Peristiwa

Demi Warga Terisolasi, Nakes Aceh Tengah Bertaruh Nyawa Seberangi Sungai Deras

×

Demi Warga Terisolasi, Nakes Aceh Tengah Bertaruh Nyawa Seberangi Sungai Deras

Sebarkan artikel ini
Nakes Aceh Tengah menyeberangi Sungai Kala Ilie di Kecamatan Linge bersama warga dan relawan menggunakan penyeberangan darurat untuk memberikan pelayanan kesehatan.
Perjuangan nakes Aceh Tengah bersama warga dan relawan di Kecamatan Linge saat menyeberangi Sungai Kala Ilie menggunakan penyeberangan seadanya demi menjangkau layanan kesehatan. (Instagram/lingkaran_gayo)

Ringkasan Berita

  • Jalan yang putus dan jembatan yang roboh membuat sejumlah desa terisolasi, seolah terpisah dari dunia luar.
  • Di tengah keterbatasan itu, harapan warga bertumpu pada kedatangan tenaga kesehatan yang tetap berusaha menjangkau me…
  • Langkah Berani Nakes Menuju Desa Terpencil Untuk mencapai Desa Jamat dan Reje Payung, para nakes tak punya banyak pil…

Topikseru.com, Takengon –  Lebih dari sebulan setelah banjir bandang dan longsor menerjang Aceh Tengah, derita belum sepenuhnya berakhir bagi warga di Kecamatan Linge. Jalan yang putus dan jembatan yang roboh membuat sejumlah desa terisolasi, seolah terpisah dari dunia luar.

Di tengah keterbatasan itu, harapan warga bertumpu pada kedatangan tenaga kesehatan yang tetap berusaha menjangkau mereka, meski harus menghadapi risiko besar di sepanjang perjalanan.

Langkah Berani Nakes Menuju Desa Terpencil

Untuk mencapai Desa Jamat dan Reje Payung, para nakes tak punya banyak pilihan.

Tanpa jembatan penghubung, mereka menuruni sungai, menapak bebatuan licin, dan melawan derasnya arus Sungai Kala Ilie yang nyaris setinggi pinggang orang dewasa.

Dengan bantuan tali sling seadanya, mereka melangkah perlahan, saling menggenggam tangan bersama warga agar tidak terseret arus. Setiap langkah adalah pertaruhan, namun tak satu pun dari mereka berbalik arah.

“Kalau Kami Tak Datang, Warga Tak Dapat Layanan”

Aksi penuh risiko itu terekam kamera dan viral di media sosial.

Baca Juga  Miris! Anak-anak Sekolah di Aceh Tengah Terpaksa Meniti Jembatan Rusak Demi Bersekolah

Video yang diunggah akun Instagram @lingkaran_gayo pada Selasa (14/1/2026) memperlihatkan rombongan nakes berjalan tertatih di tengah sungai, tetap menjaga keseimbangan meski arus terus menghantam tubuh mereka.

Video tersebut telah ditonton lebih dari 14 ribu kali. Di balik tayangan singkat itu, tersimpan pesan sederhana namun kuat: pelayanan kesehatan tidak boleh terhenti, meski akses nyaris mustahil.

Jembatan Darurat, Saksi Keteguhan Warga dan Nakes

Tali Sling Jadi Pegangan Harapan

Selain menyeberangi sungai, jembatan tali darurat menjadi satu-satunya penghubung antar desa.

Jembatan ini dibangun secara swadaya oleh warga, menggunakan bahan seadanya.

Dalam video lain yang diunggah akun TikTok @ikas.mida, terlihat seorang nakes meniti jembatan tali dengan langkah hati-hati.

Di bawahnya, arus sungai terus mengalir deras, mengingatkan betapa rapuhnya akses menuju layanan dasar di wilayah tersebut.

Lima Desa Masih Terisolasi, Ribuan Jiwa Menanti Kepastian

Sejak banjir bandang pada akhir November 2025, lima desa di Kecamatan Linge—Linge, Delung Sekinel, Jamat, Reje Payung, dan Kute Reje—belum sepenuhnya pulih.

Putusnya Jembatan Kala Ilie dan Jembatan Reje Payung membuat sekitar 2.000 warga terpaksa membatasi aktivitas mereka.

Distribusi bantuan pun harus dilakukan dengan cara estafet. Barang logistik dilansir dari satu titik ke titik lain, bahkan sebagian harus dikirim melalui jalur udara.

Harapan Akan Akses yang Lebih Aman

Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah telah menetapkan status tanggap darurat bencana hingga 22 Januari 2026.

Namun bagi warga di desa-desa terisolasi, harapan terbesar bukan sekadar bantuan sementara, melainkan akses yang aman dan layak agar kehidupan bisa kembali berjalan normal.

Di tengah keterbatasan itu, langkah-langkah para nakes yang basah kuyup di Sungai Kala Ilie menjadi simbol keteguhan: bahwa kemanusiaan tetap berjalan, bahkan di jalan yang nyaris tak bisa dilalui.