Keluarga

Musuh Pernikahan, 7 Kebiasaan Sepele yang Bisa Hancurkan Rumah Tangga Diam-Diam

×

Musuh Pernikahan, 7 Kebiasaan Sepele yang Bisa Hancurkan Rumah Tangga Diam-Diam

Sebarkan artikel ini
dry spell dalam pernikahan
Suami istri. Freepik

Topikseru.com -Banyak orang mengira kehancuran pernikahan terjadi karena satu badai besar, seperti perselingkuhan, krisis finansial, atau pertengkaran hebat. Padahal, realitanya seringkali jauh lebih sunyi.

Retaknya rumah tangga justru sering berawal dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang diabaikan dan perlahan membunuh keintiman.

Dalam sebuah riset hubungan rumah tangga, psikolog keluarga menegaskan, pernikahan bisa hancur pelan-pelan hanya karena retakan-retakan kecil yang tak pernah disadari.

Kebanyakan pasangan tidak menyadari sinyal bahaya ini sampai segalanya sudah telanjur renggang.

7 Kebiasaan Sepele yang Merusak Pernikahan

Berikut adalah daftar kebiasaan sehari-hari yang diam-diam bisa mengguncang fondasi pernikahan:

1. Tidak Menjadi Tim

Pernikahan bukan medan kompetisi. Suami-istri harus saling menopang, termasuk dalam mengurus rumah tangga.

Beban yang timpang akan membuat salah satu pihak merasa lelah dan dimanfaatkan. Jika dibiarkan, ini bisa memicu frustasi mendalam.

2. Tidak Kompak Mengasuh Anak

Beda pola asuh sering memicu pertengkaran. Anak pun jadi bingung melihat orang tua yang tak satu suara. Lama-kelamaan, ketidakharmonisan ini menciptakan jarak emosional.

3. Lingkaran Pertemanan Beracun

Teman-teman yang toxic, meremehkan pasangan atau mendorong perilaku tak sehat, bisa memengaruhi cara pandang kita pada pasangan. Tanpa sadar, kepercayaan dan rasa hormat pun perlahan tergerus.

Baca Juga  Gelombang Perceraian Artis Sepanjang 2025: Mengapa Banyak Rumah Tangga Seleb Retak? Ini 10 Faktor Utama yang Harus Diwaspadai

4. Keluarga Bukan Prioritas

Kesibukan kerja, hobi, atau kesenangan pribadi sering kali lebih diutamakan daripada keluarga.

Padahal, hubungan hangat butuh waktu dan komitmen. Jika keluarga bukan prioritas, jarak akan terbentuk dengan sendirinya.

5. Masalah Seks Tak Dibicarakan

Urusan ranjang kerap dianggap tabu untuk dibicarakan. Padahal, kebutuhan seksual menyangkut fisik dan emosi.

Ketidakcocokan soal keintiman yang tidak pernah diomongkan bisa menciptakan ketegangan.

6. Menghindari Konflik

Konflik justru sehat jika dihadapi dengan dewasa. Menghindari konflik hanya akan menumpuk luka yang belum selesai – sampai akhirnya menjadi bom waktu.

7. Harapan Tidak Realistis

Menuntut pasangan sempurna hanya akan membuka pintu kekecewaan. Pernikahan adalah ruang kompromi, bukan panggung ekspektasi tinggi yang membebani.

Retakan Halus, Keretakan Besar

Sebagian pasangan menunda bicara jujur karena takut melukai. Ironisnya, justru diam dan menghindari masalah membuat luka kian dalam.

Saat dua orang berhenti mendengar, berhenti peduli, pernikahan akan kosong perlahan.

Jika Anda menemukan tanda-tanda di atas, inilah saatnya menata ulang.

Pernikahan sehat hanya bisa dijaga dengan kepekaan, komunikasi terbuka, dan kerja sama nyata – bukan asumsi “semuanya akan baik-baik saja.”