Ringkasan Berita
- Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menegaskan bahwa fasilitas nuklir, dalam kondisi apa pun, tidak boleh menj…
- Dari sisi teknis, Direktur Jenderal IAEA Rafael Mariano Grossi menyatakan bahwa hingga saat ini tingkat radiasi di se…
- Pernyataan itu merespons laporan serangan Israel pada Jumat (13/6) dini hari lalu, yang menargetkan tiga lokasi fasil…
Topikseru.com – Pemerintah Indonesia menyuarakan keprihatinan mendalam atas potensi serangan terhadap instalasi nuklir Iran, menyusul meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah.
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menegaskan bahwa fasilitas nuklir, dalam kondisi apa pun, tidak boleh menjadi sasaran serangan karena dapat menimbulkan bencana kemanusiaan dan kerusakan lingkungan yang masif.
“Ancaman terhadap instalasi nuklir di Iran secara langsung membahayakan keselamatan warga sipil, termasuk WNI, dan berpotensi menciptakan krisis kemanusiaan berskala besar,” kata Juru Bicara Kemlu RI, Rolliansyah Soemirat, dalam pengarahan pers virtual di Jakarta, Rabu, 18 Juni 2025.
Pernyataan itu merespons laporan serangan Israel pada Jumat (13/6) dini hari lalu, yang menargetkan tiga lokasi fasilitas nuklir utama Iran: Natanz, Isfahan, dan Fordow, serta sejumlah ilmuwan nuklir Iran. Serangan itu diduga bertujuan melumpuhkan program nuklir Iran yang kembali menjadi sorotan dalam konflik regional.
Rolliansyah, yang akrab disapa Roy, menggarisbawahi bahwa serangan terhadap fasilitas nuklir bertentangan dengan aturan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) serta Traktat Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT) yang dijunjung bersama oleh negara-negara anggota PBB.
“Tindakan ini bukan hanya melanggar hukum internasional, tapi juga melemahkan upaya global menjaga rezim non-proliferasi,” ujar Roy.
Dia menegaskan bahwa Indonesia secara aktif menyampaikan posisinya di forum-forum IAEA dan mendesak semua pihak untuk mematuhi prinsip-prinsip perlindungan instalasi nuklir demi kemanusiaan.
Dari sisi teknis, Direktur Jenderal IAEA Rafael Mariano Grossi menyatakan bahwa hingga saat ini tingkat radiasi di sekitar fasilitas Natanz dan Isfahan masih terpantau normal. Namun, ia mengingatkan bahwa eskalasi militer dapat memperbesar kemungkinan pelepasan radiasi berbahaya.
“Penting bagi IAEA untuk menerima data teknis secara tepat waktu dan akurat agar dapat menilai kondisi dan dampaknya terhadap manusia dan lingkungan,” kata Grossi dalam pernyataan resminya.
Grossi menambahkan bahwa tanpa informasi tersebut, IAEA tidak dapat memberikan bantuan atau tanggapan teknis yang diperlukan jika terjadi krisis radiologi.
Indonesia mengingatkan semua negara untuk menahan diri dan menempuh jalur diplomasi dalam menyelesaikan konflik nuklir di kawasan. Serangan terhadap fasilitas nuklir tidak hanya berisiko menghancurkan stabilitas regional, tetapi juga menimbulkan dampak jangka panjang bagi keselamatan global.







