Asmara

Aktivitas Seksual Suami Istri Mulai Hambar? Hati-hati Bisa Jadi Dry Spell: Kenali Faktor Penyebab dan Tanda-tandanya!

×

Aktivitas Seksual Suami Istri Mulai Hambar? Hati-hati Bisa Jadi Dry Spell: Kenali Faktor Penyebab dan Tanda-tandanya!

Sebarkan artikel ini
dry spell dalam pernikahan
Suami istri. Freepik

Topikseru.com – Kurangnya keintiman seksual atau dry spell dalam hubungan suami istri kerap menimbulkan kekhawatiran. Kondisi ini merujuk pada situasi ketika aktivitas seksual menjadi semakin jarang, bahkan nyaris tidak ada dalam periode tertentu.

Dalam beberapa kasus, dry spell bisa membuat pernikahan terasa datar dan hambar. Namun, para ahli menegaskan bahwa kondisi ini tidak selalu menjadi tanda bahaya. Dry spell justru tergolong umum dan dapat terjadi pada hubungan yang sebenarnya baik-baik saja.

Yang perlu diperhatikan, dry spell baru menjadi masalah serius ketika menimbulkan tekanan emosional, rasa frustrasi, atau jarak psikologis antara pasangan.

Fenomena Umum dalam Dinamika Pernikahan

Dalam kehidupan berumah tangga, perubahan ritme seksual sering kali dipengaruhi dinamika hidup. Kesibukan mengurus anak, pekerjaan, kelelahan fisik, hingga stres berkepanjangan dapat membuat hubungan intim bukan lagi prioritas utama.

“Yang terpenting bukan seberapa sering pasangan berhubungan seksual, tetapi apakah kedua belah pihak merasa nyaman dan sepakat dengan frekuensi tersebut,” demikian pandangan yang kerap disampaikan para konselor pernikahan.

Selama kedua pasangan masih merasa terhubung secara emosional dan tidak merasa tertekan, dry spell bisa saja sebagai fase normal.

Penyebab Dry Spell dalam Hubungan

Terapis seks dan penulis buku Becoming Cliterate, Dr. Laurie Mintz, menjelaskan bahwa dry spell dapat dipicu oleh faktor individual, medis, maupun dinamika hubungan suami istri.

Beberapa penyebab umum dry spell antara lain:

1. Faktor gaya hidup dan lingkungan

  • Stres pekerjaan dan masalah finansial
  • Jadwal harian yang padat
  • Kurang tidur dan kelelahan kronis
  • Konsumsi alkohol berlebihan
  • Kehadiran bayi atau balita

2. Faktor emosional dan psikologis

  • Kecemasan dan depresi
  • Konflik pernikahan yang tidak terselesaikan
  • Hilangnya kedekatan emosional
  • Rasa bosan dalam hubungan jangka panjang
  • Menurunnya kepercayaan diri atau body image
Baca Juga  Bukan Perselingkuhan, Ini 7 Penyebab Kehidupan Ranjang Suami Istri Hambar Setelah Menikah, Istri Jangan Sepele!

3. Faktor fisik dan medis

  • Perubahan hormon pascamelahirkan, menyusui, atau menopause
  • Efek samping obat-obatan tertentu, termasuk antidepresan SSRI
  • Nyeri saat berhubungan seksual
  • Penurunan libido setelah memiliki anak

“Hubungan seksual seharusnya tidak menimbulkan rasa sakit. Jika itu terjadi, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga medis,” ujar Mintz.

Tanda-tanda Mengalami Dry Spell

Setiap pasangan memiliki dinamika berbeda, namun beberapa tanda umum dry spell meliputi:

  • Frekuensi hubungan seksual menurun drastis
  • Hasrat seksual berkurang atau menghilang
  • Menurunnya kedekatan emosional
  • Rasa tidak percaya diri atau merasa tidak menarik
  • Hilangnya spontanitas dan gairah dalam hubungan intim

Kapan Dry Spell Masih Normal?

Dry spell masih wajar apabila:

  • Terjadi akibat fase hidup tertentu, seperti kelelahan pascamelahirkan, tekanan pekerjaan, atau perubahan besar dalam hidup
  • Bersifat sementara dan membaik seiring berkurangnya stres
  • Diterima oleh kedua pasangan tanpa konflik atau tekanan emosional
  • Keintiman nonseksual tetap terjaga, seperti berpelukan, berbincang hangat, atau sentuhan penuh kasih

Jika keintiman emosional dan fisik masih berjalan meski frekuensi hubungan seksual menurun, pasangan tidak perlu langsung merasa cemas.

Pentingnya Kesadaran dan Komunikasi

Para ahli sepakat, komunikasi terbuka menjadi kunci dalam menghadapi dry spell. Menyadari bahwa kondisi ini tidak selalu berarti ada masalah serius dapat membantu pasangan lebih tenang dan saling memahami.

Namun, jika dry spell berlangsung lama dan memicu konflik, rasa tertekan, atau menjauh secara emosional, bantuan profesional seperti dokter atau konselor pernikahan dapat menjadi solusi yang tepat.