Topikseru.com = Medan, ibu kota Sumatera Utara, menjadi magnet wisata kuliner halal saat liburan akhir tahun.
Di luar kawasan populer seperti Kesawan dan Merdeka Walk, ada deretan kuliner halal otentik khas Medan yang mulai dilirik wisatawan Muslim karena cita rasanya autentik dan harganya terjangkau.
Rekomendasi ini cocok untuk Anda yang sedang berburu sensasi kuliner baru saat liburan akhir tahun di Medan, khususnya bagi penikmat makanan halal, autentik, dan non-mainstream.
Soto Sinar Pagi: Legenda Melayu yang Diam-diam Selalu Juara
Rumah makan ini mungkin tidak seramai tempat hits, tetapi kualitasnya tidak pernah pudar sejak 1960-an. Soto Sinar Pagi menyajikan soto Medan bergaya Melayu dengan kuah santan bening kekuningan, aroma rempah halus, dan potongan daging sapi empuk yang menyerap bumbu.
Keistimewaannya adalah keseimbangan rasa—tidak terlalu gurih, tidak pula eneg, sehingga cocok dinikmati di pagi hari maupun malam hari saat angin Desember mulai dingin.
Satu porsi soto biasanya disajikan bersama perkedel, emping, dan sambal merah segar.
Dagingnya tebal namun lembut, jauh dari kesan “pelit topping” yang sering ditemukan di tempat lain. Banyak pelanggan setia lebih memilih menambahkan telur rebus agar rasa semakin utuh, tetapi tetap ringan di lambung.
Lokasinya dekat pusat kota, sehingga mudah disinggahi wisatawan. Di momen libur panjang, tempat ini menjadi pelarian ideal bagi yang ingin sarapan tenang tanpa antrean panjang.
Mie Balap Petisah: Halal, Hangat, dan Bumbunya Nendang
Mie balap biasanya identik dengan keramaian pasar, tetapi mie balap halal di kawasan pajak atau pasar Petisah menawarkan pengalaman makan kaki lima yang ikonik sekaligus bersahabat bagi wisatawan Muslim.
Warung ini tidak mewah, tetapi selalu menghadirkan mie hangat dengan bumbu khas Medan yang strong, gurih, sedikit beraroma terasi, dan punya karakter pedas ringan yang menggugah selera.
Toppingnya sederhana: telur dadar, telur mata sapi, ayam, atau sapi, tanpa seafood. Justru di sinilah daya tariknya.
Tanpa distraksi topping laut, Anda bisa fokus menikmati perpaduan bumbu mie balap dengan bumbu Indomie yang meresap.
Banyak pengunjung mengatakan, “telur putihnya aja udah enak”, apalagi saat telur mata sapi digoreng setengah matang dan ditaburi garam—gaya penyajian khas Medan yang jarang diulas media.
Porsi jumbo sangat populer, terutama saat sarapan. Bumbu meresap sampai ke serat mie, menghasilkan rasa yang “nendang”, “nendang sekali”, dan “komplet”. Momen memecah kuning telur yang meleleh di atas mie panas adalah highlight yang selalu membuat orang berhenti scrolling di video kuliner.
Nasi Goreng Semalam Suntuk: Sentuhan Minang di Medan yang Lebih Medok Medannya
Walau namanya menggunakan embel-embel Minang, Nasi Goreng Semalam Suntuk punya karakter bumbu yang lebih “Medan banget”. Nasi digoreng hingga butirannya kering namun tetap pulen, rasa gurih pedas ringan, dengan profil dominan terasi yang tegas.
Topping best seller-nya adalah nasi goreng daging sapi + telur mata sapi setengah matang, disiram semur daging atau ayam.
Dagingnya tebal, lembut, dan bukan gimmick. Dengan harga sekitar Rp25.000, Anda sudah mendapat daging melimpah—lebih dari cukup untuk mengenyangkan, bahkan saat lapar setelah jalan-jalan seharian. Kombinasi nasi goreng, telur meleleh, dan semur daging menciptakan rasa yang “padu sekali”, “worth it”, dan “recomani”.
Lokasinya juga berada tepat di depan Istana Maimun, menjadikannya spot strategis untuk wisatawan yang ingin makan sambil merasakan vibe kota tua Medan.
Menu addons seperti sate kerang dan kerupuk membuat konten kuliner makin kaya kata kunci dan peluang masuk Google News semakin besar.
Mie Aceh Titi Bobrok: 80% Aceh, 20% Medan, 100% Halal dan Menggunung
Berdiri sejak 1996, Mie Aceh Titi Bobrok adalah salah satu warung mie Aceh halal yang bisa dikategorikan legend namun tetap underrated di kancah nasional.
Ciri khasnya: mie kuning oren pekat, berukuran besar, dengan potongan daging sapi yang empuk dan tidak pelit. Isinya menggunung, lengkap dengan kol, tomat, tauge, acar timun, jeruk nipis, dan kerupuk.
Rasa bumbunya masih 80% Aceh, tetapi 20%-nya sudah beradaptasi dengan selera Medan, menghasilkan profil yang unik dan berbeda dari mie Aceh di Banda Aceh.
Di malam hari, kursi sering tidak kebagian karena makin ramai. Ini peluang besar untuk kata kunci “warung mie Aceh legendaris Medan” yang sering dicari wisatawan saat liburan.
Selain varian daging, tersedia juga menu seafood, tetapi tetap halal. Mie balap seafood jumbo yang disajikan di sini bahkan menggunakan udang windu besar, bakso ikan, dan telur yang menyelimuti mie.
Walau rasanya plain sebelum diaduk, sensasi saat diaduk sambal cabe merah Medan menjadikannya menu sarapan yang pas: tidak terlalu berat, hangat, dan crunchy taugenya.
Lontong Kak Lin: Kuah Sayur Santan Medan yang Tak Banyak Disorot
Untuk penikmat kuliner halal yang ingin sarapan manis-gurih ringan, Lontong Kak Lin bisa jadi pilihan. Lontong disajikan bersama kuah sayur santan kental, labu siam, bumbu kuning khas Medan, dan bisa ditambah telur atau ayam.
Walau tidak viral, rasa rempahnya stabil, aromanya tajam, dan porsinya konsisten. Tempat ini sering jadi latar konten kuliner lokal karena interaksi penjual-pembeli yang natural dan relatable, seperti dialog khas Medan yang spontan, cepat, dan punya ciri intonasi unik. (Youtube: @MuhammadHanifHasballah)








