Nasional

Kepala Basarnas: Tidak Ada Daerah Terisolasi Pasca Bencana di Sumatera

×

Kepala Basarnas: Tidak Ada Daerah Terisolasi Pasca Bencana di Sumatera

Sebarkan artikel ini
Kepala Basarnas
Kepala Badan Pencarian dan Pertolongan Nasional (Basarnas), Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, justru membawa angin segar: tidak ada daerah yang benar-benar “terisolasi”

Ringkasan Berita

  • Namun, pernyataan terbaru dari Kepala Badan Pencarian dan Pertolongan Nasional (Basarnas), Marsekal Madya TNI Mohamma…
  • Sebelumnya, banyak kabar yang beredar mengenai daerah-daerah yang terputus aksesnya akibat kerusakan infrastruktur se…
  • “Bagi Badan SAR Nasional, tidak ada kata-kata daerah terisolasi karena kita bisa menjangkau, entah itu dengan pesaw…

Topikseru.com – Diketahui pasca bencana alam berupa banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera dalam beberapa pekan terakhir telah menyita perhatian nasional.

Sebelumnya, banyak kabar yang beredar mengenai daerah-daerah yang terputus aksesnya akibat kerusakan infrastruktur sempat menimbulkan kekhawatiran publik.

Namun, pernyataan terbaru dari Kepala Badan Pencarian dan Pertolongan Nasional (Basarnas), Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, justru membawa angin segar: tidak ada daerah yang benar-benar “terisolasi”.

Dalam keterangan resminya, Syafii menegaskan bahwa konsep “daerah terisolasi” tidak berlaku dalam operasi SAR Basarnas.

Menurutnya, meskipun akses darat mungkin terputus akibat longsor atau jembatan yang ambruk, tim SAR tetap memiliki berbagai jalur alternatif untuk menjangkau masyarakat terdampak.

“Bagi Badan SAR Nasional, tidak ada kata-kata daerah terisolasi karena kita bisa menjangkau, entah itu dengan pesawat maupun sarana laut,” ujar Syafii tegas.

Akses Darat Bisa Terganggu, Tapi Bukan Berarti Terputus Total

Syafii menjelaskan lebih lanjut bahwa yang sering kali disebut “terisolasi” sebenarnya merujuk pada terputusnya akses transportasi darat.

Dalam konteks bencana, hal ini memang lazim terjadi—jalan rusak, jembatan runtuh, atau longsor menutup rute utama.

Namun, kondisi tersebut tidak berarti wilayah tersebut benar-benar terputus dari bantuan.

“Yang terputus adalah transportasi darat. Biasanya seperti itu makna daerah terisolasi: sarana darat tidak bisa masuk, listrik padam, dan jaringan komunikasi terputus,” imbuhnya.

Meski demikian, Basarnas telah menyiapkan strategi multikanal untuk memastikan tidak ada titik di Indonesia yang tidak bisa dijangkau.

Tim SAR dapat menggunakan helikopter, pesawat kecil, perahu karet, hingga kapal laut untuk menyalurkan bantuan logistik, evakuasi korban, atau mendistribusikan tim medis.

Situasi Terkini: Tidak Ada Laporan Daerah Terisolasi di Sumatera
Syafii juga menegaskan bahwa berdasarkan pemantauan terkini, tidak ada satu pun daerah di Aceh, Sumatera Utara, maupun Sumatera Barat yang masih terisolasi akibat bencana banjir dan longsor.

“Daerah terisolasi sebenarnya saat ini sudah terbuka. Kalau misalnya ada, pasti ada laporan. Saat ini, kami tidak menerima laporan mengenai wilayah yang benar-benar tidak bisa dijangkau,” terangnya.

Baca Juga  10 Wilayah Indonesia Berstatus Waspada Gelombang Tsunami Pascagempa M 8,7 Kamchatka, BMKG: Masyarakat Menjauh dari Pantai

Pernyataan ini sekaligus menepis berbagai spekulasi di media sosial dan pemberitaan lokal yang sempat menyebut beberapa desa “hilang kontak” selama beberapa hari pasca bencana.

Menurut Syafii, keterlambatan komunikasi bukan berarti tidak ada upaya penjangkauan, melainkan murni akibat gangguan infrastruktur telekomunikasi yang memang rentan rusak saat bencana terjadi.

Kolaborasi Multisektor Jadi Kunci Penanganan Bencana

Di balik pernyataan optimis Syafii, terdapat kerja keras kolaboratif antara Basarnas, TNI/Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), relawan, dan pihak swasta.

Upaya ini mencakup tidak hanya evakuasi, tetapi juga pendistribusian logistik, pemulihan jaringan komunikasi, dan pemulihan akses jalan darat secara bertahap.

Helikopter milik TNI AU, misalnya, telah beberapa kali digunakan untuk menyasar desa-desa terpencil di pegunungan Aceh dan Sumatera Barat.
Sementara itu, kapal-kapal angkatan laut dan nelayan lokal turut dimanfaatkan untuk menjangkau daerah pesisir yang terkena dampak banjir.

Pentingnya Resiliensi Komunitas di Tengah Ancaman Bencana

Meski infrastruktur SAR nasional terus diperkuat, para ahli bencana menekankan pentingnya membangun ketahanan komunitas dari hulu.
Mengingat Sumatera berada di jalur cincin api Pasifik.

Dan rentan terhadap gempa, longsor, serta banjir, pendekatan pencegahan—seperti mitigasi bencana berbasis desa, pemantauan cuaca real-time, dan pelatihan tanggap darurat—harus diperluas.

Menurut catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan ekstrem masih berpotensi terjadi hingga awal Januari 2026.

Oleh karena itu, kesiapsiagaan masyarakat dan koordinasi antarlembaga menjadi fondasi utama dalam menghadapi ancaman bencana berulang.

Penutup: Semangat Gotong Royong dan Teknologi, Dua Sayap Penolong

Pernyataan Kepala Basarnas bukan sekadar jaminan teknis, melainkan cerminan dari komitmen negara untuk tidak meninggalkan satu warganya pun—bahkan di titik paling terpencil sekalipun.

Di tengah tantangan alam yang semakin tak menentu, semangat gotong royong, didukung oleh teknologi SAR modern, menjadi dua sayap yang membawa harapan bagi korban bencana.

Masyarakat diimbau untuk tetap tenang, memantau informasi resmi dari pemerintah, dan tidak menyebarkan hoaks terkait situasi di lapangan.
Sebab, dalam setiap bencana, informasi yang akurat adalah salah satu bentuk pertolongan pertama yang paling berharga.