Topikseru.com, Jakarta – Bagi seorang ibu yang baru memiliki bayi sebaiknya ibu jangan mengabaikan penurunan frekuensi BAB pada bayi. Selain itu, perhatikan juga kondisi BAB pada bayi.
Jika bayi terlihat mengalami kesulitan BAB, segera lakukan penanganan dan jangan abaikan kondisi ini.
Nah, ada berbagai penyebab bayi mengalami kesulitan BAB. Salah satu penyebabnya masalah pada pencernaan.
Selain itu, ibu juga perlu mengetahui gejalanya agar kondisi ini dapat segera teratasi, sehingga tidak menyebabkan gangguan pada tumbuh kembang bayi.
Kenali Gejala Bayi Susah BAB
Penting untuk mengenali gejala konstipasi pada bayi agar bisa segera mengambil tindakan.
Beberapa gejala umum bayi susah BAB meliputi:
Frekuensi BAB yang lebih jarang dari biasanya.
Feses yang keras dan sulit dikeluarkan.
Bayi terlihat mengejan atau menangis saat BAB.
Perut bayi terasa keras dan kembung.
Nafsu makan berkurang.
Bayi menjadi rewel dan mudah marah.
Penyebab Bayi Susah BAB
Ada berbagai penyebab bayi susah BAB yang perlu ibu ketahui.
Setelah mengetahui penyebabnya, dokter akan menentukan perawatan yang tepat untuk anak.
Nah, beberapa penyebab bayi susah BAB.
1. Kelahiran prematur
Bayi yang mengalami kelahiran prematur akan berisiko tinggi mengalami konstipasi. Hal ini terjadi karena sistem pencernaan bayi yang belum optimal saat lahir.
Alhasil, pengonsumsian ASI akan bergerak lebih lambat melalui pencernaan sehingga tidak terproses dengan baik.
Kondisi ini dapat menyebabkan feses menjadi keras dan kering sehingga bayi mengalami konstipasi.
2. Dehidrasi
Kekurangan cairan dapat menyebabkan bayi mengalami konstipasi. Saat bayi dehidrasi, maka feses akan menjadi keras dan kering sehingga sulit untuk dikeluarkan.
Untuk itu, pastikan bayi mendapatkan cukup ASI untuk mencegah konstipasi.
3. Mengalami gangguan kesehatan
Selain kekurangan cairan, bayi juga dapat mengalami konstipasi ketika mengalami gangguan kesehatan, khususnya pada sistem pencernaan.
Jika kondisi ini tidak membaik dalam waktu beberapa hari, sebaiknya ibu tanyakan langsung pada dokter spesialis anak.
Mendeteksi penyakit dan penanganan yang lebih dini membuat pengobatan menjadi lebih mudah untuk dilakukan.
4. Asupan susu formula
Jenis makanan yang diberikan kepada bayi memengaruhi pola buang air besarnya.
ASI mengandung nutrisi alami dan serat yang lebih mudah cerna, sehingga cenderung meminimalkan risiko sembelit.
Di sisi lain, formula susu cenderung memiliki komposisi yang berbeda dan mungkin kurang serat, yang dapat menyebabkan bayi lebih sulit buang air besar.
Ibu juga bisa cari tahu alasan bayi susah BAB lainnya di artikell ini: “Hanya Konsumsi ASI, Ini Penyebab Bayi Susah BAB”.
5. Perubahan pola makan
Ketika bayi sudah mengonsumsi makanan pendamping ASI, kondisi ini dapat meningkatkan risiko konstipasi.
Perubahan pola makan dapat memengaruhi konsistensi dan frekuensi buang air besar.
Makanan yang kurang serat dan perubahan tekstur juga bisa memicu perubahan dalam pencernaan bayi. Jadi, pastikan ibu memberikan tahapan tekstur yang tepat pada bayi.
Penyebab Bayi Sering Kentut
Bayi yang sering kentut sebenarnya hal yang normal.
Meski begitu, ada beberapa tanda yang perlu ibu waspadai saat Si Kecil kentut karena tanda-tanda ini bisa mengindikasikan kondisi medis tertentu:
1. Pencernaan bayi masih berkembang
Sistem pencernaan bayi masih berkembang setelah lahir. Hal inilah yang sering menyebabkan bayi sering kentut.
Proses pencernaan yang belum matang tersebut sering kali menyebabkan akumulasi gas yang kemudian dikeluarkan melalui kentut.
2. Masuknya udara saat menyusu
Bayi umumnya menelan udara saat menyusu, baik itu dari menyusui langsung dari payudara atau dari botol.
Udara yang tertelan ini bisa terperangkap dalam sistem pencernaan dan menyebabkan kentut.
Cara bayi mengisap ataupun jenis dot botol juga dapat memengaruhi banyaknya udara yang mereka telan..
3. Sensitivitas atau alergi terhadap susu formula atau ASI
Beberapa bayi mungkin sensitif terhadap protein tertentu dalam susu formula atau bahkan pada protein yang mereka dapatkan melalui ASI ketika ibu mengonsumsi makanan tertentu.
Sensitivitas ini dapat menyebabkan peningkatan produksi gas dan kembung pada bayi.
4. Intoleransi laktosa
Meskipun lebih jarang terjadi pada bayi baru lahir, intoleransi laktosa adalah kondisi saat bayi kesulitan mencerna laktosa.
Laktosa adalah gula alami yang ditemukan dalam susu. Kondisi ini juga bisa menyebabkan pembentukan gas yang berlebihan.
5. Perubahan dalam pola makan
Perubahan pola makan ibu selama menyusui atau perubahan dari ASI ke susu formula dapat mempengaruhi sistem pencernaan bayi dan menyebabkan peningkatan gas.
Jika Si Kecil sering buang gas dan disertai ketidaknyamanan, seperti rewel, sebaiknya ibu perlu waspada.
Ini Rekomendasi Dokter Spesialis Anak di Halodoc yang bisa ibu hubungi.
Cara Mengatasi Bayi Susah BAB
Lalu, bagaimana mengatasi bayi susah BAB? Ibu bisa mencoba untuk melakukan beberapa cara sederhana di rumah sebagai langkah perawatan yang pertama, seperti:
1. Mandikan dengan air hangat
Ibu juga bisa memandikan anak dengan air hangat. Perawatan ini membuat anak menjadi lebih rileks dan nyaman, sehingga mengurangi rewel yang terjadi ketika anak kesulitan BAB.
Melansir dari International Scholarship Conference dengan judul The Effectiveness of Warm Water Therapy for Constipation, air hangat bisa melembapkan feses dalam usus sehingga feses menjadi lebih mudah dikeluarkan.
2. Perbanyak asupan air putih
Selain memberikan ASI, jika anak sudah memasuki usia 6 bulan ke atas, ibu bisa memberikan anak asupan air putih.
Melansir dari Current Research in Nutrition and Food Science dengan judul Water Intake, Dietary Fibre, Defecatory Habits and its Association with Chronic Functional Constipation, kurang air putih dapat menyebabkan feses menjadi keras sehingga memicu terjadinya konstipasi.
Dengan memberikan banyak air putih, maka feses akan lebih lembut dan mudah bergerak pada saluran pencernaan sehingga menurunkan konstipasi pada anak.
3. Berikan pijatan lembut
Ibu juga bisa memberikan pijatan lembut pada bagian perut bayi untuk membantu melancarkan BAB.
Melansir dari Jurnal Kedokteran Universitas Lampung dengan judul Pengaruh Terapi Pijat Terhadap Konstipasi, pijat dapat menstimulasi gerakan peristaltik dan meningkatkan frekuensi buang air besar pada pengidap konstipasi.
Teknik pijat dapat mengatasi konstipasi karena berkaitan dengan kombinasi stimulasi dan relaksasi.
Namun, sebelum memijat bayi, pastikan suhu ruangan nyaman untuk bayi saat tidak menggunakan pakaian, hangatkan tangan ibu terlebih dahulu, dan buatlah suasana yang nyaman.
Ibu bisa menggunakan minyak yang sesuai dengan kondisi kulit bayi. Untuk memulai pijatan, letakkan tangan pada bawah pusar.
Usap perlahan ke arah bawah seperti mengayuh. Kemudian, usap lembut searah jarum jam dengan membentuk lingkaran.
Setelah itu, ibu bisa mencoba untuk menggerakan kaki bayi seperti mengayuh sepeda. Lakukan perlahan dengan lembut dan nyaman.
Selain melancarkan BAB, cari tahu manfaat lain dari spa bayi melalui artikel ini: Ibu, Ini 11 Manfaat Baby Spa untuk Kesehatan yang Perlu Diketahui.
4. Lebih rutin memberikan ASI
Jika konstipasi terjadi akibat kekurangan cairan, sebaiknya ibu rutin berikan ASI secara langsung agar kebutuhan cairan tubuh pada bayi bisa terpenuhi.
Jika bayi sudah berusia di atas enam bulan atau telah menjalani MPASI, ibu bisa memberikan cairan lain, seperti air putih atau jus apel tanpa gula.
5. Mengajak bayi melakukan aktivitas fisik
Jika bayi sudah belajar merangkak atau bisa duduk sendiri, sebaiknya cobalah untuk mengajaknya melakukan aktivitas fisik.
Pergerakan tersebut membuat feses menjadi lebih mudah untuk bergerak dan dikeluarkan dari dalam perut.
6. Mengatur jenis makanan dan minuman anak
Ketika anak masuk usia MPASI, ibu bisa mengatasi konstipasi dengan mengatur jenis makanan dan minuman anak.
Pilihlah beberapa buah dan sayur yang baik untuk melancarkan pencernaan, seperti pir dan brokoli.
Selain itu, perhatikan pemberian tekstur makanan dan porsinya. Pastikan teksturnya sesuai dengan usia anak.
Berikan juga porsi dalam jumlah yang kecil atau sedikit terlebih dahulu.
7. Lakukan pemeriksaan secara medis
Jika berbagai cara alami tidak menyebabkan konstipasi membaik, sebaiknya segera lakukan pemeriksaan kesehatan pada rumah sakit.
Konstipasi yang tidak membaik bisa tentunya memerlukan pengobatan secara medis.
8. Ubah posisi menyusui
Beberapa posisi menyusui dapat membantu bayi lebih mudah mengeluarkan gas dan feses. Coba posisikan bayi tegak atau semi-tegak saat menyusui.
Hindari membaringkan bayi sepenuhnya saat menyusui, karena posisi ini dapat membuat bayi lebih sulit mengeluarkan gas.












