Nasional

Respons Cepat untuk Korban Bencana di Sumatera, Menkeu: Dana Rehabilitasi Dijamin Aman

×

Respons Cepat untuk Korban Bencana di Sumatera, Menkeu: Dana Rehabilitasi Dijamin Aman

Sebarkan artikel ini
Menkeu
Ketiga provinsi yang paling terdampak—Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat—kini menjadi sorotan tidak hanya karena skala kerusakan infrastruktur dan korban jiwa, tetapi juga terkait ketersediaan dana rehabilitasi dan tanggap darurat.

Ringkasan Berita

  • Ketiga provinsi yang paling terdampak—Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat—kini menjadi sorotan tidak hanya k…
  • Di tengah kekhawatiran publik atas respons pemerintah, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memberikan penj…
  • Setiap tahun, pemerintah mengalokasikan sekitar Rp5 triliun khusus untuk penanganan bencana,” ujar Menkeu Purbaya.

Topikseru.com – Pasca menjadi pekerjaan rumah besar pemerintah di mana bencana alam berupa banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera dalam pekan ini telah memicu keprihatinan nasional.

Ketiga provinsi yang paling terdampak—Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat—kini menjadi sorotan tidak hanya karena skala kerusakan infrastruktur dan korban jiwa, tetapi juga terkait ketersediaan dana rehabilitasi dan tanggap darurat.

Di tengah kekhawatiran publik atas respons pemerintah, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memberikan penjelasan menenangkan.

Menkeu menegaskan bahwa dana untuk penanggulangan bencana di Sumatera tidak hanya tersedia, tetapi juga mencukupi untuk menangani berbagai kebutuhan darurat dan pemulihan jangka menengah.

“Anggaran untuk penanggulangan bencana itu ada. Setiap tahun, pemerintah mengalokasikan sekitar Rp5 triliun khusus untuk penanganan bencana,” ujar Menkeu Purbaya.

Namun, ia menekankan bahwa alokasi dana tersebut bukan berasal dari pemotongan program penting, melainkan dari hasil efisiensi anggaran pemerintah yang telah dilakukan secara sistematis sejak awal tahun.

Salah satu sumber efisiensi yang disebutkan adalah pengurangan kegiatan-kegiatan yang dinilai tidak produktif, termasuk rapat-rapat yang dinilai “tidak jelas manfaatnya”.

“Sebelum kejadian ini pun, kita sudah menyisir anggaran tahun 2026. Kita evaluasi kegiatan-kegiatan yang tidak terlalu berguna, seperti rapat-rapat yang tidak jelas output-nya. Dari situ, kita bisa menghemat sekitar Rp60 triliun,” jelasnya.

Efisiensi, Bukan Pemotongan

Pernyataan Menkeu ini menegaskan komitmen pemerintah untuk tidak mengulangi kesalahan di masa lalu, ketika kebijakan penghematan anggaran kerap dilakukan secara gegabah tanpa analisis mendalam.
Purbaya menegaskan bahwa pendekatan kali ini lebih terukur, transparan, dan berbasis data.

“Ini bukan soal memotong anggaran sembarangan. Ini adalah efisiensi—kita meninjau ulang prioritas, mengeliminasi pemborosan, dan mengalihkan sumber daya ke kebutuhan yang lebih mendesak, seperti penanggulangan bencana,” ucapnya.

Ia menambahkan bahwa langkah ini juga sejalan dengan arahan Presiden untuk mewujudkan birokrasi yang lebih ramping, efisien, dan berorientasi pada hasil nyata bagi masyarakat.

Baca Juga  BMKG: Warga Sumut Waspadai Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah

Respons Cepat untuk Korban Bencana

Dengan dana penanggulangan bencana yang telah tersedia, pemerintah menjamin respons cepat terhadap kebutuhan para korban di Sumatera.
Langkah pertama yang diambil meliputi evakuasi, bantuan logistik, pelayanan kesehatan darurat, serta pemulihan infrastruktur vital seperti jalan, jembatan, dan fasilitas pendidikan.

Kementerian Keuangan, bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), serta pemerintah daerah, kini tengah menyusun rencana aksi rehabilitasi pasca-bencana.

Prioritas utama adalah memastikan kehidupan masyarakat kembali normal secepat mungkin.

Menghindari Ulangi Kesalahan Tahun Lalu

Menkeu Purbaya juga mengakui bahwa pada tahun sebelumnya, kebijakan penghematan anggaran sempat menuai kritik karena dianggap kurang terukur dan berdampak pada layanan publik.

Ia menegaskan bahwa pemerintah telah belajar dari pengalaman tersebut.

“Kita tidak mau mengulangi lagi seperti tahun lalu, di mana anggaran dipangkas asal potong saja tanpa mempertimbangkan dampak sosialnya,” tegasnya.

Kini, pendekatan yang diambil lebih holistik: setiap keputusan anggaran dikaji berdasarkan dampaknya terhadap pelayanan publik, pertumbuhan ekonomi, dan ketahanan sosial.

Efisiensi dilakukan bukan untuk mengurangi kualitas layanan, tetapi untuk meningkatkan efektivitas penggunaan uang negara.

Transparansi dan Akuntabilitas Jadi Kunci

Dalam konteks bencana yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim, transparansi dalam pengelolaan dana darurat menjadi krusial.

Menkeu Purbaya menegaskan bahwa seluruh penggunaan anggaran penanggulangan bencana akan dipantau ketat oleh Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), serta lembaga pengawas independen lainnya.

“Masyarakat berhak tahu ke mana uang negara mengalir, terutama dalam situasi darurat seperti ini. Kami berkomitmen penuh pada akuntabilitas dan transparansi,” tuturnya.

Harapan bagi Masyarakat Sumatera

Bagi warga Sumatera yang kini berjuang memulihkan kehidupan pasca-bencana, jaminan ketersediaan dana dari pemerintah pusat menjadi angin segar di tengah duka.

Namun, selain dukungan finansial, yang tak kalah penting adalah kehadiran negara dalam bentuk pendampingan psikologis, pemulihan sosial, dan penguatan ketahanan komunitas terhadap bencana di masa depan.

Pemerintah berjanji tidak hanya membangun kembali, tetapi membangun lebih baik—build back better—dengan pendekatan yang berkelanjutan, inklusif, dan berbasis risiko bencana.

Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan Pulau Sumatera—yang selama ini dikenal sebagai wilayah rawan bencana—dapat menjadi contoh ketahanan nasional dalam menghadapi tantangan iklim dan geologis yang semakin kompleks di era modern.