Ringkasan Berita
- Menurut Pitri, ponsel tersebut masih terhubung dengan smartwatch milik Farhan.
- Klaim tersebut memunculkan harapan di pihak keluarga agar Farhan masih dalam kondisi hidup dan pencarian dapat terus …
- “Pesawat jatuh tanggal 17 Januari 2026, kemudian tanggal 18 dilakukan pencarian dan HP-nya Farhan ditemukan di dala…
Topikseru.com, Maros – Di tengah proses pencarian korban pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, publik dihebohkan dengan pengakuan salah satu kerabat kopilot Farhan Gunawan terkait dugaan aktivitas smartwatch milik korban.
Melalui media sosial, seorang perempuan bernama Pitri Keandedes Hasibuan yang mengaku sebagai kerabat Farhan menyampaikan bahwa smartwatch yang terhubung dengan ponsel milik Farhan terdeteksi merekam aktivitas langkah kaki setelah pesawat dinyatakan jatuh.
Klaim tersebut memunculkan harapan di pihak keluarga agar Farhan masih dalam kondisi hidup dan pencarian dapat terus dimaksimalkan.
Klaim Aktivitas Smartwatch Kopilot Farhan
Dalam video yang beredar di media sosial dan diunggah ulang oleh akun Instagram @makassar_iinfo pada Senin (19/1/2026), Pitri menjelaskan bahwa ponsel milik Farhan ditemukan di dalam hutan sehari setelah pesawat jatuh.
“Pesawat jatuh tanggal 17 Januari 2026, kemudian tanggal 18 dilakukan pencarian dan HP-nya Farhan ditemukan di dalam hutan. Sekarang HP tersebut dipegang adik saya yang merupakan pacar Farhan,” ujar Pitri dalam video tersebut.
Menurut Pitri, ponsel tersebut masih terhubung dengan smartwatch milik Farhan. Saat dilakukan pengecekan, tercatat adanya aktivitas langkah kaki sejak pukul 06.00 WITA hingga malam hari.
“Dari pagi jam enam WITA sudah ada pergerakan langkah kaki, lalu bertambah lagi sekitar jam sepuluh WITA sampai malam. Data langkah kakinya terus bertambah,” ungkapnya.
Meski demikian, hingga kini klaim aktivitas smartwatch tersebut belum mendapat konfirmasi resmi dari pihak Basarnas maupun otoritas terkait. Data tersebut masih bersifat informasi dari keluarga korban.
Keluarga Harap Pencarian Diperluas
Berdasarkan temuan tersebut, Pitri berharap tim SAR dapat menambah personel serta mengoptimalkan pencarian, khususnya melalui jalur udara.
“Ini sudah hari ketiga di hutan. Kami mohon kepada pemerintah, kepada Bapak Presiden atau menteri-menteri yang bisa membantu, tolong turunkan lebih banyak tim SAR dan helikopter untuk mencari Farhan,” ucapnya.
Ia juga meyakini aktivitas smartwatch tersebut sebagai tanda keberadaan Farhan. “HP-nya masih terhubung dan ada langkah kakinya. Kami mohon Farhan bisa diselamatkan,” tuturnya dengan nada harap.
Basarnas Maksimalkan Pencarian di Masa Golden Time
Sementara itu, Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menegaskan bahwa tim SAR terus memaksimalkan upaya pencarian dan evakuasi korban pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung.
Sebanyak lebih dari 1.200 personel telah dikerahkan dan disebar di sejumlah titik pencarian.
“Dalam kurun waktu golden time ini, kami berharap ada keajaiban dan tim SAR mampu menemukan seluruh korban,” ujar Syafii dalam konferensi pers di Posko SAR Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, Senin (19/1/2026).
Ia menambahkan bahwa selama korban belum ditemukan seluruhnya, tim SAR akan terus melakukan pencarian secara maksimal.
Golden time merupakan periode krusial dalam operasi penyelamatan, yang umumnya berlangsung selama 72 jam atau tiga hari pertama setelah kejadian.
Pencarian Terkendala Cuaca dan Medan
Syafii mengakui proses pencarian sempat mengalami kendala akibat kondisi cuaca dan medan yang ekstrem. Beberapa korban telah ditemukan, namun proses evakuasi belum dapat dilakukan secara optimal.
“Tim di lapangan telah menemukan korban, tetapi karena cuaca dan medan yang berat, evakuasi ke rumah sakit rujukan tim DVI Polri belum dapat dilakukan,” jelasnya.
Operasi SAR melalui udara juga belum berjalan maksimal karena kondisi cuaca yang tidak memungkinkan penggunaan pesawat secara optimal.
Sebelumnya, pesawat ATR 42-500 rute Yogyakarta–Makassar milik Indonesia Air Transport (IAT) dilaporkan hilang kontak pada Sabtu (17/1/2026) di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Serpihan pesawat kemudian ditemukan oleh pendaki dan tim SAR di kawasan Gunung Bulusaraung, sehingga fokus pencarian korban dipusatkan di area tersebut.











