Nasional

Salah Tuduhan, Nyawa Dandi Melayang di Tengah Kerusuhan Makassar

×

Salah Tuduhan, Nyawa Dandi Melayang di Tengah Kerusuhan Makassar

Sebarkan artikel ini
Dandi
Potret almarhum Dandi Rusdamiansyah, mitra pengemudi Grab sekaligus mahasiswa yang telah lebih dari 7 tahun setia mengabdi di jalanan Makassar. Kepergiannya dalam tragedi kerusuhan meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, rekan sesama driver, dan komunitas besar Grab.

Ringkasan Berita

  • Dalam pernyataan resmi di media sosialnya, Grab menyebitkan Dandi bukan hanya seorang mitra, tapi bagian dari keluarg…
  • Kronologi Kerusuhan di Makassar Kerusuhan di Makassar dipicu oleh gelombang protes atas kematian Affan Kurniawan, seo…
  • Sebelumnya, tiga korban lain yang telah dinyatakan meninggal dunia adalah: Sarinawati (26) – pegawai staf DPRD Kota…

TOPIKSERU.COM -Komunitas ojek online di Indonesia tengah berduka, kali ini seorang Rusdamdiansyah atau Dandi driver grab yang juga seorang mahasiswa menjadi korban di tengah gelombang kerusuhan di Makassar

Pihak Grab Indonesia turut menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya Dandi yang telah menjadi bagian dari komunitas mitra pengemudi sejak lebih dari tujuh tahun lalu.

Dalam pernyataan resmi di media sosialnya, Grab menyebitkan Dandi bukan hanya seorang mitra, tapi bagian dari keluarga besar perusahaan

“Kami terdiam. Berat sekali rasanya menuliskan kabar ini. Almarhum bukan hanya mitra pengemudi, tetapi pejuang jalanan, sahabat bagi sesama mitra, dan keluarga besar Grab,” tulis Grab dalam unggahannya.

Kepergian Dandi bukan hanya kehilangan bagi keluarga tercinta, namun juga bagi ribuan mitra pengemudi lain yang merasa kehilangan sosok sahabat, rekan seperjuangan, sekaligus bagian dari keluarga besar Grab.

Seperti diketahui, Kerusuhan yang melanda Kota Makassar sejak Jumat malam telah merenggut nyawa empat orang, termasuk Dandi. Kejadian ini menambah panjang daftar korban dalam rangkaian aksi protes nasional yang berawal dari Jakarta.

Kronologi Kerusuhan di Makassar

Kerusuhan di Makassar dipicu oleh gelombang protes atas kematian Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online di Jakarta yang tewas setelah terlindas kendaraan taktis (rantis) polisi di depan Gedung DPR RI. Peristiwa itu memantik kemarahan publik yang kemudian menjalar ke berbagai kota besar, salah satunya Makassar.

Pada puncak aksi Jumat malam, ribuan demonstran menduduki gedung DPRD Makassar dan DPRD Sulsel. Situasi yang awalnya berupa aksi protes berubah menjadi tindakan anarkis. Gedung DPRD Makassar dibakar, mengakibatkan korban jiwa dan kerugian materi yang sangat besar.

Korban Jiwa dalam Kerusuhan Makassar

Meninggalnya Dandi menambah jumlah korban jiwa menjadi empat orang. Sebelumnya, tiga korban lain yang telah dinyatakan meninggal dunia adalah:

  • Sarinawati (26) – pegawai staf DPRD Kota Makassar.

  • Akbar Basri alias Abay (26) – staf Humas DPRD Makassar.

  • Syaiful Akbar (43) – Kepala Seksi Kesra Kecamatan Ujung Tanah.

Ketiga korban sebelumnya tewas dalam kebakaran gedung DPRD Makassar yang dibakar massa. Kini, nama Dandi turut menambah panjang daftar duka dalam tragedi tersebut.

Pihak Grab dengan penuh rasa kehilangan menyampaikan pernyataan resmi yang menyentuh hati:

“Beliau bukan sekadar mitra pengemudi, tetapi pejuang jalanan yang setia, sahabat bagi sesama mitra, dan bagian dari keluarga besar Grab.”

Grab menegaskan bahwa mereka akan terus memberikan pendampingan penuh kepada keluarga almarhum Dandi. Tidak hanya itu, perusahaan juga menyampaikan doa bagi mitra pengemudi lain yang menjadi korban luka dalam aksi unjuk rasa nasional di Jakarta dan kota-kota lainnya.

“Kami sedang memberikan pendampingan langsung dan dukungan penuh kepada keluarga yang ditinggalkan. Kehilangan ini sungguh tragis, meninggalkan duka yang begitu dalam, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi kami semua.”

Selain menimbulkan korban jiwa, kerusuhan di Makassar juga meninggalkan jejak kehancuran yang sangat besar. Bukan hanya nyawa yang melayang, tetapi juga kerugian material dalam jumlah besar yang membuat masyarakat dan pemerintah daerah harus menanggung beban berat.

Menurut data yang dihimpun, terdapat 67 unit kendaraan roda empat yang hangus terbakar. Mobil-mobil tersebut terdiri dari kendaraan pribadi milik pegawai DPRD, mobil dinas pejabat, serta beberapa mobil warga yang terparkir di sekitar lokasi. Api yang menjalar cepat akibat aksi pembakaran membuat kendaraan tersebut tidak dapat diselamatkan. Rangka besi dan sisa-sisa kendaraan yang gosong menjadi saksi bisu betapa parahnya kerusuhan malam itu.

Tidak hanya mobil, sebanyak 15 unit motor juga ikut dilalap api. Motor-motor yang pada awalnya digunakan masyarakat untuk beraktivitas sehari-hari kini hanya menyisakan bangkai terbakar. Kehilangan ini tidak sekadar tentang benda, melainkan juga memengaruhi mobilitas dan kehidupan pemiliknya yang bergantung pada kendaraan tersebut untuk mencari nafkah.

Lebih jauh lagi, beberapa kendaraan dinas pejabat juga menjadi korban amukan massa. Kendaraan dinas yang seharusnya digunakan untuk menunjang pelayanan publik berubah menjadi abu. Hal ini menandakan bahwa kerusuhan telah melampaui batas protes damai dan menjelma menjadi aksi anarkis yang merugikan banyak pihak.

Baca Juga  Resmi! Driver Ojek Online Kini Bisa Dapat THR, Ini Syarat dan Cara Mendapatkannya

Kendaraan yang terbakar tidak hanya berasal dari kalangan pemerintah, melainkan juga milik warga sipil yang sama sekali tidak terlibat dalam aksi. Mereka menjadi korban karena kebetulan berada di sekitar lokasi kejadian. Bagi mereka, kehilangan kendaraan berarti kehilangan aset berharga yang dibeli dengan jerih payah bertahun-tahun.

Kerugian materi ini semakin memperparah luka psikologis masyarakat Makassar. Warga kini hidup dalam ketakutan, trauma, dan kekhawatiran akan terulangnya kerusuhan serupa. Setiap kali melintasi gedung DPRD yang hangus terbakar atau melihat sisa-sisa kendaraan yang gosong, masyarakat kembali diingatkan pada malam mencekam tersebut. Tidak sedikit warga yang mengaku masih diliputi rasa waswas untuk beraktivitas di sekitar pusat kota.

Kronologis Tewasnya Dandi

Informasi yang dihimpun dari lapangan menyebutkan bahwa Dandi menjadi korban pengeroyokan setelah dituding sebagai intel aparat di tengah kerumunan massa. Saat kerusuhan berlangsung di kawasan Jalan Urip Sumoharjo, Makassar, situasi sangat kacau dan penuh kecurigaan. Massa yang sedang ricuh melihat gerak-gerik Dandi yang dianggap mencurigakan. Tanpa verifikasi, tuduhan itu langsung memicu amarah, hingga Dandi menjadi sasaran kekerasan brutal.

Dalam kondisi yang tidak terkendali, massa menyerang Dandi secara membabi buta. Ia tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan siapa dirinya sebenarnya. Padahal, Dandi hanyalah seorang mitra pengemudi Grab yang baru saja selesai mengantarkan pesanan. Tuduhan sepihak dan suasana mencekam malam itu membuat nyawanya melayang sia-sia.

Fadli, salah satu pejabat Pemkot Makassar, membenarkan informasi tersebut.

“Iya, dugaannya begitu, dikira intel. Tapi yang jelas, informasi yang kami terima, yang bersangkutan dikeroyok oleh massa saat kerusuhan di Urip,” ucapnya seperti yang dilansir dari Berita Kota Makasar

Pernyataan Fadli semakin menegaskan bahwa Dandi adalah korban salah sasaran di tengah situasi chaos. Dalam kondisi kerusuhan, emosi massa sulit dikendalikan sehingga muncul aksi main hakim sendiri. Akibatnya, seorang warga sipil tidak bersalah harus meregang nyawa hanya karena prasangka yang salah.

Tidak berhenti di situ, Fadli juga menjelaskan bahwa pihaknya segera turun tangan untuk membantu proses pemakaman Dandi. Pemerintah Kota Makassar berkoordinasi dengan keluarga korban, memberikan fasilitas berupa ambulans untuk membawa jenazah dari rumah duka ke pemakaman. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab moral sekaligus penghormatan terakhir bagi almarhum.

“Kami siapkan ambulans dari rumah duka ke pemakaman. Pemerintah Kota juga menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya korban.” tambah Fadli.

Akar Masalah: Dari Jakarta ke Makassar

Gelombang kemarahan publik bermula dari Jakarta, ketika Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online, meregang nyawa akibat terlindas rantis polisi saat demonstrasi di depan DPR RI. Kematian Affan menjadi simbol ketidakadilan bagi banyak kalangan, terutama bagi komunitas pengemudi ojek online yang merasa suara mereka tidak didengar.

Kasus ini dengan cepat menyulut emosi publik di berbagai kota, termasuk Makassar, yang kemudian berujung pada aksi anarkis. Apa yang terjadi di Makassar menjadi bukti nyata bahwa ketidakpuasan sosial bisa meluas dan berubah menjadi kerusuhan massal jika tidak ditangani dengan bijak.

Dalam situasi yang penuh duka ini, komunitas pengemudi Grab menunjukkan solidaritas yang kuat. Banyak rekan-rekan Dandi memberikan dukungan moral dan materi kepada keluarga yang ditinggalkan.

Pihak Grab juga berkomitmen memberikan bantuan langsung berupa pendampingan hukum, dukungan psikologis, hingga bantuan finansial untuk keluarga korban. Langkah ini diharapkan dapat meringankan beban keluarga Dandi serta memberi ketenangan di tengah masa sulit.

Tragedi yang menimpa Makassar menjadi pengingat bahwa aksi massa yang tidak terkendali berpotensi menimbulkan korban jiwa yang tidak seharusnya terjadi. Kehilangan Dandi menjadi simbol pengorbanan pekerja jalanan yang setiap hari berjuang untuk keluarganya.

Kini, masyarakat, komunitas mitra pengemudi, hingga pemerintah dituntut untuk bergandengan tangan membangun solidaritas dan kedamaian. Duka yang mendalam ini hendaknya menjadi titik balik untuk menghadirkan ruang dialog yang lebih sehat di antara masyarakat dan pemangku kebijakan.

pengemudi setia yang telah lebih dari tujuh tahun mengabdi. Kepergian Dandi meninggalkan luka yang begitu dalam, bukan hanya bagi keluarganya, tetapi juga bagi ribuan rekan mitra pengemudi dan komunitas Grab di seluruh Indonesia.

Dandi bukan hanya sekadar mitra pengemudi. Ia adalah pejuang jalanan yang setiap hari bekerja keras demi menafkahi keluarga, sahabat bagi sesama rekan, dan bagian penting dari keluarga besar Grab. Kehilangan ini terasa begitu berat, apalagi terjadi di tengah situasi penuh gejolak akibat kerusuhan di Makassar, yang hingga kini masih menyisakan trauma mendalam bagi masyarakat. (*)