Ramadan 1447 H

Kultum Ramadhan 24 Februari 2026: Bulan Puasa dan Semangat Amal yang Berkesinambungan

×

Kultum Ramadhan 24 Februari 2026: Bulan Puasa dan Semangat Amal yang Berkesinambungan

Sebarkan artikel ini
Kultum Ramadhan
Kultum Ramadhan 24 Februari 2026: Bulan Puasa dan Semangat Amal yang Berkesinambungan di mana  Bulan Ramadhan adalah bulan menjarah ibadah dan kebaikan sebanyak-banyaknya.

Ringkasan Berita

  • Di bulan inilah pahala amal ibadah dan kebaikan berkali-lipat ganda dan jauh lebih besar dibandingkan dengan bulan-bu…
  • Ramadhan laksana musim panen bagi kaum mukmin.
  • Oleh karena itu, tidak selayaknya seorang Muslim menyia-nyiakan bulan yang mulia ini tanpa memaksimalkan diri dalam k…

Topikseru.com, Jakarta – Kultum Ramadhan 24 Februari 2026: Bulan Puasa dan Semangat Amal yang Berkesinambungan di mana  Bulan Ramadhan adalah bulan menjarah ibadah dan kebaikan sebanyak-banyaknya.

Di bulan inilah pahala amal ibadah dan kebaikan berkali-lipat ganda dan jauh lebih besar dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Ramadhan laksana musim panen bagi kaum mukmin.

Oleh karena itu, tidak selayaknya seorang Muslim menyia-nyiakan bulan yang mulia ini tanpa memaksimalkan diri dalam kebaikan.

Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga, tetapi momentum untuk memperbanyak amal, memperbaiki diri, dan membiasakan kebaikan secara berkesinambungan.

Setiap kali satu kebaikan selesai dikerjakan, hendaknya disambung dengan kebaikan lainnya, agar Ramadhan benar-benar menjadi bulan yang mengubah ritme hidup menuju ketaatan yang hakiki.

Allah SWT dalam surat As-Syarh Ayat 7 dan 8 berfirman:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ * وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرْغَب

Artinya: (7) “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. (8) Dan hanya kepada Tuhanmu berharaplah.”

Syekh Nawawi Banten menafsirkan ayat “Faidza faraghta fanshab” dengan “apabila engkau telah selesai dari ibadah, maka susulkan ibadah lain dengan saling berkesinambungan antara sebagian ibadah dengan bagian yang lain dan dengan tidak mengosongkan satu waktu dari ibadah”.

Kemudian beliau menyebutkan sebuah riwayat dari Ali bin Abi Thalhah dan riwayat Umar bin al-Khattab sebagai berikut.

وَقَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَلْحَةَ: إِذَا كُنْتَ صَحِيحًا فَاجْعَلْ فَرَاغَكَ تَعَبًا فِي الْعِبَادَةِ

Artinya, “Ali bin Abi Thalhah berkata: “jika kamu dalam keadaan sehat, jadikan waktu luangmu untuk lelah dalam beribadah’.”

Ungkapan sahabat Ali bin Abi Thalhah tersebut menunjukkan pentingnya memaksimalkan kondisi sehat untuk terus beribadah. Kesehatan dan waktu luang adalah nikmat besar yang sering kali tidak disadari. Karena itu, jangan sampai rasa lelah yang kita rasakan berlalu tanpa bernilai ibadah.

Sejalan dengan ungkapan tersebut, Umar bin Khattab juga memberikan motivasi agar seorang Muslim tidak membiarkan waktunya kosong tanpa manfaat. Beliau tidak menyukai seseorang yang menganggur, tidak produktif dalam urusan dunia dan tidak pula dalam amal akhirat. Ini mengingatkan bahwa setiap detik kehidupan seharusnya diisi dengan hal yang bernilai, baik untuk kemaslahatan dunia maupun akhirat.

قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: إِنِّي أَكْرَهُ أَنْ أَرَى أَحَدَكُمْ فَارِغًا لَا فِي عَمَلِ الدُّنْيَا وَلَا فِي عَمَلِ الْآخِرَةِ

Baca Juga  Kultum Ramadhan: Agar Puasa Tak Hanya Menjadi Rutinitas Tahunan

Artinya: Umar bin Khattab berkata, “Sungguh aku membenci melihat satu dari kalian semua seorang yang menganggur; tidak dari urusan dunia maupun akhirat”.

Selanjutnya, Syekh Nawawi menafsirkan “wa ila rabbika farghab” dengan “ajukan kebutuhan-kebutuhanmu kepada Tuhanmu, jadikan harapanmu hanya kepada Allah, dan jangan meminta kecuali kemurahan (fadlh) Nya dengan bertawakal atau berserah diri kepada-Nya. (Muhammad Nawawi Al-Jawi, At-Tafsirul Munir li Ma’alimit Tanzil, [Surabaya, al-Hidayah], juz II halaman 453).

Dari penafsiran surat as-Syarh atau al-Insyirah di atas dapat dipahami bahwa Islam tidak mengajarkan seorang mukmin untuk mengosongkan diri dan bermalas-malasan dalam hidup. Setiap kali satu ibadah atau urusan selesai, hendaknya segera disusul dengan amal dan ibadah lainnya secara berkesinambungan, sehingga tidak ada satu pun waktu yang berlalu tanpa nilai kebaikan, baik dalam urusan dunia maupun akhirat.

Bersamaan dengan hal tersebut, seluruh aktivitas dan kesungguhan tersebut harus dilandasi dengan ketergantungan kepada Allah semata. Harapan, kebutuhan, dan tujuan akhir seorang hamba hanya kepada-Nya dengan penuh tawakal.

Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Surah al-Insyirah ayat 7 merupakan dalil untuk senantiasa berkesinambungan atau terus-menerus dalam melakukan amal saleh dan kebaikan. Hal ini karena memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya merupakan tuntutan syariat, dan Allah tidak menyukai hamba-Nya yang menyia-nyiakan waktu dengan bermalas-malasan, menganggur, atau tidak melakukan aktivitas yang bernilai kebaikan. Berikut penjelasan beliau selengkapnya:

وَهَذَا دَلِيلٌ عَلَى طَلَبِ الِاسْتِمْرَارِ فِي الْعَمَلِ الصَّالِحِ وَالْخَيْرِ وَالْمُثَابَرَةِ عَلَى الطَّاعَةِ؛ لِأَنَّ اسْتِغْلَالَ الْوَقْتِ مَطْلُوبٌ شَرْعًا، وَإِنَّ اللَّهَ يَكْرَهُ الْعَبْدَ الْبَطَّالَ

Artinya: “Ayat ini merupakan dalil tentang tuntutan untuk terus-menerus melakukan amal saleh dan kebaikan serta bersungguh-sungguh dalam ketaatan; karena memanfaatkan waktu adalah sesuatu yang dituntut oleh syariat, dan Allah membenci hamba yang malas dan suka menganggur.” (Wahbah bin Musthafa az-Zuhaili, At-Tafsir Munir, [Damaskus, Darul Fikr: 1418 H], juz XXX, halaman 298).

Dengan demikian, seorang Muslim hendaknya senantiasa istiqamah dalam melakukan amal saleh dan kebaikan secara berkelanjutan.

Setiap kali satu kebaikan selesai ditunaikan, janganlah berhenti, tetapi segera lanjutkan dengan kebaikan berikutnya. Jangan biarkan waktu berlalu kosong tanpa amal yang bernilai dan bermanfaat.

Terlebih lagi pada momentum Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan, ketika pahala dilipatgandakan dan amal sunnah diberi ganjaran seperti pahala amal wajib.

Maka sungguh merugi orang yang menyia-nyiakan kesempatan emas ini tanpa memperbanyak ibadah dan amal kebajikan untuk mengapai ridha Allah.

Ustadz Muhamad Hanif Rahman, Dosen Ma’had Aly Al-Iman Bulus dan Pengurus LBM NU Purworejo.