Ringkasan Berita
- Dalam video tersebut, anggota DPRD Provinsi Gorontalo ini secara terbuka menyebut ingin merampok dan menghabiskan uan…
- Ucapan itu sontak menuai kecaman dan memunculkan berbagai pertanyaan publik, termasuk terkait integritas serta kondis…
- Berdasarkan data resmi dari e-LHKPN (Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara), terakhir kali diperbarui pada 26 M…
Topikseru.com – Nama Wahyudin Moridu mendadak menjadi perbincangan hangat di masyarakat Indonesia, khususnya di Gorontalo, setelah sebuah video dirinya tersebar luas di media sosial.
Dalam video tersebut, anggota DPRD Provinsi Gorontalo ini secara terbuka menyebut ingin merampok dan menghabiskan uang negara sambil tertawa bersama seorang wanita.
Ucapan itu sontak menuai kecaman dan memunculkan berbagai pertanyaan publik, termasuk terkait integritas serta kondisi harta kekayaan Wahyudin Moridu yang belakangan menjadi sorotan.
Berdasarkan data resmi dari e-LHKPN (Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara), terakhir kali diperbarui pada 26 Maret 2025, kekayaan Wahyudin justru tercatat minus.
Hal ini semakin menarik perhatian publik mengingat statusnya sebagai putra dari mantan Bupati Boalemo, Darwis Moridu, sekaligus anggota dewan termuda di Gorontalo.
Karier Politik yang Didukung Keluarga
Wahyudin Moridu bukanlah sosok baru di panggung politik Gorontalo. Namanya mulai dikenal publik ketika ia berhasil duduk sebagai anggota DPRD Kabupaten Boalemo periode 2019–2024.
Keberhasilan ini tentu bukan datang begitu saja, melainkan juga dipengaruhi oleh latar belakang keluarganya yang memiliki pengaruh kuat dalam dunia politik daerah.
Sebagai kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Wahyudin membawa nama besar ayahnya, Darwis Moridu, yang pernah menjabat sebagai Bupati Boalemo.
Kehadiran sang ayah di kursi kepala daerah membuat langkah Wahyudin di dunia politik semakin mulus.
Banyak pihak menilai, popularitas serta jaringan politik yang dimiliki Darwis Moridu telah membuka jalan bagi putranya untuk menapaki karier legislatif lebih cepat dibanding politisi muda lainnya.
Peran keluarga ini tidak hanya sebatas memberikan dukungan moral, tetapi juga secara langsung memperkuat citra politik Wahyudin di mata masyarakat.
Dalam budaya politik lokal, figur keluarga sering kali menjadi faktor penting yang memengaruhi pilihan masyarakat dalam menentukan wakilnya di parlemen. Hal ini pula yang membuat Wahyudin mampu meraih kepercayaan publik meski sempat diterpa berbagai isu miring.
Karier Wahyudin semakin menanjak pada Pemilu 2024, meskipun saat itu proses pemilu sempat diwarnai polemik.
Dalam Pemungutan Suara Ulang (PSU) di Dapil Boalemo–Pohuwato, ia berhasil mengumpulkan 5.654 suara, jumlah yang cukup signifikan untuk mengantarkannya ke kursi DPRD Provinsi Gorontalo.
Keberhasilan ini sekaligus menunjukkan bahwa meski sempat tersandung kasus narkoba di masa lalu, basis dukungan politik Wahyudin tetap solid.
Kemenangan tersebut menjadikannya salah satu politisi muda yang diperhitungkan di Gorontalo.
Dengan usia yang masih relatif muda, ia dipandang sebagai generasi penerus yang bisa membawa warna baru dalam politik daerah.
Namun, perjalanan politiknya tidak sepenuhnya berjalan mulus.
Rekam jejak kontroversi yang menyertainya membuat publik menaruh perhatian lebih besar terhadap setiap langkah yang diambil Wahyudin, baik di dalam parlemen maupun di ruang publik.
Detail Harta Kekayaan Wahyudin Moridu Menurut LHKPN
Meski dikenal sebagai politisi muda dengan latar belakang keluarga terpandang, laporan resmi LHKPN 2025 justru mengungkap kondisi finansial Wahyudin yang cukup mengejutkan.
1. Aset Tanah dan Bangunan – Rp 180.000.000
Wahyudin hanya tercatat memiliki satu aset berupa tanah dan bangunan seluas 2000 m² dengan luas bangunan 72 m². Aset tersebut berada di Kabupaten Boalemo dengan status warisan keluarga. Nilainya ditaksir sebesar Rp 180 juta.
Kepemilikan aset warisan ini memperlihatkan bahwa kekayaan pribadinya tidak berasal dari hasil usaha atau investasi, melainkan dari harta keluarga.
2. Alat Transportasi dan Mesin – Rp 0
Tidak ada kendaraan bermotor ataupun mesin yang tercatat dalam laporan kekayaannya. Hal ini terbilang janggal untuk ukuran seorang politisi, mengingat mobilitas seorang anggota dewan biasanya tinggi. Bisa jadi, Wahyudin hanya menggunakan fasilitas kantor atau kendaraan keluarga.
3. Harta Bergerak Lainnya – Rp 0
Tidak ada catatan mengenai barang bergerak berharga seperti perhiasan, logam mulia, atau koleksi bernilai tinggi.
4. Surat Berharga – Rp 0
Tidak ditemukan kepemilikan investasi berbentuk saham, obligasi, atau instrumen keuangan lainnya.
5. Kas dan Setara Kas – Rp 18.000.000
Jumlah tabungan yang dilaporkan Wahyudin hanya sekitar Rp 18 juta. Angka ini relatif kecil dibandingkan jabatan dan penghasilannya sebagai anggota DPRD provinsi.
6. Harta Lainnya – Rp 0
Tidak tercatat ada aset lain seperti usaha, hak cipta, maupun bentuk kekayaan non-fisik lainnya.
7. Hutang – Rp 200.000.000
Yang paling mengejutkan adalah catatan hutang Wahyudin sebesar Rp 200 juta. Dengan demikian, total hartanya menjadi minus.
Total Kekayaan: Rp -2.000.000
Secara keseluruhan, aset Wahyudin sebesar Rp 198 juta, sementara hutangnya mencapai Rp 200 juta. Artinya, total kekayaan bersihnya negatif Rp 2 juta.
Kontroversi yang Membayangi Karier Wahyudin Moridu
Nama Wahyudin Moridu tidak hanya dikenal karena usia mudanya yang berhasil menembus dunia politik, melainkan juga karena serangkaian kontroversi.
1. Kasus Narkoba Tahun 2020: Membayangi Reputasi Politik
Pada Maret 2020, publik dikejutkan dengan penangkapan Wahyudin Moridu di Jakarta. Ia tidak sendirian, melainkan bersama dua anggota DPRD lain dalam kasus penyalahgunaan narkoba. Kasus ini sontak mencoreng citra dirinya sebagai wakil rakyat yang seharusnya menjadi teladan bagi masyarakat.
Dalam pemeriksaan, Wahyudin mengaku bahwa dirinya sudah lama bergulat dengan kecanduan obat-obatan terlarang. Kondisi ini membuat ia harus menjalani rehabilitasi agar bisa kembali pulih. Meski akhirnya ia menyelesaikan proses rehabilitasi tersebut, citra buruk tetap melekat di mata publik.
Kasus narkoba ini menjadi catatan serius karena memperlihatkan kerapuhan moral seorang pejabat publik. Alih-alih menjaga amanah rakyat, ia justru terjebak dalam pergaulan yang menghancurkan reputasi. Walaupun kemudian ia berhasil kembali ke panggung politik, publik masih sulit melupakan noda hitam tersebut.
Bagi sebagian masyarakat, kembalinya Wahyudin ke dunia politik dianggap sebagai pembuktian bahwa ia bisa bangkit dari masa lalu kelam. Namun, bagi yang lain, kasus narkoba itu merupakan alasan mengapa integritasnya tetap diragukan.
2. Pernyataan Ingin Merampok Uang Negara: Kontroversi yang Viral di Medsos
Setelah kasus narkoba mereda, nama Wahyudin kembali jadi sorotan pada Jumat, 19 September 2025, ketika sebuah video dirinya viral di berbagai platform media sosial, termasuk Instagram, Facebook, dan WhatsApp Group.
Dalam video berdurasi singkat itu, Wahyudin terlihat berada di dalam mobil SUV bersama seorang wanita. Ia dengan santai menyebut:“Hari ini menuju Makassar menggunakan uang negara. Kita rampok ajah uang negara ini, kita habiskan ajah, biar negara ini makin miskin.”
Pernyataan itu ia lontarkan sambil tertawa lepas bersama wanita yang diduga adalah hubungan gelap (hugel). Ucapan tersebut menimbulkan amarah publik karena dianggap tidak pantas diucapkan oleh seorang wakil rakyat, apalagi di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang masih sulit.
Tidak berhenti di situ, Wahyudin bahkan menyombongkan diri akan menjabat hingga tahun 2031. Kalimat ini menimbulkan kesan bahwa ia merasa tidak tersentuh oleh kritik atau aturan, seolah posisi politiknya sangat kuat.
Kontroversi ini menjadi pukulan besar bagi citra DPRD Gorontalo. Banyak pihak menilai bahwa pernyataan Wahyudin tidak hanya bentuk candaan yang kelewatan, tetapi juga mencerminkan pola pikir seorang pejabat publik yang tidak menghargai amanah rakyat.
Permintaan Maaf Terbuka di Media Sosial
Setelah gelombang kritik tajam datang dari berbagai pihak, Wahyudin Moridu akhirnya mengambil langkah dengan menyampaikan permintaan maaf terbuka melalui akun Facebook pribadinya. Unggahan tersebut menjadi sorotan publik karena dianggap sebagai bentuk tanggung jawab sekaligus usaha meredam kemarahan masyarakat yang merasa tersakiti oleh pernyataannya.
Dalam tulisannya di akun Facebooknya, Wahyudin mengakui bahwa ucapannya yang menyebut “merampok uang negara” merupakan tindakan yang tidak pantas dan sama sekali tidak mencerminkan etika seorang wakil rakyat.
Ia menyadari bahwa sebagai figur publik, setiap perkataan dan tindakannya akan selalu diperhatikan serta dapat memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap lembaga legislatif.
Wahyudin juga menegaskan bahwa dirinya siap menerima segala konsekuensi dari kesalahannya, baik berupa hujatan, kritik, maupun cemoohan.
Menurutnya, hal itu merupakan bagian dari risiko yang harus ia tanggung sebagai seorang pejabat publik.
Dalam penjelasannya, ia berusaha meluruskan bahwa perkataan tersebut tidak pernah dimaksudkan secara serius, melainkan hanya sebatas candaan spontan ketika sedang berbicara santai dengan seorang wanita yang videonya kemudian viral di media sosial.
“Masyarakat Gorontalo yg sya Hormati, Ba’da Shalat Jum’at in sodara sodaraku sedang di suguhkan dengan video mengenai sya, Apapun yg sya lakukan di video in sya akui SALAH dan tidak Menunjukan Etika Seorang Pejabat Publik. Teman2 sya menerima Hujatan dan Cemohan apapun itu atas hal in, Karna murni hal in kesalahan sya. Hal in tentunya membuat Kegaduhan di masyarakat Gorontao, Jujur dari hati yg paling dalam sya tdk bermaksud demikian, Atas Kejadian ini Saya mohon maaf beribu ribu maaf kepada seluruh Rakyat Gorontalo, bill Khusus kepada Semua pendukung dan Keluarga sya ????????????,” tulisnya
Meski begitu, Wahyudin tetap menyampaikan permohonan maaf yang mendalam kepada seluruh pihak yang merasa tersinggung. Ia menuliskan permintaan maaf khusus kepada masyarakat Gorontalo yang telah memberikan kepercayaan politik kepadanya, para pendukung yang selama ini setia berada di belakangnya, serta kepada keluarganya yang ikut menanggung dampak dari kontroversi tersebut.
Unggahan permintaan maaf ini menuai beragam tanggapan. Sebagian masyarakat menganggap langkah Wahyudin sebagai bentuk tanggung jawab moral, sementara sebagian lainnya menilai permintaan maaf itu tidak cukup untuk menghapus kekecewaan publik. Banyak yang menilai bahwa seorang wakil rakyat seharusnya lebih berhati-hati dalam berbicara, terlebih ketika menyangkut isu sensitif seperti penyalahgunaan uang negara.
Permintaan maaf tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan kasus ini, namun juga menimbulkan pertanyaan besar: apakah publik akan kembali memberi kesempatan kepada Wahyudin, atau justru semakin menjauhi sosok yang dianggap telah mengkhianati amanah rakyat?
Dari data LHKPN, jelas terlihat bahwa harta kekayaan Wahyudin Moridu sangat terbatas bahkan tercatat negatif.
Meski lahir dari keluarga pejabat, kondisi finansialnya justru tidak mencerminkan sosok politisi yang mapan secara ekonomi.
Namun, yang membuat publik lebih kecewa bukan sekadar soal harta, melainkan rekam jejak kontroversial Wahyudin. Mulai
dari kasus narkoba hingga pernyataan ingin merampok uang negara, hal ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai integritas dan moral seorang pejabat publik.
Ke depan, publik menunggu bagaimana sikap partai dan lembaga DPRD menyikapi kasus ini. Apakah Wahyudin akan dikenai sanksi tegas, atau justru dibiarkan melanjutkan jabatannya hingga 2031 seperti yang ia ucapkan dalam video viral tersebut. (*)










