Komunitas

Selaju Sampan Hidup Lagi: Tradisi Zaman Kolonial Ramaikan HUT ke-356 Kota Padang

×

Selaju Sampan Hidup Lagi: Tradisi Zaman Kolonial Ramaikan HUT ke-356 Kota Padang

Sebarkan artikel ini
Selaju Sampan

Ringkasan Berita

  • Setelah sekian lama tenggelam dalam ingatan sejarah, lomba Selaju Sampan – permainan rakyat sejak zaman Kolonial Bela…
  • Namun, perang dunia kedua sempat memaksa perlombaan ini vakum, menyisakan nama Seberang Palinggam Sejati (SPS) – klub…
  • Selaju Sampan atau Selaju Sampan Dayuang Palinggam bukan sekadar lomba dayung biasa.

Topikseru.com – Sungai Batang Arau di Seberang Palinggam, Kota Padang, Sumatera Barat, akan kembali bergemuruh dengan suara dayung membelah air.

Setelah sekian lama tenggelam dalam ingatan sejarah, lomba Selaju Sampan – permainan rakyat sejak zaman Kolonial Belanda – akan dihidupkan lagi untuk meramaikan HUT ke-356 Kota Padang, 7 hingga 10 Agustus 2025.

Selaju Sampan atau Selaju Sampan Dayuang Palinggam bukan sekadar lomba dayung biasa. Tradisi ini sudah menghiasi Batang Arau sejak sebelum 1930-an, bahkan konon menjadi ajang adu gengsi di masa pendudukan Belanda.

Kala itu, dayung sampan di Sungai Batang Arau bukan hanya hiburan, tapi juga simbol kebersamaan warga pesisir Padang.

Namun, perang dunia kedua sempat memaksa perlombaan ini vakum, menyisakan nama Seberang Palinggam Sejati (SPS) – klub dayung legendaris yang pernah menaklukkan arus sungai dengan 12 awak mendayung di atas sampan kayu panjang.

Persiapan Matang: Sungai Dikuras Sedimen

Untuk merawat memori sejarah, Pemerintah Kota Padang lewat Dinas PUPR bergerak cepat. Dasar Sungai Batang Arau dikeruk menggunakan ekskavator, demi memastikan arus tetap lancar, sampan bisa melaju tanpa hambatan, dan ribuan penonton nyaman menyaksikan adu cepat di lintasan air sepanjang 500 meter.

“Pengerukan dilakukan di sepanjang Batang Arau. Kita harapkan nanti peserta dan penonton nyaman untuk berlomba dan menyaksikannya,” kata Didi Aryadi, Ketua Panitia HUT ke-356 Kota Padang, Jumat (18/7).

Format lomba masih mempertahankan tradisi: sampan sepanjang 12 meter dengan lebar satu meter diawaki belasan pedayung. Siapa yang dayungnya lebih dulu menyentuh labu-labu—tali pembatas di atas sungai – merekalah juaranya.

“Selaju Sampan ini bukan sekadar lomba, tapi cara kita merawat tradisi agar anak cucu tahu bagaimana permainan rakyat ini pernah hidup di Padang,” ujar Didi Aryadi.

Dengan dihidupkannya Selaju Sampan di Batang Arau, Pemerintah Kota Padang berharap Sungai bersejarah itu tak sekadar jadi jalur transportasi, tetapi juga magnet wisata. Apalagi, momentum HUT Kota Padang ke-356 selalu ditunggu warga dan perantau.