Peristiwa

Keluarga Pramugari ATR 42-500 Esther Aprilita Pasang Tenda Putih Pasrah Menunggu Kepastian dari Maros Sudah

×

Keluarga Pramugari ATR 42-500 Esther Aprilita Pasang Tenda Putih Pasrah Menunggu Kepastian dari Maros Sudah

Sebarkan artikel ini
Pramugari ATR 42-500
suasana duka menyelimuti Desa Bojong Koneng Ciherang, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Senin (19/1/2026). Di rumah keluarga Esther Aprilita, tenda putih dan deretan kursi plastik telah terpasang sejak pagi.

Ringkasan Berita

  • Tenda tersebut berdiri di kediaman Esther Aprilita, pramugari pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport yang d…
  • Di rumah keluarga Esther Aprilita, tenda putih dan deretan kursi plastik telah terpasang sejak pagi.
  • Hingga Senin siang, keberadaan Esther belum diketahui.

Topikseru.com, Jakarta – Kabar dari keluarga korban pesawat ATR 42-500 terbaru di mana suasana duka menyelimuti Desa Bojong Koneng Ciherang, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Senin (19/1/2026). Di rumah keluarga Esther Aprilita, tenda putih dan deretan kursi plastik telah terpasang sejak pagi.

Tenda tersebut berdiri di kediaman Esther Aprilita, pramugari pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport yang dilaporkan mengalami kecelakaan di Pegunungan Leang-Leang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (17/1/2026).

Hingga Senin siang, keberadaan Esther belum diketahui. Dari proses evakuasi sementara, baru dua korban yang ditemukan dan dipastikan bukan Esther.

Kabar hilangnya kontak pesawat tersebut membuat waktu seakan berhenti bagi keluarga di Bogor. Mereka terus menanti kepastian, meski harus bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.

Paman Esther, Arya, mengatakan informasi yang diterima keluarga masih sangat terbatas. Seluruh perkembangan evakuasi hanya dipantau melalui siaran televisi nasional.

“Belum, ngeliat tv baru dua dapat (dievakuasi),” ujar Arya saat ditemui, Senin (19/1/2026).

Ia memastikan bahwa dua korban yang telah dievakuasi bukan keponakannya. Kondisi itu membuat keluarga terus berdoa di tengah ketidakpastian yang berkepanjangan.

Sosok yang paling terpukul adalah Adi Sianipar, ayah kandung Esther. Tak sanggup hanya menunggu kabar dari rumah, Adi memutuskan berangkat langsung ke Makassar.

Ia berniat menjemput putrinya dalam kondisi apa pun. Keputusan tersebut diambil setelah Esther tidak lagi bisa dihubungi sejak kabar kecelakaan pesawat itu mencuat.

“Baik orangnya, makanya bapaknya nangis-nangis pas dapet kabar lost contact. Anak pertama dari tiga,” kata Arya.

Menurut keluarga, hubungan Esther dengan sang ayah sangat dekat. Esther dikenal sebagai anak sulung sekaligus anak kesayangan yang kerap berkomunikasi dengan orang tuanya.

“Bapaknya yang komunikasi terakhir. Dia anak kesayangan bapaknya,” ujar Arya.

Di lingkungan tempat tinggalnya, Esther dikenal sebagai pribadi yang santun dan pekerja keras. Sebagai anak pertama, ia menjadi panutan bagi kedua adiknya.

Statusnya yang masih lajang membuat Esther fokus meniti karier sebagai pramugari demi membanggakan keluarga. Kini, keluarga hanya bisa menunggu kabar pasti dari lokasi evakuasi di Maros.