Leptospira interrogans. Bakteri ini banyak ditemukan di air atau tanah yang tercemar urine hewan, terutama tikus. Tak heran, daerah banjir, sawah, atau got kotor sering menjadi ‘rumah nyaman’ bagi bakteri penyebab leptospirosis.
Penularannya pun sederhana: bakteri masuk lewat kulit yang luka, lecet, bahkan kulit yang tampak utuh namun terendam air lama. Risiko makin tinggi bila Anda sering berkegiatan di air kotor tanpa pelindung.
Gejala Leptospirosis yang Sering Diabaikan
Menurut Kementerian Kesehatan, gejala leptospirosis kerap mirip flu, sehingga banyak penderita terlambat menyadari.
Gejala awal leptospirosis umumnya muncul 2 – 30 hari setelah terpapar, berupa:
– Demam tinggi mendadak
– Sakit kepala hebat
– Nyeri otot, terutama betis dan pinggang
– Mata merah (conjunctival suffusion)
– Mual, muntah, hingga diare
Dalam kasus berat, penyakit leptospirosis bisa menyebabkan kerusakan hati (hepatitis), ginjal (gagal ginjal akut), hingga meningitis.
Beberapa pasien juga mengalami pendarahan paru-paru (Weil’s disease) yang bisa berujung kematian jika tak ditangani.
Cara Mencegah Leptospirosis
Hingga kini, vaksin untuk manusia belum tersedia secara luas. Pencegahan penyakit leptospirosis bertumpu pada perilaku higienis dan perlindungan diri.
Beberapa langkah sederhana untuk mencegah leptospirosis di antaranya:
– Hindari bermain atau bekerja di genangan air kotor.
– Gunakan sepatu boot, sarung tangan, dan pelindung tubuh bila terpaksa berkontak dengan air banjir.
– Tutup luka atau lecet dengan plester tahan air.
– Kendalikan populasi tikus di sekitar rumah.
– Jaga kebersihan rumah, pastikan makanan dan minuman tertutup rapat.
– Segera periksakan diri ke dokter jika demam tinggi muncul usai terpapar air banjir.
Gejala penyakit leptospirosis yang mirip flu membuat penyakit ini sering luput terdeteksi. Padahal, pencegahan sederhana bisa menyelamatkan nyawa.
Tetap waspada, tetap bersih. Jangan biarkan tikus dan air kotor jadi jalan masuk penyakit ke rumah kita.








