Ringkasan Berita
- Gaya orasi Avishkar yang penuh energi bahkan disebut-sebut menyerupai pidato Adolf Hitler, membuatnya dijuluki sebagi…
- Pidato tersebut tak hanya menyinggung isu korupsi di Nepal, tetapi juga menyerukan persatuan, kebebasan, keadilan, hi…
- Perdana Menteri KP Sharma Oli akhirnya mengundurkan diri, bahkan dikabarkan meninggalkan Nepal.
Topikseru.com – Nama Avishkar Raut mendadak mencuri perhatian publik internasional setelah pidatonya berjudul “Jai Nepal” viral di media sosial pada Maret 2025.
Pidato tersebut tak hanya menyinggung isu korupsi di Nepal, tetapi juga menyerukan persatuan, kebebasan, keadilan, hingga akuntabilitas.
Gaya orasi Avishkar yang penuh energi bahkan disebut-sebut menyerupai pidato Adolf Hitler, membuatnya dijuluki sebagian warganet sebagai “Fuhrer Gen Z Nepal”.
Namun, bagi sebagian besar pemuda Nepal, sosoknya justru menjadi simbol perlawanan dan harapan perubahan.
Pidato Viral Avishkar Raut Jadi Pemicu Aksi Besar
Dalam pidatonya di Sekolah Menengah Bahasa Inggris Holy Bell, Avishkar, yang juga menjabat sebagai ketua siswa Everlasting Imperial Institute, menyampaikan pesan sarat emosi.
“Hari ini aku berdiri di sini dengan mimpi membangun Nepal baru, dengan api harapan dan semangat yang menyala di dalam diriku… Bangkitlah, bersinarlah, dan songsonglah masa depan yang lebih gemilang,” ucapnya dengan lantang.
Dia juga menyinggung kondisi sosial-ekonomi negaranya yang masih dilanda pengangguran.
“Nepal, ibu yang melahirkan dan membesarkan kami. Apa yang engkau minta sebagai balasan? Kejujuran, kerja keras, serta pengabdian kami. Tetapi apa yang sudah kami lakukan? Kami justru terjerat pengangguran, padahal di hadapan kami terbentang kesempatan yang luas.”
Kata-kata tersebut menggema jauh melampaui dinding sekolah, hingga enam bulan kemudian menjadi pemantik gelombang protes Gen Z Nepal.
Krisis Politik: PM dan Presiden Mundur
Aksi besar-besaran yang dipimpin generasi muda berujung pada krisis politik. Perdana Menteri KP Sharma Oli akhirnya mengundurkan diri, bahkan dikabarkan meninggalkan Nepal.
Beberapa jam kemudian, Presiden Ram Chandra Poudel turut meletakkan jabatan, meski ia menegaskan kabinetnya tetap menjalankan pemerintahan sementara hingga terbentuk Dewan Menteri baru.
Situasi ini meninggalkan Nepal tanpa kepemimpinan eksekutif yang jelas, di tengah gejolak politik dan demonstrasi yang memakan korban jiwa.
Munculnya Nama Balen Shah
Di tengah kekosongan kekuasaan, muncul satu nama yang disebut-sebut sebagai kandidat Perdana Menteri baru Nepal: Balen Shah. Sosok yang dikenal sebagai rapper sekaligus Wali Kota Kathmandu ini telah lama menyuarakan kritik terhadap pemerintah melalui lirik-liriknya.
Salah satu lagunya berisi sindiran keras:
“Semua orang yang melindungi negara ini adalah orang bodoh. Semua pemimpin adalah pencuri, menjarah negeri dan memakannya.”
Melalui akun Facebook resminya pada 9 September, Shah menyerukan agar para demonstran tetap menjaga ketertiban serta menghindari jatuhnya korban jiwa maupun kerugian materi.








