Peristiwa

Ratusan Siswa di Garut Keracunan Usai Santap Makan Bergizi Gratis, 19 Dirawat Intensif

×

Ratusan Siswa di Garut Keracunan Usai Santap Makan Bergizi Gratis, 19 Dirawat Intensif

Sebarkan artikel ini
Keracunan masal MBG
Ratusan siswa di Garut memngalami keracunan masal usai menyantap makanan program MBG

Ringkasan Berita

  • Dari jumlah itu, 177 siswa mengalami gejala ringan, sementara 19 siswa harus menjalani perawatan intensif di Puskesma…
  • Kronologi Keracunan Massal di Garut Ratusan siswa diketahui mengonsumsi menu makan siang yang disalurkan dari dapur S…
  • Kapolres Garut, AKBP Yugi Bayu Hendarto, membenarkan peristiwa keracunan massal tersebut.

Topikseru.com – Sebanyak 194 siswa di Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut, Jawa Barat dilaporkan mengalami gejala keracunan usai menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Rabu (17/9/2025) malam.

Kapolres Garut, AKBP Yugi Bayu Hendarto, membenarkan peristiwa keracunan massal tersebut.

Dari jumlah itu, 177 siswa mengalami gejala ringan, sementara 19 siswa harus menjalani perawatan intensif di Puskesmas Kadungora.

Kronologi Keracunan Massal di Garut

Ratusan siswa diketahui mengonsumsi menu makan siang yang disalurkan dari dapur SPPG Yayasan Al Bayyinah 2 Garut, Desa Karangmulya, Kecamatan Kadungora.

Menu yang dihidangkan berupa nasi putih, ayam woku, tempe orek, lalapan sayur, dan buah stroberi.

Baca Juga  BGN Stop Beli Produk Pabrikan untuk Program Makan Bergizi Gratis, Fokus pada UMKM

Tak lama setelah menyantap makanan, para siswa merasakan mual, muntah, hingga pusing.

Puluhan di antaranya harus segera mendapatkan perawatan medis lantaran kondisinya memburuk.

Adapun 19 siswa yang masih dirawat intensif terdiri dari:

12 siswa MA Maarif Cilageni,

3 siswa SMP Siti Aisyah,

1 siswa SMA Siti Aisyah,

3 siswa SDN 2 Mandalasari.

Polisi Kirim Sampel ke Laboratorium

Kapolres Garut menyebut pihaknya telah melakukan langkah penyelidikan awal, termasuk meminta keterangan saksi serta mengirimkan sampel makanan dan muntahan korban ke laboratorium.

“Kami juga melakukan pengumpulan bahan keterangan untuk memastikan ada atau tidaknya penambahan korban dan melanjutkan penyelidikan lebih mendalam untuk mengetahui faktor penyebab,” kata Yugi Bayu, Kamis (18/9).

Hingga saat ini, para siswa yang menjadi korban masih dalam penanganan tenaga medis. Polisi bersama dinas terkait masih menyelidiki penyebab pasti keracunan massal tersebut.