Nasional

Kerja Keras Pemerintah Prabowo dalam Penanggulangan Bencana di Pulau Sumatera Tak Kenal Hari Libur

×

Kerja Keras Pemerintah Prabowo dalam Penanggulangan Bencana di Pulau Sumatera Tak Kenal Hari Libur

Sebarkan artikel ini
Prabowo
Presiden Prabowo ketika mengunjungi lokasi pengungsian korban banjir dan tanah longsor di Aceh. Di hadapan masyarakat, Presiden Prabowo juga mengucapkan terima kasih atas sambutan hangat warga serta kerja sama seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah, TNI, hingga Polri.

Topikseru.com | Medan – Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan seluruh jajaran untuk bergerak cepat menangani bencana banjir di pulau Sumatera yang meliputi Sumatera Utara (Sumut), Sumbar, dan Aceh.

Pembangunan relokasi dikerjakan oleh pihak PT Hutama Karya (Persero/HK) kebut pembangunan hunian sementara (huntara) bagi masyarakat terdampak banjir di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh. Seluruh sumber daya dikerahkan, tak kenal hari libur.

Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Sugiat Santoso mengatakan perhatian Presiden RI, Prabowo Subianto menunjukkan keseriusan tinggi dalam memastikan pemulihan pascabencana di Sumatera berjalan optimal. Di tengah padatnya agenda kenegaraan, Presiden secara intensif bolak-balik Jakarta–Sumatera untuk memantau langsung kondisi lapangan sekaligus memimpin rapat terbatas guna memperoleh perkembangan terkini penanganan bencana.

Sugiat Santoso yang juga Sekretaris DPD Partai Gerindra Sumut ini menjelaskan Presiden Prabowo melakukan kunjungan di sejumlah wilayah terdampak banjir dan tanah longsor di Sumatera Barat, yakni Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Agam, dan Kabupaten Tanah Datar, Aceh dan Sumatera Utara.

“Hal ini sebagai bentuk nyata untuk memastikan proses pemulihan berjalan sesuai target, terutama terkait pembangunan hunian sementara, penanganan pengungsian, serta pemulihan infrastruktur vital,” ungkap Sugiat Santoso, Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra ini.

Salah satunya Pembentukan Satgas Darurat Jembatan yang melibatkan berbagai unsur negara. Ia memerintahkan Menteri Pendidikan Tinggi untuk mengerahkan universitas guna membantu desain dan perencanaan jembatan.

Bersama TNI dan Polri, khususnya seluruh Batalyon Zeni dan kompi konstruksi, perlu turun langsung ke titik-titik prioritas. Seluruh kementerian dan lembaga terkait juga perlu mempercepat eksekusi tanpa prosedur bertele-tele.

Lalu, sejumlah wilayah administrasi kabupaten dan kota di tiga provinsi terdampak bencana banjir dan tanah longsor telah memulai fase transisi darurat ke pemulihan. Salah satu langkah penanganan pada tahapan ini yaitu penyiapan tempat tinggal bagi warga korban bencana.

Pada fase ini, Pemerintah Pusat membantu pemerintah daerah untuk memfasilitasi masyarakat terdampak di sektor hunian. Pemerintah menyampaikan skema bantuan hunian bagi warga di tiga Provinsi, Aceh, Sumatra Utara dan Sumatera Barat.

Presiden Prabowo Turun Penuh Tangani Banjir dan Longsor di Pulau Sumatera

Wakil Ketua DPD Partai Gerindra Sumatera Utara (Sumut) Ronggur Raja Doli Simorangkir menegaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto menunjukkan komitmen kuat dan upaya maksimal dalam menanggulangi bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera.

Ronggur yang juga Anggota DPRD Kota Binjai menilai, kompleksitas persoalan bencana di Sumatera membuat penanganannya tidak bisa dilakukan secara instan.

Namun demikian, hingga saat ini seluruh unsur kekuatan negara terus bekerja secara terpadu, baik dalam mengatasi penyebab banjir maupun menangani dampak yang ditimbulkan.

“Pak Presiden sedang berupaya maksimal. Masalah banjir di Sumatera ini sangat kompleks, sehingga memang butuh waktu. Tapi kita bisa lihat sampai hari ini seluruh kekuatan negara terus bekerja tanpa henti,” kata Ronggur kepada wartawan, Rabu (31/12).

Menurut Ronggur, tingkat kerusakan akibat banjir dan longsor di Sumatera sudah berada pada kategori sangat parah, sehingga wajar jika Presiden merangkul seluruh kabinet dan membentuk satuan tugas darurat, khususnya untuk pembangunan dan perbaikan jembatan.

Ia menekankan, keberadaan jembatan menjadi kunci agar tidak ada lagi daerah yang terisolasi pascabencana.

“Situasinya memang harus melibatkan unsur penting negara. Kita butuh jembatan-jembatan darurat supaya tidak ada wilayah yang terputus aksesnya. BNPB tidak mungkin bekerja sendiri, ini butuh kolaborasi semua pihak,” tegasnya.

Ronggur juga memastikan bahwa sejumlah wilayah kabupaten dan kota di tiga provinsi terdampak telah memasuki fase transisi dari tanggap darurat ke pemulihan.

Ia mencontohkan wilayah Tapanuli, Sumatera Utara, di mana hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak telah dibangun dan segera dapat dihuni. Selain itu, akses jalan yang sebelumnya terputus kini sudah kembali normal, sehingga tidak ada lagi daerah yang terisolasi.

Baca Juga  Seorang Jemaah Haji Asal Sumut Wafat di Tanah Suci, Total Menjadi 16 orang

“Banyak kebijakan pemerintah untuk meringankan beban warga, seperti relaksasi kredit, KUR, sampai kebijakan Pak Gubernur Sumut yang menggratiskan biaya pendidikan bagi warga terdampak banjir,” jelasnya.

Terkait kesiapan hunian sementara bagi korban banjir dan longsor di Aceh Tamiang (Aceh) dan Sibolga (Sumut) yang dijadwalkan siap huni pada 1 Januari 2026 dan akan diresmikan Presiden Prabowo Subianto, Ronggur menilai langkah tersebut sangat membantu masyarakat.

“Huntara ini bukti bahwa Pak Presiden benar-benar bekerja keras untuk rakyat. Dengan adanya hunian sementara, masyarakat bisa mulai kembali beraktivitas dan tidak lagi bergantung pada posko pengungsian,” ujarnya.

Ke depan, Ronggur berharap Presiden Prabowo Subianto dapat menertibkan kawasan hutan secara tegas untuk mencegah alih fungsi hutan yang masif, yang dinilai menjadi salah satu faktor utama terjadinya banjir di berbagai daerah.

Selain itu, ia mendorong percepatan pembangunan infrastruktur di wilayah yang rusak parah akibat bencana, mengingat kemampuan APBD daerah sangat terbatas.

“Kami juga mendorong evaluasi kinerja BNPB agar ke depan sebagai garda terdepan penanganan bencana bisa lebih responsif, cepat, dan efektif,” pungkas Ronggur.

Sementara menurut Korban Banjir dan Longsor Aceh Tamiang, Amir Hamzah didampingi anaknya Dedi (36 th) dan tetangganya Serik (40 th), mengaku tetap bersyukur meski dilanda bencana, namun tidak ada warga yang kehilangan nyawa.

“Hampir 3 minggu kami terisolir di kampung ini. Dengan bantuan seadanya yang diantar relawan menaiki sampan. Akhirnya setelah akses jalan lancar. Bantuan kini tercukupi.”

“Tapi aliran listrik belum ada hingga kini. Kami coba bertahan dengan lampu pelita buatan sendiri. Air bersih juga masih sulit. Karena air sungai belum bisa digunakan,” ujarnya.

“Kami dengar ada bantuan hunian sementara dari pemerintah. Ada juga kabarnya rumah-rumah kami akan dibangun kembali oleh Presiden Prabowo, kami terima kasih kali Pak,” ucapnya haru.

Dirinya dan sejumlah warga tadi turut menyampaikan ucapan terima kasih kepada pemimpin negara dan gubernur. “Terima kasih Pak Prabowo, Pak Gubernur Mualem apabila rencana itu segera bisa terwujud,” tutur Amir.

Rela Tidak Libur Demi Mempercepat Pembangunan Rumah Bagi Korban Banjir

Direktur Utama PT Hutama Karya, Koentjoro melalui EVP Sekretaris Perusahaan (Sekper) Hutama Karya, Mardianshah mengatakan Berdasarkan data ada 204 unit hunian sementara (huntara) untuk korban banjir dan longsor di Aceh Tamiang, Aceh siap dihuni pada Januari 2026 dan dijadwalkan akan diresmikan Presiden Prabowo Subianto.

Dia mengatakan proyek tersebut merupakan hasil kerja bakti tujuh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Karya yang mendapat penugasan langsung dari pemerintah. “Huntara ini memang kami rancang agar bisa segera dihuni masyarakat terdampak. Target awal, 204 unit sudah siap pada 1 Januari 2026,” jelasnya.

Dia menjelaskan menjelaskan, total huntara yang dibangun mencapai 600 unit sebagai bagian dari program pemulihan pascabencana banjir di Aceh Tamiang. Huntara tersebut disiapkan untuk memindahkan warga dari tenda-tenda pengungsian agar segera menempati hunian yang lebih layak.

“Pematangan lahan saat ini hampir selesai. Di area B, pekerjaan umpak sudah dimulai, termasuk fabrikasi. Material juga hampir 100 persen terkumpul dan telah tiba di lokasi, bahkan target besok huntara telah selesai, kita berpacu dengan cuaca tak menentu di Tamiang,” ujar Mardianshah.

Dia menjelaskan, Pembangunan huntara ini merupakan hasil kolaborasi lintas BUMN, termasuk dukungan dari himpunan bank milik negara (Himbara), Pertamina, PLN, dan sejumlah BUMN karya lainnya.

Total huntara yang dibangun di Aceh Tamiang berjumlah 600 unit. Hutama Karya mengharapkan dengan dukungan cuaca yang kondusif, pekerjaan dapat berlangsung lebih maksimal dan selesai sesuai target.

Ia lebih lanjut menegaskan komitmen seluruh tim yang tetap bekerja meski di masa liburan akhir tahun. “Di masa liburan ini, kami rela meninggalkan keluarga dan menunda liburan demi mempercepat pembangunan rumah bagi masyarakat terdampak banjir,” demikian kata Mardianshah.***