Ringkasan Berita
- Amanda Pitarini Utari, Sp.PD-KGEH, menegaskan bahwa tata laksana IBD membutuhkan pendekatan multidisiplin karena ting…
- Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Gastroentero-Hepatologi lulusan Universitas Indonesia, dr.
- Vaksinasi dan Operasi untuk Pasien Radang Usus Amanda menambahkan, selain terapi obat, vaksinasi tertentu dapat direk…
Topikseru.com – Penyakit radang usus atau Inflammatory Bowel Disease (IBD) menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu diwaspadai masyarakat.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Gastroentero-Hepatologi lulusan Universitas Indonesia, dr. Amanda Pitarini Utari, Sp.PD-KGEH, menegaskan bahwa tata laksana IBD membutuhkan pendekatan multidisiplin karena tingkat kesulitannya yang beragam.
“Pada dasarnya, pengobatan penyakit radang usus dapat berupa terapi obat, baik tablet maupun injeksi. Namun dalam beberapa kasus diperlukan pembedahan, atau kombinasi obat dan operasi,” kata Amanda dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (12/9).
Vaksinasi dan Operasi untuk Pasien Radang Usus
Amanda menambahkan, selain terapi obat, vaksinasi tertentu dapat direkomendasikan untuk mencegah infeksi pada pasien IBD. Bila peradangan kronis merusak saluran pencernaan, tindakan operasi untuk mengangkat bagian usus yang rusak bisa menjadi pilihan.
Meski begitu, ia menekankan pentingnya pencegahan IBD dengan pola hidup sehat sejak dini. “Faktor risiko genetik memang kuat, studi menunjukkan 5–20 persen penderita IBD memiliki anggota keluarga tingkat pertama yang juga mengidap penyakit ini,” ujarnya.
Langkah pencegahan yang disarankan antara lain meningkatkan asupan serat, konsumsi buah, sayur, whole grains, mengurangi makanan olahan (ultra processed food), dan berolahraga teratur.
Risiko Komplikasi Radang Usus
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Gastroentero-Hepatologi lainnya, dr. Indra Marki, Sp.PD-KGEH, FINASIM, memperingatkan bahwa jika tidak ditangani dengan benar, IBD bisa berujung pada komplikasi serius.
“Pasien dapat menghadapi komplikasi berbahaya seperti kanker kolon, polip kolon, striktur usus besar, toxic megacolon, hingga fistula ani,” kata Indra.
Lebih jauh, IBD juga bisa memunculkan manifestasi extraintestinal, di luar sistem pencernaan. Gejalanya bisa berupa sariawan kronis, luka pada kulit, gangguan sendi, radang mata, hingga radang pembuluh darah.
Gejala dan Diagnosis Radang Usus
Menurut dr. Paulus Simadibrata, Sp.PD, penyakit radang usus adalah sekelompok penyakit autoimun di mana sistem kekebalan tubuh menyerang saluran cerna sendiri.
Tantangan utama diagnosis adalah masyarakat sulit membedakan diare biasa dengan diare akibat IBD.
“Penyakit radang usus umumnya didiagnosis pada usia dewasa muda dan bisa berdampak pada produktivitas kerja,” ujar Paulus.







