Topikseru.com, Aceh – Gempa bumi berkekuatan 6,4 Skala Richter mengguncang wilayah Sinabang, Kabiupaten Simeulue, Aceh, pada Selasa (03/03/2026) pukul 11:56:45 WIB.
“Gempa tidak berpotensi tsunami,” terang BMKG seperti dikutip Topikseru dari laman resminya www.bmkg.go.id .
BMKG melaporkan Episenter atau pusat gempa berada di Lepas Pantai Barat Sumatera Utara. Terjadi di Lintang: 1.93 LU, Bujur: 96.48 BT di kedalaman: 13 Kilometer.
Lokasinya: 61 km Tenggara SINABANG-ACEH, 112 km BaratLaut NIASUTARA-SUMUT, 147 km BaratLaut GUNUNGSITOLI-SUMUT, 305 km BaratDaya MEDAN-SUMUT, 1.459 km BaratLaut JAKARTA-INDONESIA.
Getaran kuat dirasakan di berbagai daerah di Aceh hingga Sumatera Utara.
Berdasarkan data awal BMKG, gempa memiliki magnitudo 6,4 dengan kedalaman relatif dangkal, yakni 13 kilometer. Gempa dangkal umumnya terasa lebih kuat di permukaan, terutama di wilayah yang dekat dengan pusat gempa.
Meski demikian, BMKG menegaskan bahwa hasil analisis menunjukkan gempa ini tidak berpotensi tsunami. Artinya, masyarakat di wilayah pesisir Aceh dan sekitarnya tidak perlu melakukan evakuasi terkait ancaman gelombang laut besar. Kepastian ini penting mengingat Aceh memiliki sejarah panjang bencana gempa dan tsunami, sehingga setiap informasi mengenai potensi tsunami selalu menjadi perhatian utama warga.
Titik Lokasi Gempa Secara geografis, pusat gempa menunjukkan pusat gempa berada di wilayah laut. Letak episenter dan hasil analisis mekanisme gempa menjadi dasar BMKG dalam menyatakan tidak adanya potensi tsunami. Evaluasi dilakukan melalui pemodelan cepat serta pengamatan parameter gempa secara real time.
Hingga laporan ini disampaikan, belum ada informasi resmi mengenai kerusakan bangunan atau korban jiwa akibat gempa tersebut. Aparat dan instansi terkait masih melakukan pemantauan di lapangan. BMKG: Data Masih Bisa Berubah BMKG juga menyampaikan bahwa informasi yang dirilis mengutamakan kecepatan. Artinya, data awal gempa masih dapat mengalami pembaruan seiring dengan kelengkapan hasil analisis.
Dalam keterangannya, BMKG menyertakan catatan bahwa hasil pengolahan data belum sepenuhnya stabil dan bisa berubah. Hal ini merupakan prosedur standar dalam setiap rilis awal informasi gempa bumi. Karena itu, masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi resmi dari BMKG dan tidak mudah terpengaruh kabar yang belum terverifikasi.
Gempa yang sama pernah terjadi pada bulan Nopember tahun lalu. Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa berdasarkan analisis lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa tersebut termasuk jenis gempa dangkal akibat aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia.
“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault),” kata Daryono.
BMKG menyebut gempa ini dianalisa lokasi episentrum dan pola patahannya. “Lokasi episenternya dan bentuk patahannya yang naik (thrusting),” ujarnya. Ia menambahkan bahwa zona ini memanjang dari Samudera Hindia barat Sumatera hingga NTT.
Dampak dan Getaran di Berbagai Wilayah
Getaran gempa dirasakan kuat di beberapa wilayah Aceh, terutama Simeulue, dengan skala IV MMI, yang menandakan getaran dirasakan banyak orang di dalam rumah dan membuat pintu serta jendela berderik. Getaran turut dirasakan di Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Selatan, Abdya, Singkil, hingga wilayah Sumatera Utara seperti Kabanjahe, Berastagi, Tiganderket, Pidie, Lhokseumawe, dan Medan.
BMKG menegaskan bahwa gempa ini tidak berpotensi tsunami.
“Hingga saat ini terdapat laporan kerusakan ringan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami,” katanya












